Sejumlah santri membaca kitab kuning di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (13/4/2022). Ngaji kitab kuning selama Ramadhan tersebut merupakan tradisi di pondok pesantren itu yang bertujuan meningkatkan keilmuan di bidang agam | ANTARA FOTO/Patrik Cahyo Lumintu

Laporan Utama

Keteladanan Kunci Menanamkan Akhlak Mulia kepada Santri

Pembahasan tentang adab ada dalam berbagai sumber

Akhlak lahir dari kebiasaan. Kebiasaan datang dari pembiasaan. Pola ini paling efisien dalam membangun kebiasaan-kebiasaan baik sehingga digunakan di banyak pondok pesantren, termasuk di Pondok Pesantren (Ponpes) Darunnajah. Dari santri yang, misalnya, ketika di rumah tidak terbiasa bangun pagi, di pesantren dibiasakan bangun pagi.

"Meskipun berat di awal, tapi lama-lama jika terbiasa itu menjadi karakter dia. Pembiasaan tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Itulah mengapa pembentukan akhlak itu membutuhkan waktu yang relatif lama," kata Pimpinan Ponpes Darunnajah KH Hadiyanto Arief kepada Republika, Rabu (14/9).



Membangun kebiasaan membutuhkan waktu tahunan dan tidak bisa dicapai dalam waktu dua-tiga pekan atau bulanan. Termasuk juga membangun kebiasaan yang merupakan kunci kehidupan. Misalnya, kebiasaan dalam menyikapi masalah, yaitu dengan bersabar dan menahan emosi dalam kondisi apa pun. "Jadi, kebiasaan ini yang memang menjadi pola utama, tetapi bukan satu-satunya," ujarnya menerangkan.

Kiai Hadiyanto menjelaskan, pembiasaan merupakan proses penanaman nilai yang mendorong seseorang, dalam hal ini santri, agar mengulang-ulang tindakan sehingga tertanam dalam alam bawah sadar dan diamalkan sehari-hari. Alhasil, bangun pagi yang semula sulit dilakukan, menjadi mudah.

"Kalau ada kebiasaan buruk pada santri, itu disadarkan dan dihilangkan dengan macam-macam caranya. Secara umum, yang pasti nasihat kiai itu banyak sekali, dan diulang-ulang, terutama terkait dengan adab," ujarnya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Darunnajah Jakarta (@darunnajah_jakarta)



Pembahasan tentang adab ada dalam berbagai sumber, baik dari Alquran, hadis, mahfudzat, ataupun yang lainnya. Ini disampaikan tidak hanya di kelas, tetapi juga di berbagai kesempatan, seperti pada tausiyah setelah shalat. Proses penanaman akhlak mulia kepada santri tidak hanya dengan pembiasaan, tetapi juga dengan penyadaran.

"Jadi, memang tidak bisa dalam waktu singkat untuk mengubah kebiasaan. Juga dibantu dengan doa karena kiai itu siang-malam mendoakan santrinya, mendoakan tidak hanya keluarganya, tetapi juga seluruhnya, seperti guru dan para santri," kata Kiai Hadiyanto.

Sarana lain untuk melatih dan menanamkan akhlak kepada santri, kata Kiai Hadiyanto, yaitu dengan pengajaran agama terkait akhlak. Misalnya, pengajaran bahwa hubungan dengan Allah SWT dan manusia itu tidak bisa dilepas sehingga zikir dan shalat serta apa pun terkait wirid, itu merupakan sarana untuk melatih dan menanamkan akhlak mulia ke dalam diri santri.

"Tentu, dengan penguasaan bahasa Arab sehingga dia bisa menghayati dan meresapi serta memahami apa yang dia baca. Jad,i efeknya lebih dahsyat," katanya.

Namun, Kiai Hadiyanto menyebutkan, ada satu hal yang paling utama dan penting dalam pembentukan akhlak mulia, yaitu keteladanan. Untuk itu, ponpes tentu selektif dalam memilih para pengajar, guru, ataupun ustaz. Hanya mereka yang baik akhlaknya yang dipilih untuk mendidik sekaligus menanamkan akhlak mulia kepada santri.

Cara demikian dilakukan supaya para santri tidak hanya mendengar instruksi dan arahan, tetapi juga mampu meniru perilaku teladan yang ditunjukkan oleh para guru ataupun ustaz di ponpes. Meski begitu, Kiai Hadiyanto menekankan, pemberian keteladanan ini dimulai dari kiai. Inilah yang sulit diperoleh di lembaga pendidikan lain dan juga tergolong jarang pada era seperti sekarang ini.

"Kalau melihat guru di sekolah umum, belum tentu mereka total memberi keteladanan dalam kehidupan. Ini sangat penting. Jadi, sebelum memperbaiki akhlak orang lain, guru atau kiai harus memperbaiki akhlak mereka sendiri sehingga apa yang disampaikannya itu benar-benar berkah, terasa, memberi arti, meski sedikit," ujarnya menjelaskan.

 
Guru sekolah umum belum tentu total memberikan keteladanan kepada pelajar.
KH HADIYANTO ARIEF Pimpinan Ponpes Darunnajah
 

 

Cara lain ponpes dalam menanamkan akhlak mulia di ponpes, dengan memenuhi kegiatan santri dengan berbagai hal positif secara terstruktur. Dengan demikian, santri terbiasa menghabiskan waktu dengan hal-hal yang positif. Berbeda dengan lembaga pendidikan lain, ponpes menyibukkan murid dari jam 4 pagi sampai jam 10 malam, seperti di Ponpes Darunnajah ini.

"Tidak ada waktu untuk istirahat siang karena full dengan kegiatan yang memang kita arahkan ke kegiatan positif, seperti pengembangan bakat. Mereka tidak punya waktu kosong karena kalau anak muda kosong waktunya, tidak punya kemampuan, maka dia punya potensi untuk merusak dirinya sendiri. Jadi, tidak boleh kosong waktunya. Ini metode kita dalam memperbaiki akhlak," katanya menerangkan.

Namun, orang tua tetap memiliki peran yang strategis dalam memperbaiki akhlak anaknya. Sebab, orang tua adalah madrosatun ula (sekolah pertama) bagi anaknya sehingga mereka dituntut untuk menjadi teladan. Mereka pula yang pertama dilihat oleh anak-anaknya. Anak tidak hanya mendengar, tetapi juga melihat dan mencari keteladanan di rumah. Masalahnya, terkadang orang tua terlalu sibuk mencari nafkah dan mengabaikan pendidikan akhlak kepada anaknya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Darunnajah Jakarta (@darunnajah_jakarta)



"Apakah orang tua punya peran, jelas punya, dan ini dimulai dengan dirinya sendiri, dengan keteladanan, memberi contoh. Orang tua justru paling punya peran utama untuk memperbaiki akhlak anaknya. Bahkan, kiai sendiri tidak punya peran kalau tidak didukung oleh orang tua," tuturnya.

Misalnya, ketika ada santri yang nakal, dinasihati tidak ampuh, lalu dipanggil orang tuanya. Dalam proses ini, orang tua diberi pertanyaan tentang mengapa anaknya sulit menerima nasihat. Hingga pada pertanyaan terakhir yang diberikan adalah terkait masalah yang terjadi di rumah.

"Biasanya keluarlah masalah-masalah, 'oh iya pak kita broken home, ini sudah tidak ada ibunya'. Biasanya ada kasus-kasus seperti itu. Jadi, mengapa santri bermasalah, biasanya mereka, dan tidak jarang, memang mau mencari perhatian. Karena, mereka merasa dibuang," kata Kiai Hadiyanto yang mengisahkan ketika ada santri nakal dan sulit dinasihati.

Dalam kondisi demikian, persoalan tidak bisa diselesaikan kalau tidak melibatkan orang tua. Sebab, bagaimanapun harus ada kerja sama juga komunikasi antara ponpes dan orang tua.

"Di rumah itu justru orang tua paling bisa memperbaiki, dan terutama dengan keteladanan. Ini yang paling efektif, dan ini paling sulit memang karena butuh keistiqamahan yang luar biasa," ujar dia.

HR Rasuna Said, Singa Betina di Podium

Sejak kecil tertarik di dunia pendidikan Islam.

SELENGKAPNYA

Palu Arit di Takeran

“Pondok Bobrok, Langgar Bubar, Santri Mati!” Itulah yel yel PKI untuk melumpuhkan sejumlah pesantren di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kaum Muslim menjadi sasaran utama keganasan PKI.

SELENGKAPNYA

Sedia Saputangan Sebelum Hujan

Marsha mencoba menyelami bagaimana cara komunikasi pasangan suami istri yang sudah 11 tahun berjalan

SELENGKAPNYA