vp,,rm
Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

Menata Hati

Nabi Yusuf pandai dan visioner, juga cakap dalam menata hati.

OLEH IMAM NAWAWI

Manusia yang Allah sebut pengembaraan hidupnya sebagai kisah terbaik untuk umat manusia adalah Nabi Yusuf AS. Betapa tidak, ia bukan sekadar manusia pandai dan visioner, tetapi juga cakap dalam menata hati.

Setelah bertahun-tahun hidup menderita, lalu Nabi Yusuf menjadi seorang kepercayaan raja, yang karena itu menjawat posisi penting di negeri Mesir dirinya tak berubah menjadi manusia angkuh.

Bahkan, terhadap para saudaranya yang telah berbuat aniaya terhadap dirinya, yang datang dalam keadaan lemah serta tak berdaya, Nabi Yusuf justru membesarkan hati saudara-saudaranya yang begitu sering menzaliminya sejak belia.

"Dia (Yusuf) berkata: ‘Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang'.” (QS Yusuf [12]: 92).

Pertanyaanya, mengapa Nabi Yusuf tidak memilih membalas dendam dan mengusir saudara-saudaranya yang telah zalim kepadanya?

Bagi hati orang yang beriman, hidup ini adalah tentang bagaimana mengikuti petunjuk Allah Ta'ala. Bukan soal egoisme dan tentang balas dendam, apalagi menuruti hawa nafsu.

Memaafkan adalah amal yang paling Allah suka dari hamba-hamba-Nya. "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh." (QS al-A'raf [7]: 199).

Oleh karena itu, yang sangat penting dalam kehidupan dunia ini adalah bagaimana cakap dalam menata hati. Kita tahu ini bukan hal mudah, tetapi kita harus selalu sadar bahwa Allah memandang manusia hanya pada "perilaku" hati.

“Sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging yang jika baik, maka baiklah seluruh tubuhnya dan jika buruk, maka buruklah seluruh tubuhnya, ia adalah hati.” (HR al-Bukhari).

Lalu apa langkah yang kita perlukan agar diri komitmen dalam menata hati? Tidak ada cara lain kecuali mengenal sifat-sifat Allah.

Lihat kalimat Nabi Yusuf setelah mengatakan kepada saudaranya jangan mencela diri sendiri karena dosa yang telah diperbuat, "Dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang."

Dari teladan tersebut bisa kita ambil kesimpulan bahwa agar hati tenang dan tetap berorientasi pada kebaikan, harus ada pemahaman dan kesadaran bahwa hati ini harus dikondisikan selalu berjuang mengamalkan apa yang Allah perintahkan. Kemudian memahami dan mengamalkan makna dari nama-nama Allah yang menuntun diri menjadi pribadi yang baik, berakhlak, penuh kasih sayang dan pandai bersyukur.

Jika tidak, hati akan mudah terserang penyakit, lalu pkiran menjadi rusak dan perilaku berubah menjadi tidak berakhlak. Hidup selalu terjerembab pada dosa dan memperturutkan hawa nafsu. Oleh karena itu, sejak sekarang mari tekadkan diri menata hati lebih baik agar bahagia hadir dalam jiwa sekarang dan selamanya. Lebih jauh agar diri selamat dunia-akhirat.

Caranya adalah dengan tunduk dan patuh akan perintah Allah Ta’ala dan sadar bahwa kebaikan sejati manusia hanya ada dalam hati. Dan, itulah yang jadi fokus Allah dalam memandang kita semua.

Lulusan Ponpes Dinilai Semakin Kompetitif

Santri PKPPS jenjang Ulya mulai unjuk gigi dalam akses pendidikan tinggi

SELENGKAPNYA

Jangan Salahkan Hujan

Hujan yang dirindukan kini diumpat. Doa-doa yang terucap berubah menjadi makian. Patut kah kita berlaku begitu kepada sang hujan?

SELENGKAPNYA

Orientasi Memimpin

Sekurang-kurangnya ada tiga oreintasi pemimpin yang sejatinya melakat dalam diri.

SELENGKAPNYA