ILUSTRASI Air hujan menjadi perumpamaan untuk kehidupan dunia. Begitulah yang terkandung dalam surah Yunus ayat 24. | DOK PXHERE

Tuntunan

Jangan Salahkan Hujan

Hujan yang dirindukan kini diumpat. Doa-doa yang terucap berubah menjadi makian. Patut kah kita berlaku begitu kepada sang hujan?

OLEH ACHMAD SYALABY ICHSAN

Buliran air yang melimpah turun ke bumi. Dia di tunggu-tunggu. Panasnya kemarau yang datang berbulan-bulan membuat rindu kian tebal. Teduhnya hujan membuat tidur makin nyenyak tanpa berkeringat.

Hujan itu menjawab doa dalam shalat-shalat kita. Dia datang bak anak yang pulang setelah begitu lama pergi dari rumahnya. Namun, setelah datang beberapa pekan, hujan itu terkadang menyebabkan air sungai meluap. Banyak daerah di nusantara yang harus menderita banjir pada musim hujan ini. Belum lagi angin yang menyertai. Sampai-sampai atap rumah hingga mobil beterbangan.

Hujan yang dirindukan kini diumpat. Doa-doa yang terucap berubah menjadi makian. Patutkah kita berlaku begitu kepada sang hujan? Hujan merupakan bagian dari rahmat Allah yang turun ke bumi. Allah SWT berfirman dalam beberapa ayat-Nya dalam Alquran.

"Yang menjadikan untuk kamu, bumi sebagai tempat yang man tap dan Dia menjadikan untuk ka mu jalan-jalan di sana supaya kamu mendapat petunjuk. Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar. Lalu Kami hidupkan dengannya yang mati. Seperti itulah kamu akan dikeluarkan." (QS az-Zukhruf: 10-11).

Prof Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah menjelaskan, ayat di atas merupakan peralihan dari gaya persona ketiga pada firman-Nya ja'ala lakum, "Dia menjadikan untuk kamu ke persona pertama pada firman-Nya, Kami hidupkan dengannya." Pengalihan gaya itu agaknya untuk mengisyaratkan bahwa penumbuhan tumbuhan dan menghidupkan yang mati sungguh jauh lebih hebat daripada menurunkan hujan. Hal itu hendaknya menjadi perhatian dan renungan setiap orang.

Penegasan bahwa Allah menurunkan hujan secara bertahap dan dengan kadar tertentu mengisyaratkan bahwa turunnya hujan bukanlah secara otomatis tanpa pengaturan Allah SWT. Melainkan, Dia yang mengatur turunnya dan dengan kadar yang ditetapkan- Nya. Ini melalui hukum alam yang juga menjadi ketetapan-Nya dan atas dasar doa dan shalat Istisqa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Lebih jauh, Quraish menjelaskan, ayat 10 di atas menunjuk kan keesaan dan kuasa-Nya mencipta dan mengatur alam raya. Sedangkan, ayat 11 menguraikan kuasa-Nya mencipta kembali dan membangkitkan manusia sesudah kematiannya. Ini dengan mengurai tentang hujan yang bermula dari laut dan sungai, lalu me nguap ke udara dan kembali lagi ke bumi.

 
photo
Cendekiawan muslim Quraish Shihab menyampaikan paparan pada pembukaan Forum Titik Temu di Jakarta, Rabu (18/9/2019). Forum Titik Temu yang diprakarsai oleh Nurcholish Madjid Society, Jaringan Gusdurian dan MAARIF Institute For Culture And Humanity tersebut mengangkat tema Kerja Sama Multikultural untuk Persatuan dan Keadilan. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/pras. - (ANTARA FOTO)

Dengan air yang turun itu, Allah menghidupkan tanah yang tadinya tandus. Quraish pun menyimpulkan kedua ayat tersebut mengisyaratkan dua prinsip pokok keimanan, keesaan Allah dan keniscayaan kiamat. Dua rukun ini disebut kerap mewakili rukun iman lainnya.

Allah SWT memaparkan bukti-bukti kekuasaan-Nya pada hujan dalam ayat lainnya. "Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohonpohon dan biji-biji tanaman yang dituai, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun un tuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba, dan Kami menghidupkan dengannya tanah yang mati. Seperti itulah kebangkitan." (QS Qaaf: 9).

Kali ini, yang diuraikan ada lah beberapa dampak yang diperoleh dari penciptaan langit dan bumi, yakni air hujan yang ber sum ber dari laut dan sungai yang terhampar di bumi. Air itu pun me nguap ke angkasa akibat panas matahari.

Dari sini, Allah SWT menyebutkan karunia-Nya kepada makh luk-makhluk-Nya dengan menurunkan air sebagai sumber kehidupan di pentas bumi ini. Ane ka tumbuhan, bunga-bunga an, buah-buahan, dan pohon yang dicontohkan yakni kurma nan tinggi. Dia menjulang ke atas bersama mayang yang bersusunsusun karena banyaknya zat buah yang ada di dalamnya. Semua itu untuk menjadi rezeki bagi ham ba-hamba Allah SWT.

Sambutlah hujan

Ketika Rasulullah SAW masih hidup, baginda kerap menyambut hujan. Nabi SAW pun segera per gi ketika melihat air yang meng alir. Dia bersabda, "Keluarlah kalian bersama kami kepada ini yang Allah jadikan ia suci-me nyucikan, lalu kita bersuci de ngannya, dan kita memuji Allah karenanya."

Begitu pula Umar bin Khattab ketika meng hadapi kemarau nan pan jang. Syahdan, ada seorang lelaki berkata kepada Khalifah Umar RA, "Hai Amirul Mu'minin, hujan telah lama tidak turun dan manusia berputus asa dari turunnya hujan." Maka Umar RA menjawab, "Kalian sebentar lagi akan diberi hujan," lalu ia membaca firman-Nya: Dan Dia lah yang menurun kan hujan sesu dah me reka berputus asa dan me nye barkan rahmat-Nya.

Imam Syafii berkata, ketika Umar bin Khattab RA melihat luapan air, dia mendatangi itu bersama para sahabatnya. Umar pun berkata, "Tidaklah seorang datang dari tempat datangnya, kecuali kami mandi dengannya."

Diriwiyatkan dari Ibnu Abbas RA, suatu ketika hujan turun dari langit. Dia berkata kepada para pembantunya. "Keluarkanlah tempat tidur dan tungganganku agar terkena hujan." Abu Jauza; berkata kepada Ibnu Abbas, "Ke napa engkau melakukan itu, yar hamukallah?" Ibnu Abbas menjawab, "Tidakkah engkau mem baca dalam Alquran "Dan Kami menurunkan dari langit air yang berkah!" Oleh karena itu, aku suka berkah itu mengenai tempat tidur dan tungganganku." Begitu banyak rahmat yang Allah turunkan lewat hujan. Tidak sepantasnya kita mengeluh.

Adanya banjir tak lepas dari kerusakan yang diperbuat oleh tangan-tangan manusia. Ber ton-ton limbah industri dan sampah rumah tangga masih ke rap mengalir ke sungai dan laut an. Pembabatan hutan di ganti dengan hotel dan vila mem buat air yang turun tak terserap ke bu mi. Belum lagi efek rumah kaca yang membuat bumi makin panas.

Tak heran, Allah SWT pun sudah mengungkapkan di dalam Alquran jika kerusakan yang di buat akan dirasakan oleh para perusaknya. "Telah tampak ke rusakan di darat dan di lautan aki bat perbuatan tangan (mak siat) manusia, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar me reka kembali (ke jalan yang be nar)." (QS ar-Rum [30]: 41). Maka, masih patutkah kita me nyalahkan hujan ketika musi bah datang? Jika iya, mungkin kita masih butuh kembali merenungi 31 ayat yang diulang-ulang dalam surah ar-Rahman. "Nikmat mana lagi yang kamu dustakan?" Wallahu a'lam

Lulusan Ponpes Dinilai Semakin Kompetitif

Santri PKPPS jenjang Ulya mulai unjuk gigi dalam akses pendidikan tinggi

SELENGKAPNYA

Orientasi Memimpin

Sekurang-kurangnya ada tiga oreintasi pemimpin yang sejatinya melakat dalam diri.

SELENGKAPNYA

Kemenkes akan Kawal Kesehatan Calhaj Sejak Dini

Skrining kesehatan terhadap jamaah haji perlu dikawal

SELENGKAPNYA