Peserta mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) dalam rangka Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2021 di Kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Jalan Dr Setiabudi, Kota Bandung, Selasa (13/4/2021). | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Kabar Utama

Aturan Baru Masuk PTN Resahkan Orang Tua

Aturan baru ini dinilai akan berdampak pada skema mengajar yang dilakukan guru-guru di sekolah.

PADANG – Perubahan aturan penerimaan mahasiswa baru masuk perguruan tinggi negeri (PTN) secara mendadak dinilai mempersulit persiapan siswa yang kini duduk di bangku kelas XII SMA sederajat. Para orang tua dari berbagai daerah berharap aturan baru itu tak langsung diterapkan pada tahun depan agar siswa dapat melakukan penyesuaian.

Salah satu orang tua siswa kelas XII di SMAN 3 Batusangkar, Tanah Datar, Sumatra Barat, Jamhur, mengatakan, anaknya selama ini sudah mempersiapkan diri untuk masuk perguruan tinggi dengan skema lama. Dengan adanya perubahan aturan masuk PTN, menurut dia, semua persiapan yang dilakukan anaknya akan turut berubah.

“Semua akan berubah, buku beli lagi, skema belajar berubah lagi. Bisa jadi nanti pilihan jurusannya untuk perguruan tinggi bisa berubah,” kata Jamhur di Tanah Datar, Senin (12/9).

Menurut Jamhur, seharusnya pemerintah lebih dulu melakukan sosialisasi sebelum mengambil kebijakan penting. Menurut dia, memasuki perguruan tinggi merupakan pintu bagi seorang anak untuk menentukan masa depan. Salah pilih dan salah persiapan bisa berakibat buruk untuk masa depan anak.

photo
Skema Baru Masuk PTN - (Kemendikbudristekdikti)

Jamhur menilai, selain menyulitkan siswa, aturan baru ini juga akan berdampak pada skema mengajar yang dilakukan guru-guru di sekolah. Sebab, kata dia, guru-gurulah yang paling bertanggung jawab untuk membekali para siswa menghadapi seleksi perguruan tinggi. “Guru-guru pasti akan menyesuaikan juga,” ucap Jamhur.

Sofiari, orang tua siswa kelas XII di SMA 1 Padang Panjang, Sumatra Barat, berharap pemerintah menunda perubahan aturan penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi. Sebab, semua sekolah sejak awal tahun ajaran 2022-2023 sudah melakukan serangkaian pembelajaran yang berpatokan pada seleksi mahasiswa dengan aturan lama.

“Harusnya diubah mulai tahun depan (tahun ajaran 2023-2024). Supaya sejak awal tahun, sekolah sudah menyesuaikan metode belajar dengan aturan yang baru itu,” ucap Sofiari.

photo
Peserta duduk dilantai mengerjakan soal saat mengikuti ujian Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) Perguruan Tinggi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) tahun 2012 di Asrama Haji, Banda Aceh, Selasa (19/6/2012). - (FOTO ANTARA/Ampelsa)

Salah satu orang tua dari peserta didik kelas XII di SMAN 7 Kota Yogyakarta, Deassy Marlia Destiani, mengatakan, perubahan tersebut dinilai terlalu mendadak jika diterapkan pada 2023. Dia meminta agar perubahan skema tersebut dapat diundur. Menurut dia, perubahan skema seleksi masuk PTN ini terlalu mendadak mengingat peserta didik hanya memiliki sekitar enam bulan untuk melakukan persiapan.

“Tolong bikin kebijakan tidak mendadak dalam satu semester itu. Dalam satu semester dibuat regulasinya dan diterapkan di semester yang sedang berjalan. Ini terlalu mendadak,” kata Deassy kepada Republika.

Terlebih, ia mengaku sudah mengeluarkan biaya besar untuk bimbingan belajar (bimbel) anaknya karena tes seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN) sebelumnya menggunakan materi dari banyak mata pelajaran. Sedangkan, aturan baru menghapus tes kemampuan akademik (TKA) dan menggantinya dengan memasukkan tes potensi skolastik (TPS).

“Kita sudah berkorban memasukkan anak ke bimbel dan tidak murah, puluhan juta masuk ke situ dengan harapan anak bisa masuk ke PTN sesuai yang diharapkan. Tapi, di tengah jalan, sudah bayar, sudah mencicil, bela-belain buat anak, ternyata sekarang (skema diubah) begitu,” ujar Deassy.

Menurut dia, jika aturan tersebut tetap diterapkan di 2023, anak hanya akan menjadi korban dari kebijakan yang belum matang. Sebab, tidak semua anak maupun sekolah siap dengan perubahan tersebut. Setidaknya, kata Deassy, perubahan skema tersebut dapat diterapkan pada 2024. Dengan begitu, ada waktu bagi anak maupun sekolah, bahkan orang tua, untuk melakukan persiapan.

“Kalau memang regulasi ini mau dijadikan sebuah kebijakan, jangan di tahun ini. Kan semester ini sudah berjalan. Kalau bisa, di 2024 baru dipakai, biarkan anak-anak ini sekarang belajar dengan baik dan tenang sesuai dengan kurikulum yang ada sekarang,” ujarnya.

Selain itu, Deassy juga menekankan agar adanya sosialisasi yang masif sebelum perubahan skema tersebut diterapkan. Ia juga mengaku kecewa karena belum melihat ada sosialisasi yang masif, terutama ke peserta didik dan orang tua, sehingga masih banyak yang tidak paham dengan perubahan skema itu.

“Sosialisasi dulu, guru-guru di sekolah disiapkan dulu, anak disiapkan dulu mentalnya, baru ini digunakan. Ini belum apa-apa, sudah dipakai. Belum disosialisasikan dan anak saya sudah bimbel dan mereka jadi kecewa, secara mental psikologis juga kena,” ujar dia.

photo
Peserta bersiap untuk mengikuti pelaksanaan UTBK seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) di UPN Veteran Jakarta, Pondok Labu, Jakarta, Selasa (17/5/2022). - ( ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/YU)

Sementara itu, Musta’in, orang tua siswa kelas XII Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di Jawa Timur, memasrahkan semuanya kepada anaknya. Dia memutuskan untuk percaya kepada anaknya dalam memilih ketiga jalur tersebut untuk mencapai program studi, fakultas, serta universitas impiannya, selama yang dipilih oleh anaknya itu hal yang baik.

“Kita sebagai orang tua tinggal mengikuti arus anak. Jadi, maunya ke mana? Kalau mampu, segigihnya saya kasih kesempatan yang seluas-luasnya. Jadi, kita sebagai orang tua tinggal ikut program anak, asal itu baik,” ujar Musta’in.

Karena itu, dia mempersilakan anaknya untuk mengikuti ketiga jalur seleksi yang ada, mulai SNMPTN yang kini menjadi seleksi nasional berdasarkan prestasi, SBMPTN yang kini menjadi seleksi nasional berdasarkan tes, dan jalur mandiri oleh PTN.

Dia mengatakan, anaknya kini tengah mengikuti bimbel. Meski terdapat perubahan skema pada SBMPTN, yakni yang diujikan hanya TPS saja dan tidak ada lagi TKA, dia akan tetap membiarkan anaknya mengikuti bimbel yang sudah berjalan agar dapat mempersiapkan diri lebih baik lagi.

Materi Pembelajaran tak Berubah

Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DI Yogyakarta memastikan aturan baru masuk perguruan tinggi negeri (PTN) tidak akan mengubah materi pembelajaran yang sudah ada. Materi pembelajaran di sekolah akan tetap sama dengan yang sedang berjalan saat ini.

“Kalau pembelajaran di sekolah kan sekarang ini kurikulum 2013 masih ada, kurikulum yang kemudian mengembangkan kurikulum mandiri dengan kurikulum yang baru itu secara mandiri juga ada, dan yang sebagai sekolah penggerak juga ada,” kata Kepala Disdikpora DIY, Didik Wardaya, kepada Republika di Yogyakarta, Senin (12/9).

Didik menilai, tidak perlu dilakukan perubahan dalam materi pembelajaran di sekolah. Menurut dia, perubahan aturan seleksi masuk PTN hanya menghapus tes kemampuan akademik (TKA) dan diganti dengan memasukkan tes potensi skolastik (TPS). Namun, dia menyatakan akan ada perubahan proses pembelajaran.

photo
Warga menunjukan pengumuman hasil SBMPTN LTMPT 2022 di Jakarta, Kamis (23/6/2022). Sebanyak 192.810 peserta dinyatakan lolos seleksi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) melalui jalur SBMPTN 2022 atau sebanyak 24,07 persen dari total 800.852 pendaftar. - (Republika/Thoudy Badai)

“Saya kira tidak perlu (ada perubahan), dan itu kan masalah kebiasaan saja. Yang diubah proses pembelajarannya, bukan materinya, melainkan proses pembelajaran,” ujar Didik.

Dia menyambut baik perubahan skema seleksi masuk PTN. Disdikpora DIY, menurut dia, menyebut akan melakukan perbaikan dalam proses pembelajaran di sekolah. Meskipun begitu, Didik tidak menjelaskan secara perinci perbaikan yang akan dilakukan dalam proses pembelajaran.

“Cukup jelas disampaikan Pak Menteri (Nadiem Makarim), kemudian bagaimana kita menyikapinya, salah satunya perbaikan dalam proses pembelajaran itu,” kata Didik.

Terkait dengan sosialisasi perubahan skema ini, Didik menyebut, belum disampaikan ke sekolah-sekolah. Untuk itu, pihaknya akan melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah terkait perubahan skema ini.

Didik mengaku sepakat dengan perubahan aturan seleksi masuk PTN, khususnya jalur SBMPTN yang berubah nama menjadi Seleksi Nasional Berdasarkan Tes. Menurut Didik, perubahan aturan tersebut memberikan peluang yang sama kepada seluruh calon mahasiswa.

Dia mengatakan, skema baru tersebut menghapus TKA dalam seleksi masuk PTN. Sementara itu, TKA diganti dengan memasukkan TPS yang berfokus pada pengukuran kemampuan penalaran dan pemecahan masalah. “Saya kira itu bagus, artinya memberi peluang yang sama kepada seluruh calon mahasiswa, terutama yang tes tidak menggunakan basis mata pelajaran. Saya kira itu bagus, suatu perkembangan,” kata Didik.

Rektor Universtas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, Jamal Wiwoho, menilai aturan baru masuk PTN lebih transparan dan akuntabel, khususnya untuk jalur mandiri. Hal tersebut karena masyarakat dilibatkan dalam proses pengawasan seleksi mandiri. Berbeda dengan sebelumnya, menurut dia, tidak ada transparansi pada jalur mandiri.

“Ada tambahan transparansi dan akuntabilitas serta ada masyarakat yang ikut dalam prosesnya untuk jalur mandiri itu,” kata Jamal. Dia pun menilai, kebijakan baru yang akan mulai diberlakukan pada 2023, tidak terlalu mepet untuk diterapkan.

Tim Khusus Dibentuk Atasi Kebocoran Data

Data-data yang dibocorkan Bjorka diklaim merupakan data yang bersifat umum.

SELENGKAPNYA

Yellen Prediksi Harga BBM di Amerika Naik

Minyak Rusia dibiarkan tetap mengalir ke pasar global untuk menjaga pasokan agar harga tetap terkendali.

SELENGKAPNYA

'RUU Sisdiknas Tunggu Keputusan DPR'

Proses penyusunan RUU Sisdiknas masih berada di tahap perencanaan.

SELENGKAPNYA