Tajuk
Pertaruhan Generasi
Perubahan pola seleksi masuk PTN ini merupakan pertaruhan besar bagi sistem pendidikan di Tanah Air.
Pola masuk perguruan tinggi negeri (PTN) berubah. Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem A Makarim meluncurkan transformasi baru seleksi masuk PTN. Setidaknya ada dua tujuan dari skema baru transformasi ini.
Pertama, guna menyelaraskan pembelajaran di jenjang pendidikan menengah dengan pendidikan tinggi. Kedua, memberikan kesempatan lebih adil ke peserta didik mengakses kuliah di PTN, tidak lagi tersekat karena faktor ekonomi orang tua siswa.
Perubahan terhadap tiga jalur seleksi masuk PTN diharapkan dapat mengakomodasi dua tujuan tersebut. Seleksi masuk PTN saat ini, yakni Seleksi Nasional Masuk PTN (SNMPTN), Seleksi Bersama Masuk PTN (SBMPTN), dan seleksi masuk jalur mandiri yang ditentukan PTN.
Perubahan terhadap tiga jalur seleksi masuk PTN diharapkan dapat mengakomodasi dua tujuan tersebut.
SNMPTN dikenal sebagai seleksi nasional berdasarkan prestasi siswa, SBMPTN seleksi nasional berdasarkan tes, dan jalur mandiri seleksi oleh masing-masing PTN. Yang berlaku sekarang, seleksi berdasarkan prestasi pada jurusan yang diambil saat di pendidikan menengah.
Pola ini, menurut Nadiem, punya kelemahan karena calon mahasiswa hanya menguasai mata pelajaran tertentu. Padahal, kunci sukses selepas kuliah salah satunya karena peserta didik punya kompetensi holistik dan lintas bidang.
Untuk itu, transformasi perlu dilakukan. Skema baru seleksi masuk PTN akan bertumpu pada nilai yang bagus semua mata pelajaran di jenjang pendidikan menengah. Penilaian didasarkan pada bobot minimal 50 persen untuk nilai rata-rata rapor semua mata pelajaran.
Pembobotan 50 persen lainnya diambil dari komponen penggalian minat dan bakat. Dua hal ini dimasukkan dalam pembobotan agar peserta didik terdorong mengeksplorasi minat dan bakatnya lebih mendalam.
Untuk itu, transformasi perlu dilakukan. Skema baru seleksi masuk PTN akan bertumpu pada nilai yang bagus semua mata pelajaran di jenjang pendidikan menengah.
Diharapkan dengan metode ini, peserta didik memahami semua mata pelajaran penting. Mereka juga diarahkan membangun minat dan bakatnya hingga berprestasi. Peserta didik dengan sendirinya mendalami ilmu yang diminati, tanpa menanggalkan pengetahuan lain.
Pola baru seleksi masuk PTN yang digagas Kemendikbudristek berikutnya adalah SBMPTN. Mata pelajaran yang dites saat seleksi didasarkan pada pengukuran kemampuan penalaran dan pemecahan masalah.
Saat ini, soal yang diujikan melalui jalur SBMPTN terdiri atas banyak mata pelajaran. Menurut Nadiem, pola ini secara tak langsung menurunkan kualitas pembelajaran. Peserta didik yang kurang mampu memiliki peluang lebih kecil masuk jalur ini.
SBMPTN ke depan tak lagi berfokus pada ujian mata pelajaran, tapi tes skolastik. Ada empat ukuran yang dinilai: potensi kognitif, penalaran matematika, literasi dalam bahasa Indonesia, dan literasi dalam bahasa Inggris.
Peserta didik yang secara ekonomi kurang mampu pun tetap memiliki peluang yang sama lolos seleksi.
Saat ini, soal yang diujikan melalui jalur SBMPTN terdiri atas banyak mata pelajaran. Menurut Nadiem, pola ini secara tak langsung menurunkan kualitas pembelajaran.
Sebab, pola bimbingan belajar berbayar memungkinkan siswa mampu mendapatkan tips dan trik mengakali soal SBMPTN. Namun, karena orang tuanya tak mampu mengikutkan bimbel akibat ketiadaan dana, peluang mereka menjadi berkurang untuk lolos SBMPTN.
Adapun transformasi pada seleksi masuk PTN via jalur mandiri diminta mendikbud lebih transparan, sebelum dan setelah pelaksanaan seleksi. Keterbukaan ini terkait beberapa hal, seperti kuota mahasiswa prodi dan fakultas, metode penilaian, dan rentang besaran biaya atau metode penentuan biaya bagi calon mahasiswa yang lulus seleksi.
Kasus rektor Universitas Lampung terkait seleksi penerimaan mahasiswa baru jalur mandiri mesti menjadi pembelajaran. Pengawasan seleksi mandiri diharapkan lebih transparan dan akuntabel dengan mendasarkan pada seleksi akademis, tak lagi faktor komersial.
Perubahan pola seleksi masuk PTN ini merupakan pertaruhan besar bagi sistem pendidikan di Tanah Air. Sudah bertahun-tahun pola seleksi masuk PTN, juga pembelajaran di jenjang pendidikan menengah berlaku seperti selama ini.
Perubahan pola seleksi masuk PTN ini merupakan pertaruhan besar bagi sistem pendidikan di Tanah Air.
Akankah transformasi yang digagas Nadiem ini efektif menciptakan dan membangun generasi Indonesia masa depan yang unggul, kompetitif, dan berkualitas dalam menghadapi persaingan global? Apakah perubahan sistem pada jenjang pendidikan menengah dan seleksi masuk PTN ini bakal menelurkan generasi berkualifikasi standar internasional?
Jangan sampai perubahan sistem pendidikan hanya karena ingin berbeda dengan pendahulunya. Tidak masalah jika otak-atik itu berurusan dengan barang jualan, seperti makanan atau kendaraan. Jika bermasalah dengan produknya, tinggal dikoreksi, jadilah produk baru yang lebih baik.
Namun, dalam konteks ini yang diganti terkait pendidikan SDM. Perubahan akan berdampak jangka menengah hingga panjang dan hasilnya baru terlihat dalam kurun generasi. Kita berharap 'eksperimen' ini tak sekadar coba-coba, tapi disertai riset dan survei yang matang.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
Pemberontakan PKI dan 'Wild West' di Solo 1948
Tanggal 7 Desember, markas besar TNI mengumumkan pemberontakan PKI telah ditumpas.
SELENGKAPNYAR20 Diharap Atasi Masalah Sosial Keagamaan Global
Majelis Ulama Indonesia mengapresiasi penyelenggaraan R20
SELENGKAPNYAPupuk Indonesia Perkuat Budaya Inovasi
Pupuk Indonesia Grup menciptakan inovasi yang berpotensi memberikan nilai tambah Rp 723 miliar bagi perusahaan.
SELENGKAPNYA
