Pengembang blockchain (ilustrasi) | Pixabay/Geralt

Inovasi

Ekosistem Blockchain Mulai Tumbuh Subur

Sekitar 2,8 persen populasi dunia sudah mulai menjadi pengguna teknologi blockchain.

Di dunia teknologi, blockchain adalah istilah yang populer. Secara global, perkembangan blockchain sebenarnya terus bergulir.

Dikutip dari Digitalinformationworld.com, Selasa (23/8), pada 2021, berbagai perusahaan telah menghabiskan biaya hingga 6,6 miliar dolar Amerika Serikat (AS) untuk membeli berbagai solusi berbasis blockchain. Jumlah ini, diperkirakan akan meningkat menjadi 19 miliar dolar AS pada 2024.

Saat ini, sekitar 2,8 persen dari seluruh populasi dunia sudah mulai menjadi pengguna teknologi yang satu ini. Dimana, industri keuangan menjadi pemimpin dalam pemanfaatan teknologi blockchain.

Di Indonesia, sejak bulan lalu, Bank Indonesia telah mengumumkan tengah melakukan berbagai pengkajian untuk mulai merilis Central Bank Digital Currency (CBDC). Melalui CBDC ini, pemerintah berupaya menyediakan alat pembayaran digital yang minim risiko karena dikeluarkan oleh bank sentral.

Selain itu, CBDC juga memitigasi risiko non-sovereign digital currency dan memperluas efisiensi dalam sistem pembayaran, termasuk dalam pembayaran lintas batas. Di Tanah Air, mulai banyak pula perusahaan yang menawarkan solusi bisnis berbasis blockchain, salah satunya, Everscale.

Everscale adalah desain blockchain baru yang mengusulkan konsep komputer dunia terdesentralisasi terukur, dan kemudian dipadukan pula dengan sistem operasi terdistribusi.

Everscale berbasis platform yang disebut Ever OS, yang mampu memproses jutaan transaksi per detik. Lengkap dengan smart contract Turing-complete dan antarmuka pengguna yang terdesentralisasi.

Pengembang infrastruktur di jaringan Everscale, Sergey Shashev menjelaskan, di masa depan, diharapkan pihaknya akan dapat ikut ambil bagian dalam pengembangan CBDC. “Sederhananya kalau kita mendirikan teknologi CBDC, kita harus memulai dengan stablecoin. Tujuannya, adalah untuk membuat proses transfer antarlintas di negara menjadi mudah dilakukan,” ujar Shashev dalam kegiatan temu media di Jakarta, pekan lalu.

Di sisi lain, Everscale DeFi Alliance, Alexander Gladko mengungkapkan ada beberapa  kriteria yang harus dipenuhi oleh penyedia teknologi CBDC. Pertama, adalah teknologi yang diusung harus mampu memastikan keamanan data.

Kemudian, skalabilitas agar transaksi dapat dilakukan tanpa gangguan. “Jadi Everscale ini dirancang dengan sedemikian mutakhir teknologinya di mana mampu men-scaling up sebanyak 64 ribu transaksi per detik,” kata Gladko.

Menurutnya, jika dibandingkan dengan dengan teknologi yang digunakan dalam transaksi Bitcoin dan Ethereum, keduanya belum seprogresif Everscale dalam kemampuannya memproses transaksi dalam per detiknya. Everscale pun tak hanya berfokus pada pengembangan teknologi saja, tetapi juga berupaya membangun ekosistem yang lebih luas.

Gladko menyampaikan, dalam waktu dekat Everscale akan meluncurkan salah satu produk, yaitu stablecoin di salah satu negara di peninsula  Timur Tengah. Selain itu, Everscale juga telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Filipina untuk menggarap stablecoin yang dipatok ke Peso Filipina, pembuatan ekosistem produk kripto, termasuk dukungan transaksi berbasis QR, hingga pengenalan ATM kripto. 

Tren E-voting

Tak sebatas dapat digunakan di sistem moneter atau industri keuangan, teknologi blockchain juga melahirkan konsep e-voting atau pengambilan suara jarak jauh. Data yang dimiliki Polys.vote sebagai perusahaan penyedia solusi e-voting berbasis blockchain pada 2020 menunjukkan, jumlah sesi pemungutan suara daring ternyata mengalami peningkatan pesat.

Hal ini tak lepas dari hadinya pandemi dan pembatasan sosial yang memaksa orang untuk belajar dan bekerja dari rumah. Kini, meski situasi pandemi telah makin terkendali, perbandingan statistik Polys di 2020 dan 2021 membuktikan, jumlah jajak pendapat yang dilakukan ternyata tidak kemudian mengalami penurunan.

“Fakta bahwa jumlah sesi pemungutan suara tetap pada tingkat tinggi yang konsisten untuk waktu yang lama membuktikan, pengguna kami telah menganggap Polys tidak hanya sebagai solusi sementara selama masa pandemi, tetapi sebagai alat yang nyaman dan andal untuk serangkaian tugas yang beragam,” ujar Daniil Kaptsan selaku head of Polys.

Menurutnya, entitas pendidikan masih memimpin dalam jumlah volume penggunaan e-voting, disusul bisnis sebagai sektor teraktif kedua. Biasanya, para pengguna Polys banyak menggunakan solusi jajak pendapat untuk menentukan berbagai hal.

Di antaranya, pemenang kompetisi perusahaan, menyelesaikan pertanyaan terkait pekerjaan, memilih aktivitas team building terbaik, menyelenggarakan konferensi, hingga memilih tanggal yang tepat untuk kembali ke kantor. Pangsa pemanfaatan pemungutan suara e-voting berbasis blockchain, kini mulai juga dilirik oleh audiens baru, seperti komunitas gim, yang sebelumnya tidak termasuk pengguna Polys.

Para gamer, biasanya menggunakan platform e-voting untuk memilih komandan guild atau pemain terbaik, hingga memilih siapa saja yang bisa masuk dalam  tim mereka. Pada 2022, Polys telah terdaftar di antara vendor eDemocracy yang solid dalam Laporan Demokrasi Digital oleh Solonian Digital Democracy Institute selama dua tahun berturut-turut.

Para ahli mencatat, solusi antarmuka yang sederhana bersamaan dengan kemampuan untuk menjamin kerahasiaan jajak pendapat, menjadi salah satu faktor yang membuat konsep e-voting kini mulai banyak digunakan.

Pertumbuhan Talenta

photo
Dinamika bekerja di industri startup (ilustrasi) - (Pixabay/Startupstockphotos)

Pertumbuhan industri blockchain di Indonesia tampaknya terus bergeliat. Dampak positifnya, jumlah pertumbuhan pekerja di industri ini, juga terus meningkat.

Menurut laporan LinkedIn dan bursa kripto OKX, bertajuk “2022 Global Blockchain Talent Report”, pekerja yang ada di industri //blockchain// secara global telah meningkat sebanyak 76 persen dibanding 2021. Menariknya, Indonesia ternyata ikut masuk dalam daftar negara teratas yang memiliki pertumbuhan positif.

Dari segi pertumbuhan pekerja blockchain, Indonesia menduduki peringkat kedelapan untuk kategori ini, dengan tingkat pertumbuhan sebesar 43 persen. Posisi Indonesia tepat berada di bawah Bulgaria yang memiliki pertumbuhan 52 persen dan di atas Polandia dengan 24 persen dan Cina 12 persen.

Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo), Teguh Kurniawan Harmanda mengungkapkan, meski saat ini ekosistem blockchain atau cryptocurrency tengah berada dalam masa crypto winter, tapi pertumbuhan jumlah pekerja di industri aset digital tetap tumbuh.

“Dalam situasi industri blockchain di Indonesia saat ini, sedang terjadi bottleneck, di mana secara pertumbuhan bisnis sangat pesat, tapi ketersedian talenta terbatas,” ujar pria yang biasa disapa Manda ini, dalam keterangan pers yang diterima Republika, pekan lalu. Menurutnya, banyak pula usaha rintisan yang bergerak di bidang blockchain dalam negeri untuk berlomba mempekerjakan talenta terbaik.

Di sisi lain, Manda melanjutkan, menemukan talenta yang menguasai teknologi blockchain juga tak bisa dibilang mudah. Karena, blockchain adalah salah satu tren teknologi terpanas di dunia saat ini.

Tak cukup hanya mampu menguasai teknologi blockchain, ada pula prasyarat penting lainnya yang diperlukan di ekosistem teknologi yang satu ini. Yakni, menguasai tools dan regulasi.

“Kripto dan blockchain jelas merupakan industri yang sangat rumit yang membutuhkan keahlian khusus. Tapi, itu tidak berarti perusahaan harus membatasi diri pada rekrutmen yang sudah akrab dengan kripto atau aktif di dalamnya,” kata Manda.

Ia pun memberikan informasi mengenai posisi yang menjanjikan di industri blockchain untuk jangka waktu yang panjang. Salah satunya, adalah sebagai pengembang blockchain.

Profesi yang satu ini, kini sangat diminati terlepas dari perubahan masa depan kripto dan aset digital. Sementara, perusahaan blockchain, pastinya akan terus memanfaatkan keahlian mereka yang sekarang dapat diterapkan di berbagai industri.

Lebih lanjut, ada pula sejumlah keterampilan yang harus dipahami oleh para calon pekerja di industri blockchain, di antaranya memiliki pemahaman yang kuat tentang kriptografi dan prinsip-prinsip keamanan, serta pengetahuan yang cukup tentang teknologi smart contract

Meniti Jalan Kedaulatan Digital

Membangun kedaulatan digital adalah tugas bersama antara pemerintah dan masyarakat. 

SELENGKAPNYA

Orang-Orang Pilihan

Merekalah orang-orang cerdik, mempersiapkan bekal di hari yang panjang kelak.

SELENGKAPNYA