Oni Sahroni | Daan Yahya | Republika

Konsultasi Syariah

Adab Sebagai Notaris

Apa tuntutan dan adab sebagai notaris dalam transaksi sehari-hari?

DIASUH OLEH USTAZ DR ONI SAHRONI; Anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia

Assalamu’alaikum Wr Wb.

Mohon penjelasan ustaz terkait dengan aktivitas sebagai notaris. Dalam realitasnya pekerjaan notaris sangat dibutuhkan dalam beberapa transaksi sehari-hari. Seperti apa tuntunan syariahnya? -- Purwanto, Malang

Wa’alaikumussalam Wr Wb.

Mencatat utang itu harus dilakukan, khususnya saat utang piutang dalam jumlah besar. Sebagaimana Thahir bin ‘Asyur memilih pendapat yang mewajibkan mencatat utang karena rentan lupa akibat tidak dicatat.

Jika membayar utang itu wajib, mencatatnya wajib pula sebagaimana kaidah al-amru bi syai’in amru biwasailihi (perintah terhadap sesuatu juga perintah melaksanakan sarananya). Hal itu juga agar tidak lupa dan lalai membayar utang (sadd adz-dzari’ah) serta bagian dari adab debitur.

Saat ini, draf perjanjian sudah selesai disiapkan notaris sehingga para pihak tinggal membaca klausul yang disiapkan notaris dan memenuhi aspek legalitas. Oleh karena itu, peran notaris itu penting karena menuangkan klausul demi klausul dalam perjanjian yang menjadi sumber komitmen para pihak. Sah atau tidaknya sebuah perjanjian, pengetahuan notaris akan aspek syariah, dan komitmennya itu menjadi peran penting.

Menurut regulasi, di antara wewenang notaris, yakni membuat akta autentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan penetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta autentik ... (UU Nomor 2 2014 tentang Perubahan atas UU Nomor 30 2004 tentang Jabatan Notaris).

Karena peran strategis seorang notaris dalam menyiapkan akad yang sesuai dengan tuntunan syariah, harus ada adab-adab yang harus ditunaikan oleh seorang notaris, yaitu; pertama, notaris harus memenuhi kompetensi dan akhlak, di antaranya profesional, jujur, amanah, dan komitmen terhadap ketentuan syariah terkait.

Sebagaimana firman Allah SWT, “... Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar ... dan janganlah kamu jemu menulis utang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya .... Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan ...”. (QS al-Baqarah: 282).

Kedua, memastikan rukun dan syarat perjanjian beserta adab-adabnya masuk dalam klausul perjanjian/akad. Di antara ketentuan akad/perjanjian adalah akad jual beli harus dinyatakan secara tegas dan jelas serta dipahami dan dimengerti oleh penjual dan pembeli. (Fatwa DSN Nomor 110 tentang Jual Beli).

Dalam hal perjanjian jual beli murabahah dilakukan secara tertulis, dalam akta perjanjian harus terdapat informasi mengenai harga perolehan, keuntungan, dan harga jual. (Fatwa DSN Nomor 111 tentang Jual Beli Murabahah).

Misalnya, di antara ketentuan akad ijarah adalah, akad ijarah boleh dilakukan secara lisan, tertulis, isyarat, dan perbuatan/tindakan, serta dapat dilakukan secara elektronik sesuai syariah dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (Fatwa DSN Nomor 112 tentang Akad Ijarah). Misalnya, di antara ketentuan akad mudharabah adalah, mudharib dalam akad mudharabah tsuna'iyyah tidak boleh melakukan mudharabah ulang kecuali mendapatkan izin dari shahib al-mal. (Fatwa DSN Nomor 115 tentang Akad Mudharabah).

Ketiga, memastikan para pihak telah membaca dan paham isi perjanjian dan agar memitigasi cacat ridha karena tidak tahu hak-hak dan kewajibannya.

Keempat, memastikan para pihak adalah yang berkewenangan melakukan transaksi atau yang mewakilinya. Jika transaksi antara bank syariah dan nasabah yang menjadi contoh, kepala cabang atas nama bank syariah hadir langsung dalam perjanjian yang disaksikan oleh notaris.

Begitu pula nasabah yang mengajukan pembiayaan itu hadir menandatangani perjanjian atau bisa juga mereka yang diberikan kuasa secara langsung yang sah dan legal oleh para pihak tersebut.

Kelima, bersama para pihak menyertai perjanjian tersebut dengan doa dan komitmen bersama. Diawali dengan basmalah serta pengingatan ayat/hadis yang menegaskan komitmen terhadap perjanjian serta diakhiri dengan doa agar transaksinya berbuah keberkahan. Berharap dengan rangkaian ini perjanjian menjadi sakral dan sarat dengan nilai.

Wallahu a’lam.

Derita tak Menggoyah Ki Hajar Dewantara

Begitulah Ki Hajar. Dalam keadaan serba kekurangan di pengasingan, ia tetap dapat bersikap mandiri.

SELENGKAPNYA

Tuanku Imam Bonjol, Pejuang dan Pembaru Islam

Ia juga dikenal sebagai pencetus lahirnya falsafah hidup orang Minang.

SELENGKAPNYA