Branding baru ekonomi syariah yang diresmikan Presiden Joko Widodo. Logo ekonomi syariah. | KNEKS

Ekonomi

BSI Siap Rights Issue 6 Miliar Lembar Saham

Rights issue BSI dinilai akan menarik perhatian investor.

JAKARTA -- PT Bank Syariah Indonesia (BSI) siap melaksanakan penguatan modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue. Bank syariah terbesar di Indonesia tersebut akan menerbitkan maksimal 6 miliar lembar saham baru.

Dalam keterbukaan informasi yang diterbitkan pada Selasa (16/8), BSI akan menawarkan saham baru dengan nominal Rp 500 per saham. "Penerbitan saham baru akan dilakukan dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu sesuai dengan peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) mengenai penambahan modal," tulis pernyataan resmi BSI.

Perseroan akan menyampaikan pernyataan pendaftaran dalam rangka PMHMETD I kepada OJK setelah diselenggarakannya Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 23 September 2022. Dalam rapat tersebut akan disertakan agenda persetujuan rencana PMHMETD I.

photo
Direktur Utama Bank Syariah Indonesia Hery Gunardi (kedua kanan) secara simbolis menyerahkan bantuan renovasi lapangan bulu tangkis kepada Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir (kedua kiri) disaksikan Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy (kanan) di sela acara penandatanganan Nota Kesepahaman antara BSI dengan PP Muhammadiyah tentang pemanfaatan produk jasa dan layanan perbankan syariah di Gedung PP Muhammadiyah, Jakarta, Kamis (11/8/2022). - (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/tom.)

BSI akan mengumumkan pelaksanaan rights issue dengan menunggu persetujuan pernyataan pendaftaran perseroan oleh OJK yang diharapkan rampung pada kuartal IV 2022. Rencananya, BSI akan menggunakan seluruh dana rights issue untuk penyaluran pembiayaan dalam mendukung pertumbuhan bisnis perseroan.

"Perseroan sebagai salah satu institusi keuangan (perbankan) berdasarkan prinsip syariah di Indonesia, memiliki kinerja yang cukup baik di tengah pandemi Covid-19," ungkap BSI.

BSI saat ini berada di peringkat tujuh bank terbesar secara nasional sekaligus menjadi bank syariah terbesar di Indonesia. Seluruh indikator keuangan perseroan memiliki kinerja yang positif. Perseroan juga memiliki visi untuk menembus 10 besar bank syariah terbesar di dunia dengan aset Rp 500 triliun pada 2025.

Untuk mencapai aspirasi visi tersebut, BSI melakukan ekspansi pertumbuhan, baik secara organik maupun anorganik. BSI juga memproyeksikan pertumbuhan pembiayaan dengan compound annual growth rate (CAGR) atau tingkat pertumbuhan tahunan majemuk lebih dari 15 persen hingga 2025.

Untuk mendukung rencana tersebut, BSI membutuhkan tambahan permodalan agar capital adequacy ratio (CAR) dapat mencapai lebih dari 20 persen pada akhir 2025 atau tiga persen lebih tinggi dari CAR perseroan saat ini. Hal tersebut juga sesuai dengan rata-rata CAR 10 bank nasional terbesar di Indonesia.

Dengan rencana rights issue, BSI akan memiliki kecukupan modal yang baik dengan CAR lebih 20 persen dan penambahan profitability yang optimal bagi pemegang saham.

"Dalam hal pemegang saham tidak melaksanakan HMETD miliknya, persentase kepemilikannya atas perseroan akan terdilusi hingga sebanyak-banyaknya 12,73 persen," menurut keterangan BSI.

 
Rights issue BSI dinilai akan menarik perhatian investor. Saham baru yang diterbitkan BSI nantinya disebut layak dikoleksi.
 
 

Rights issue BSI dinilai akan menarik perhatian investor. Saham baru yang diterbitkan BSI nantinya disebut layak dikoleksi. Pengamat pasar modal Reza Priyambada menilai, kinerja BSI secara fundamental relatif baik dan dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi investor untuk menyerap saham baru.

"Pertimbangan pertama, kinerja BSI bagus. Artinya, secara fundamental ini perusahaan sehat," kata Reza.

BSI disebut membukukan pertumbuhan laba signifikan per Juni 2022. Mengutip dari paparan kinerja PT Bank Mandiri (Persero) Tbk selaku pemegang saham mayoritas, BSI membukukan laba Rp 2,12 triliun atau naik lebih dari 40 persen secara tahunan.

Selain itu, penyaluran pembiayaan BSI juga naik 18,5 persen (yoy) menjadi Rp 191 triliun. Dengan demikian, kata Reza, harga saham baru akan menjadi menarik karena lazimnya ditawarkan di bawah harga pasar yang berlaku.

Presiden: Jangan Ada Politik Identitas di 2024

Jokowi juga mengingatkan jangan ada lagi politisasi agama dan polarisasi sosial.

SELENGKAPNYA

Pemerintah Hitung Harga Baru Pertalite

Para menteri terkait masih menghitung berapa besaran angka kenaikan harga Pertalite.

SELENGKAPNYA

Anggaran Pendidikan Naik Jadi Rp 608,3 Triliun

Keseriusan daerah memprioritaskan bidang pendidikan harus diwujudkan dalam Neraca Pendidikan Daerah.

SELENGKAPNYA