Vaksinator menyuntikkan vaksin Covid-19 dosis keempat (booster kedua) ke seorang tenaga kesehatan di Rumah Sakit Mata Cicendo, Jalan Cicendo, Sumur Bandung, Kota Bandung, Senin (1/8/2022). | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Halaman 2

Strategi Menuju Merdeka dari Covid-19

Pandemi membuat sadar sistem kesehatan nasional butuh diperbaiki.

Oleh Lipsus HUT ke-77 Kemerdekaan RI

OLEH DIAN FATH RISALAH

Indonesia kini menjadi salah satu negara yang paling cepat beradaptasi dengan penyebaran Covid-19. Sempat babak belur pada awal penanganan virus pandemi dan dilanjutkan dengan amukan varian delta yang menghawatirkan, Indonesia berhasil menekan penyebaran virus hingga varian selanjutnya tak lagi mampu meneror.

Kemerdekaan dari virus mulai ditandai dengan hilangnya simbol merah di semua wilayah Indonesia, dan aturan kegiatan masyarakat kembali ke level 1 atau hampir normal. Tentu saja, capaian itu sekaligus menjadi kue istimewa dalam perayaan HUT ke-77 Republik Indonesia, pekan ini.

"Secara de facto kita sudah endemi sebenarnya, hanya declare-nya saja. Sedangkan status endemi sendiri sebenarnya ditentukan oleh WHO, bukan kita yang berhak menentukan," kata  Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy, Rabu (10/8).

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengakui, sempat ada tren kenaikan kasus Covid-19 dalam beberapa pekan terakhir lantaran adanya varian baru yang bermunculan. Mulai dari subvarian Omicron BA.4, BA.5 dan BA.275. Namun,  kondisi Indonesia masih jauh lebih baik karena kenaikan kasus tertinggi hanya di kisaran 6.000. Untuk ditahui, saat delta melanda pada Juni 2021, angka kasus harian di atas 50 ribu kasus. Saat ini, kasus kembali melandai.

"Kenapa kondisi kita lebih baik? Karena memang kita di bulan Januari-Maret (2021) itu vaksinasi gencar sekali sehingga teman-teman yang sudah ada antibodinya. Kemudian yang kedua, dibandingkan negara-negara lain masyarakat Indonesia relatif jauh lebih disiplin menggunakan masker," ujar Budi Gunadi, Selasa (9/8).

Pada Januari 2021, Covid-19 aktif memunculkan varian alpha. Varian pertama itu kemudian bermutasi menjadi Delta di Juli 2021. Pada awal tahun ini, SARS-CoV-2 bermutasi menjadi varian Omicron. Pada pertengahan Juni-Juli 2022, Omicron beranak pinak menjadi subvarian BA.4 dan BA.5 yang mengakibatkan negara-negara di Eropa, Amerika dan bahkan di Jepang, naik lebih dari 100 ribu kasus per hari. Berbeda dengan banyak negara itu, Indonesia tidak terlalu terpengaruh.

"Kenaikan kasusnya tidak setinggi negara lain. Negara lain pada saat Omicron naik di 50 ribu naik lagi BA.4 dan BA.5 ke 50 ribu bahkan ada 100 ribu," kata Budi

Salah satu strategi yang berhasil dilakukan Indonesia adalah melakukan percepatan vaksinasi Covid-19. Vaksinasi pada Januari-Maret berbuah sistem imun tubuh masyarakat yang cukup untuk menghalau virus.

photo
Vaksinator menyiapkan vaksin Covid-19 saat pelaksanaan vaksinasi dosis keempat (booster kedua) di Rumah Sakit Mata Cicendo, Jalan Cicendo, Sumur Bandung, Kota Bandung, Senin (1/8/2022). - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

"Imbauan saya ke teman-teman, menggunakan masker terutama di masa kenaikan kasus sekarang dan juga terus divaksinasi booster akan sangat membantu agar kasusnya melandai dan juga hospitalisasi dan kematiannya melandai," kata Budi.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito terus mengingatkan masyarakat perihal pentingnya perilaku mencegah Covid-19 dalam setiap aktivitas. Belakangan ini, kasus Covid-19 kembali meningkat di berbagai belahan dunia.

"Di tengah kondisi kasus yang kembali dinamis dalam beberapa pekan terakhir, Covid-19 mengingatkan kita kembali pentingnya konsisten mengendalikan peluang penularan secara bersama-sama," kata, pekan lalu.

Protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan(3M) harusnya menjadi perilaku keseharian dan sebagai bagian dari perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang normal. Namun, hasil pantauan kepatuhan secara nasional menunjukkan mulai ada kecenderungan sikap “setengah disiplin” dalam menjalankan 3M.

"Seperti hanya menjalankan 1 atau 2 aspek saja dari 3 aspek yang seharusnya tidak terpisahkan dari 3M," ungkapnya.

Ahli Epidemiologi Griffith University Australia, Dicky Budiman menyatakan, vaksinasi tetap menjadi cara ampuh agar gelombang kasus Covid-19 berikutnya bisa ditekan. Pasalnya, vaksinasi terbukti menurunkan risiko keparahan kematian dan memberikan durasi proteksi yang lebih lama saat terinfeksi kembali (re-infeksi).

"Terinfeksi (1 kali) saja itu parah. (Terinfeksi) lebih dari 2-3 kali tambah parah. Jadi jangan dianggap berkali-kali terinfeksi Covid-19 bagus, tidak. Makin buruk bahkan potensi long Covid-19 makin besar," tegas Dicky kepada Republika, Rabu (10/8).

Dicky mengatakan, saat ini Indonesia masih berada di gelombang empat Covid-19 yang puncaknya mungkin akhir Agustus atau September. Menurut Dicky, pergerakan menuju puncak Covid-19 varian BA.5 lebih lamban karena virus melalui orang yang sudah memiliki imunitas. Menurutnya, masa rawan di Indonesia akan berlangsung hingga Oktober tahun ini.

"Bukan berarti banyak kematian. Tapi kalau kita lemah testing, tracing, dan treatment (3 T), mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas (5 M), serta vaksinasi, pada gilirannya akan memakan jiwa kelompok paling rawan, seperti lansia, tenaga kesehatan," ujarnya.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku belajar banyak hal dari pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia selama 2,5 tahun terakhir. Menurutnya, pandemi Covid-19 membuka tabir yang selama ini tidak pernah terungkap, salah satunya di sektor kesehatan yakni sistem kesehatan nasional yang harus diperbaiki.

"Kita banyak sekali belajar dari pandemi 2,5 tahun ini, melihat bagaimana sistem kesehatan nasional kita, mana yang harus kita perbaiki, mana yang lamban yang harus dipercepat, sarana apa yang harus dibeli,\" kata Jokowi saat meresmikan Tower A dan B RSUD dr Soedarso di Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Selasa (9/8).

Menurutnya, sistem kesehatan nasional butuh diperbaiki dan ditingkatkan untuk dapat melayani seluruh masyarakat di Indonesia. \"Semuanya kelihatan, pada saat kita menderita memang jadi kelihatan semuanya, pada saat krisis kesehatan karena pandemi kelihatan semuanya, mana yang enggak benar kelihatan, mana yang lamban kelihatan, mana yang kurang kelihatan, inilah yang kita perbaiki,\" kata Jokowi. 

Omikron Mendominasi Sepanjang 2022

Dua setengah tahun setelah kasus pertama Covid-19 diumumkan di Indonesia pada 2 Maret 2020, penularan virus korona masih terjadi. Sepanjang tahun 2022, Covid-19 varian Omikron menjadi varian yang mendominasi.

Bank data influenza dunia, GISAID mencatat, perkembangan kasus Covid-19 varian Omikron (B.1.1.529) di Indonesia telah mencapai lebih dari 17.340 kasus, tertinggi di Asia Tenggara. Secara pekanan, kasus di Indonesia ini tumbuh 4,32 persen.

Dalam laporan GISAID menyebutkan, telah mendeteksi kasus Covid-19 Omikron di seluruh dunia dengan jumlah total mencapai 5,12 juta kasus. Jumlah varian Covid-19 tersebut naik dibandingkan pekan sebelumnya yang berjumlah 4,99 juta kasus.

Ahli Epidemiologi Griffith University Australia, Dicky Budiman menjelaskan, varian Omikron cenderung lebih bisa bertahan dan mendominasi di dunia dibanding varian Covid-19 lainnya. Adapun keunggulan dari varian Omikron adalah lebih cepat menular dibanding varian sebelumnya seperti Alpha, Delta, Kappa, dan lainnya.

Selain itu, varian ini juga memiliki kemampuan meloloskan diri dari antibodi atau sistem kekebalan tubuh manusia. "Kemampuan dia lebih kuat dibanding varian lain, untuk mensiasati antibodi, itu yang membuat dia bertahan, itu yang membuat dia mendominasi dalam perkancahan atau persebaran dari strain dari Covid-19 yang mengalahkan yang lain," ujar Dicky kepada Republika, Rabu (10/8).

Mutasi varian Omikron terbukti selalu berhasil menyebabkan lonjakan kasus Covid-19 di berbagai negara seperti BA.2, BA.3, BA.4 dan BA.5. Bahkan yang terbaru BA.2.75 serta BA.4.6. Meski begitu, sambung Dicky, bukan berarti varian Delta, Alpha hingga Kappa dipastikan sudah tidak ada.

Epidemiolog dari Universitas Airlangga, Windhu Purnomo mengatakan, pemerintah perlu lebih serius mewaspadai penyebaran subvarian Omikron, terutama pada kelompok risiko tinggi. “Nyaris semua dari mereka yang bergejala berat sampai kritikal, bahkan meninggal ketika tertular walaupun sudah divaksinasi lengkap, adalah punya komorbid, (seperti) ada yang autoimun, hipertensi, diabetes, dan lain-lain,” ujar Windu.

Ihwal penerapan protokol kesehatan, menurut Windu masyarakat mulai mengendur. Namun, kondisi kepatuhan masyarakat Indonesia masih lebih baik daripada negara lain.

Ketua Satuan Tugas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Zubairi Djoerban mengatakan, vaksinasi lengkap plus //booster// bukan jaminan seseorang tak akan terkena Covid-19. Menurut dia, subvarian baru Covid-19, khususnya Omikron BA.5, punya kemampuan menembus sistem imun.

"Imunitas itu memang tidak bisa ditembus oleh virus yang lama. Namun, bisa ditembus oleh varian baru (Omicron). Tapi, amat sangat sedikit yang kemudian bisa gawat, misalnya, pada usia lanjut yang disertai banyak penyakit yang lain,” jelasnya.

Zubairi menekankan, pencegahan penularan Covid-19 masih tetap mengandalkan 3M ditambah vaksinasi booster. Namun, ia berharap pemerintah kembali mewajibkan masyarakat untuk memakai masker saat berada ruang publik.

“Angka kematian yang cukup tinggi adalah alasan dari kita yang masih berhati-hati dan tetap pakai masker. Karena kita juga tidak tahu kapan akan terinfeksi Covid-19. Jangan jemawa," kata Zubairi.

 

Jangan Lupa Soal Kebersamaan

Para pendiri bangsa ini telah memberikan teladan untuk bahu-membahu, saling membantu menghadapi tekanan penjajah.

SELENGKAPNYA

Kejar Pengentasan Kemiskinan Ekstrem

Pemerintah memungkinkan menambah anggaran bansos PKH.

SELENGKAPNYA

Akselerasi Proyek demi Target Net Zero Emission

Indonesia akan meningkatkan porsi pembangkit EBT.

SELENGKAPNYA