Ustaz Dr Amir Faishol Fath | Republika

Khazanah

01 Aug 2022, 17:52 WIB

Hijrah Membangun Kemanusiaan

Peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW adalah kejadian yang sangat spektakuler.

 

DIASUH OLEH USTAZ DR AMIR FAISHOL FATH; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

Peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW adalah kejadian yang sangat spektakuler. Di dalamnya ada peta dakwah sekaligus jalan menuju kepemipinan baru Islam di Kota Madinah.

Sebelumnya, kondisi umat Islam di Kota Makkah dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Penyiksaan orang-orang kafir Makkah terhadap umat Islam sangat kejam. Tidak ada perikemanusiaan sama sekali.

Keluarga Ammar dibantai sampai mati syahid. Ammar sendiri mengalami penyiksaan yang sangat berat sehingga harus menyatakan diri murtad dari Islam karena terpaksa. Allah mengklarifikasi sikap Ammar bahwa ia masih beriman: “Illaa man ukriha wa qalbuhuu muthamainnun bil iimaan.” (QS an-Nahl: 106).

Bilal ibn Rabah disiksa dengan dibaringkan di atas hamparan padang pasir yang panas tanpa alas sama sekali. Lalu diletakkan batu panas di dadanya. Namun, Bilal tetap bertahan dengan keimanannya. Dari lisannya selama disiksa selalu terucap: “Ahadun ahad (Allah tunggal).”

Di Tan’im ada penyiksaan lain lagi, Khubaib dimutilasi hingga menjadi tumpukan potongan daging dan tulang hanya karena bertahan dalam keimanannya terhadap Rasulullah SAW.

Begitu terjadi hijrah ke Kota Madinah, suasana hidup umat Islam berubah total. Tampak pemandangan yang indah penuh persaudaraan, kedamaian, dan saling melengkapi dalam kehidupan. Allah turunkan surah al-Baqarah sebagai pemandu kehidupan bermasyarakat di Kota Madinah.

Karena itu, surah al-Baqarah diturunkan secara bertahap selama sembilan tahun sampai masyarakat Muslim Madinah menjadi kokoh. Semua aturan kehidupan sosial dipandukan dalam surah al-Baqarah. Karena itu di dalam surah al-Baqarah bukan hanya disebutkan rukun Islam, tetapi juga aturan politik, ekonomi, dan keluarga.

Secara praktik, Rasulullah SAW langsung mempersaudarakan antara muhajirin (orang-orang Islam yang hijrah dari Makkah) dan Anshar (orang-orang Islam Madinah yang menyambut kedatangan kaum Muhajrin). Dari proses persaudaraan in inampak kejadian yang sangat mengharukan.

Saad, seorang Anshar benar-benar menunjukkan persaudraan sejati kepada Abdurrahman bin Auf dari kalangan muhajrin. Saad menawarkan agar Abdurrahman mengambil separuh rumahnya yang ia sukai. Bukan hanya itu, Saad menawarkan agar salah satu istrinya dinikahi oleh Abdurrarahman dan Saad siap menceraikannya.

Peristiwa persaudaraan yang sangat dalam ini, direkam dalam Alquran: “Walladziina tabawwaud daara wal iimaan min qablihim yuhibbuuna man haajara ilaihim walaa yajiduuna fii shuduurihim haajatan mimmaa uutuu wayu’tsiruunna alaa anfusihim wa lau kaana bihim khashashah. 

(Orang-orang Anshar yang telah menempati Madinah dan telah beriman sebelum kedatangan Muhajirin, mereka mencintai orang-orang muhajirin dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang mereka berikan, dan mereka mengutamakan muhajrin atas diri mereka meskipun mereka juga memerlukan).” (QS al-Hasyr: 9).


Bagaimana Produk Dana Tunai Secara Syariah?

Terkait kebutuhan dana tunai, produk apa di bank syariah yang bisa digunakan?

SELENGKAPNYA

PLN Terus Bertransformasi

PLN menghemat dana Rp 10,85 triliun lewat optimalisasi proses digital.

SELENGKAPNYA

New York Status Darurat Cacar Monyet

Filipina melaporkan kasus pertama cacar monyet pada Jumat.

SELENGKAPNYA
×