ILUSTRASI Di antara persyaratan suami menjatuhkan talak adalah baligh, berakal waras, dan tidak dipaksa. | ANTARA FOTO

Fikih Muslimah

Talak oleh Suami yang Mabuk, Sahkah?

Di antara persyaratan suami menjatuhkan talak adalah baligh, berakal waras, dan tidak dipaksa.

 

OLEH IMAS DAMAYANTI

Agama Islam menetapkan suami sebagai pihak satu-satunya yang berhak menjatuhkan talak atau cerai. Hal itu dengan pertimbangan bahwa dialah yang selayaknya lebih berkeinginan dan berkepentingan akan keberlangsungan pernikahannya. 

Muhammad Bagir dalam kitab Muamalah dalam Alquran, Sunnah, dan Para Ulama menjelaskan, ditetapkannya talak tidak dipegang istri karena bukan si istri yang telah mengeluarkan banyak dari hartanya untuk pernikahan. Maka sekiranya suami hendak bercerai dengan istrinya yang sekarang dan ingin melaksanakan pernikahan setelah itu, dia harus memberikan uang mut'ah (ganti rugi) kepada istri yang dicerai. 

Tak hanya itu, suami juga harus memberikan nafkah baginya selama masa iddah dan sebagainya yang pasti menambah anggaran belanja. Di antara persyaratan suami untuk menjatuhkan talak atas istrinya adalah baligh, berakal waras, dan tidak dipaksa.

 
Di antara persyaratan suami untuk menjatuhkan talak atas istrinya adalah baligh, berakal waras, dan tidak dipaksa.
 
 

Jika si suami gila atau belum dewasa, atau melakukannya dalam keadaan di bawah ancaman, talaknya itu—apabila dia lakukan juga—dianggap tidak berlaku. Orang-orang seperti itu dianggap tidak mencukupi persyaratan untuk melakukan tindakan hukum. 

Hal itu berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW, "Pena (pertanggungjawaban) terangkat dari tiga kelompok manusia: dari yang dalam keadaan tidur sampai dia terjaga kembali, dari anak kecil sampai dia dewasa, dan dari orang gila sampai dia berakal kembali (yakni sembuh dari kegilaannya). 

Telah diriwayatkan pula bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, "Tidak akan dilakukan perhitungan atas umatku (yakni tidak akan dimintai pertanggungjawaban) berkenaan dengan perbuatan yang mereka lakukan karena kesalahan (yakni tidak sengaja) karena kealpaan atau karena paksaan." 

Ketiga persyaratan tersebut disepakati oleh para ulama. Namun, para ulama saling berselisih pendapat tentang sah atau tidaknya talak seorang suami dalam keadaan tertentu, misalnya suami yang dalam keadaan mabuk. 

Mayoritas ulama ahli fikih berpendapat bahwa talak yang dijatuhkan suami dalam keadaan mabuk dianggap sah dan berlaku. Mengingat bahwa rusaknya akalnya atau hilangnya kesadarannya adalah akibat kehendak dan perbuatannya sendiri.

 
Ada pula sebagian dari ulama yang menganggap bahwa talaknya itu tidak jatuh. Mengingat keadaannya disamakan dengan orang gila.
 
 

Walaupun demikian, ada pula sebagian dari ulama yang menganggap bahwa talaknya itu tidak jatuh. Mengingat keadaannya disamakan dengan orang gila yang talaknya tidak dianggap sah karena hilangnya akal atau kekurangan dalam kewarasan.

Seperti itulah pendapat Usman dan beberapa tokoh sahabat lain, juga salah satu dari dua pendapat Imam Syafi'i dan sebagian pengikutnya, seperti al-Muzani, juga sebagian pengikut Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Abu Hanifah, seperti at-Thahawi serta al-Karkhi. Sayyid Sabiq menyebutkan dalam Fikih Sunnah-nya bahwa dalam perundang-undangan peradilan agama di Mesir ditetapkan tentang tidak berlakunya talak dari orang mabuk dan yang dipaksa. 

Hati-hati dengan perceraian

Di sisi lain, dalam perkara cerai, meski Islam membolehkan hal demikian, ada baiknya sepasang suami-istri perlu menimbang kembali makna rumah tangga yang dijalani. Kesinambungan kehidupan suami-istri dan keluarga secara damai, harmonis, dan sejahtera merupakan tujuan utama syariat Islam yang sangat didambakan dan senantiasa wajib dipelihara dengan upaya yang sungguh-sungguh. 

Walaupun demikian, Allah SWT dengan kebijaksanaan dan keluasan ilmu-Nya mengetahui pula bahwa tidak semua perkawinan dapat berlangsung aman, damai, dan bahagia sebagaimana diharapkan. Adakalanya disebabkan karena perbedaan besar dalam watak kepribadian, pengalaman, serta intelektualitas masing-masing antara suami dengan istri. 

Atau bisa jadi disebabkan pula oleh pengkhianatan salah seorang dari mereka yang tidak bersungguh-sungguh dalam memelihara kesucian ikatan di antara mereka. Bahkan upaya mempertahankan rumah tangga dengan segala risiko justru akan mendatangkan mudharat jauh lebih besar, baik terhadap suami maupun istri atau salah satu dari keduanya, bahkan anak-anak mereka juga. 

Menurut Ibnu Sina dalam as-Syifa, sudah selayaknya dibukakan jalan keluar untuk perceraian. Mengingat bahwa upaya mengabaikan sama sekali semua penyebab keretakan hubungan suami-istri dapat mendatangkan mudharat lebih besar.

Di antaranya ialah kenyataan bahwa sebagian manusia memiliki watak dan kebiasaan tertentu yang menjadikannya tidak bisa hidup damai dan harmonis ketika berdampingan dengan sebagian yang lain yang memiliki watak dan kebiasaan bertentangan.

Hukum Menikahi Wanita Hamil karena Zina

Bagaimana hukumnya menikahi seorang wanita hamil karena zina?

SELENGKAPNYA

Wapres Terima Risalah Umat Islam untuk Indonesia Lestari

Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Nasaruddin Umar menekankan perlunya masjid menjadi tempat menanamkan kesadaran lingkungan hidup pada umat.

SELENGKAPNYA