Pejalan kaki mengenakan masker di Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Rabu (6/7/2022). Pemerintah kembali menerapkan status PPKM level 1 di wilayah Aglomerasi Jabodetabek setelah sehari sebelumnya berstatus PPKM level 2 diakibatkan kenaikan kasus Covid-19 varian | ANTARA FOTO/Budi Prasetiyo

Perencanaan

Tidak Panik Hadapi Situasi Pelik

Usaha membiasakan diri membelanjakan uang secara bija hanya untuk yang dibutuhkan.

OLEH ADYSHA CITRA RAMADANI 

Pandemi Covid-19 belum usai, tapi aktivitas masyarakat mulai berangsur normal. Arena konser hingga pertandingan olahraga di stadion sudah kembali disesaki oleh banyak pengunjung. Masyarakat bahkan bisa berangkat ke Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah haji. Situasi saat ini mungkin terasa jauh lebih baik daripada awal pandemi Covid-19. 

Meski demikian, tak bisa dimungkiri bahwa masih ada kekhawatiran mengganjal di hati masyarakat. Salah satu di antaranya adalah kekhawatiran atas munculnya varian Covid-19 baru yang lebih menular, seperti omikron BA.4 dan BA.5. Penambahan kasus pun terjadi belakangan ini di Indonesia.

Sementara itu, meningkatnya harga kebutuhan pokok masyarakat juga menjadi beban tersendiri bagi masyarakat. Terlebih ada kemungkinan risiko resesi yang bisa saja menghantam Tanah Air. "Wajar kalau itu jadi kecemasan masyarakat," ujar psikolog dari Psycoach Human Integra, Ine Indriani MPsi Psikolog, kepada Republika, pekan lalu.

Ine mengatakan, salah satu hal penting yang perlu dilakukan saat ini adalah tidak panik. Untuk mengurangi kecemasannya, ada beberapa hal yang bisa dilakukan, seperti berbagi cerita dengan orang terdekat. Kecukupan tidur perlu dijaga agar dapat membantu mengurangi rasa cemas dan menjaga suasana hati. "Kalau tidur kita baik, emosi kita jadi lebih enak." 

photo
Petugas Satpol PP mengimbau warga untuk menggunakan masker di area zebra cross yang dijadikan lokasi peragaan busana Citayam Fashion Week di kawasan Dukuh Atas, Jakarta, Rabu (27/7/2022). - (Republika/Thoudy Badai)

Kecemasan juga bisa diredam dengan menyiapkan diri terhadap situasi yang memicunya. Kecemasan terkait resesi, misalnya, dapat diredakan dengan mempersiapkan dan memperbaiki pengelolaan keuangan pribadi. Penting juga untuk membelanjakan uang untuk hal yang dibutuhkan, bukan sekadar yang diinginkan. "Perlu lebih bijak dan tidak impulsif," ujar Ine.

Hal senada juga diungkapkan oleh perencana keuangan Aidil Akbar Madjid. Aidil mengatakan, risiko resesi pun perlu dihadapi dengan tenang dan penuh persiapan. "Kalau resesi, kondisi menjadi sulit, kemungkinan ada inflasi, barang mahal, itu harus disiapkan," ungkap Aidil.

Persiapannya adalah dengan tidak membuat utang baru. Jika ada kebutuhan dana dalam jangka pendek atau menengah, sebaiknya dialokasikan ke dalam bentuk tunai atau yang bersifat likuid, seperti tabungan deposito. "Karena kalau misalnya suku bunga naik, biasanya saham akan turun, reksadana saham turun, reksadana campuran turun, reksadana pendapatan tetap akan turun," ujar Aidil.

Pegangan dana tunai atau setara itu bermanfaat karena mempersiapkan masyarakat bila terjadi sesuatu dan perlu dana cepat. Bagi mereka yang berprofil risiko tinggi, memiliki dana tunai atau setara tunai memungkinkan mereka untuk membeli saham atau reksa dana yang mengalami penurunan. Situasi saat ini juga perlu dipertimbangkan memiliki asuransi untuk kebutuhan pribadi.

Melihat tingginya harga kebutuhan pokok yang terus meningkat, Aidil menyarankan untuk tidak diikuti dengan perilaku panic buying. Menurut dia, tetaplah membeli barang sesuai kebutuhan, terlebih untuk barang yang mudah busuk atau memiliki masa penyimpanan yang singkat. 

Menghadapi tren peningkatan kasus Covid-19 saat ini, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito menilai masyarakat perlu waspada. Apalagi, kata dia, masyarakat sudah kembali beraktivitas seperti biasa. "Setiap individu harus ikut bertanggung jawab mencegah penularan," ujar Prof Wiku dalam Keterangan Pers Perkembangan Penanganan Covid-19, dua pekan lalu.

Wiku mengatakan, positivity rate pekanan pada pekan kedua Juli 2022 telah mencapai 5,12 persen. Angka tersebut sebenarnya telah melewati standar dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu 5 persen. Meski begitu, kata dia, kasus kematiannya tidak mengalami kenaikan signifikan. Per 12 Juli 2022, misalnya, jumlah kematian harian tercatat sebanyak delapan kasus. "Namun, angka delapan ini jangan dilihat sekadar angka. Karena masing-masing adalah nyawa seseorang dan tidak bisa kita abaikan begitu saja," kata dia.

Karena itu, dia mengimbau agar masyarakat tetap disiplin menjaga protokol kesehatan, seperti menggunakan masker dan rajin cuci tangan. Wiku berharap upaya-upaya ini bisa menjadi kebiasaan melekat di keseharian masyarakat.

Dia juga mengimbau agar masyarakat segera mendapatkan vaksin booster. "Sebagai upaya memastikan, kita semua tetap dalam kondisi yang sehat," katanya

The Beatles dan Razia Rambut Gondrong

Presiden pertama RI paling benci musik ngak-ngik-ngok yang dianggap bertentangan dengan budaya Indonesia.

SELENGKAPNYA

Semakin Banyak Pemuda Baca Maulid

Semakin banyak majelis yang mentradisikan maulid Rasulullah

SELENGKAPNYA

Sejak Dini Menghayati Keteladanan Rasulullah

Tradisi maulid membiasakan diri meneladani kehidupan Rasulullah SAW.

SELENGKAPNYA