Harga bahan bakar minyak yag meroket terpampang di SPBU Sunoco di Ohio Turnpike dekat Youngstown, Ohio, Selasa (12/7/2022). | AP/Gene J. Puskar

Teraju

31 Jul 2022, 08:00 WIB

Rentetan Masalah Global tak Berujung

Perekonomian global makin tak menentu karena setiap negara pun menghadapi banyak masalah.

OLEH RAKHMAT HADI SUCIPTO

Satu masalah belum usai, problem lain muncul. Krisis energi belum teratasi, krisis pangan muncul. Ekonomi satu negara terseok-seok, yang lainnya susul-menyusul. Akhirnya, banyak negara terancam bangkrut atau lebih tepatnya terancam tak mampu membayar utang mereka.

Krisis yang terjadi di Eropa Timur antara Rusia dan Ukraina belum mereda. Efek perselisihan kedua negara sudah merambat ke seluruh kawasan global. Apalagi, banyak negara yang terbukti sangat menggantungkan beragam kebutuhan vital dari kedua negara, terutama dari Rusia.

Perang Rusia dan Ukraina telah menghambat pertumbuhan ekonomi negara lain. Sanksi ekonomi terhadap Rusia yang berbuntut negara ini tak mampu melakukan distribusi minyak dan gas membuat negara-negara lain ke kawasan Eropa Barat terdampak. Jerman dan Inggris saja ternyata menjadi negara yang sangat bergantung pada pasokan gas Rusia. Mereka sangat membutuhkan pasokan gas dalam jumlah besar sebagai sumber energi untuk membangkitkan tenaga listrik.

Ternyata masalah demi masalah seperti berada di sirkuit balapan, saling menyusul. Masalah lama belum tertangani, lalu timbul problem lain. Tampaknya masalah di negara lain kerap menimbulkan efek berantai yang sangat panas.

Sanksi terhadap Rusia, misalnya, jelas membuat banyak negara Eropa Barat kekurangan gas. Efek ikutannya, harga gas di pasar global melambung tinggi. Jerman dan Inggris pun mencoba mencari solusi dengan mengganti gas dengan batu bara untuk membangkitkan tenaga listrik. Namun pasokan batu bara juga sempat tidak lancar, antara yang permintaan dan pasokan tak seimbang. Pasar komoditas batu bara pun terguncang.

Masalah makin pelik ketika muncul isu banyak negara yang terancam default. Isu terpanas terkait masalah ini menimpa Sri Lanka. Pemerintah Sri Lanka gagal mengelola ekonomi hingga terjadi gangguan stabilitas politik dan keamanan. Masalah politik memanas dan ekonomi tak berjalan.

Rakyat di Sri Lanka sudah tidak percaya lagi dengan para pemimpin mereka, terutama kepada presiden. Demonstrasi dan kerusuhan timbul di banyak tempat. Kondisi yang terus memanas ini memaksa terjadinya pergantian kepemimpinan di negara tersebut.

Ketika Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa diusir dari jabatannya oleh para pengunjuk rasa beberapa waktu lalu, pemerintahannya menjadi yang pertama di dunia yang jatuh secara dramatis oleh pukulan ganda pandemi dan dampak ekonomi dari invasi Rusia ke Ukraina.

Pemilihan penggantinya, Ranil Wickremesinghe, oleh parlemen ternyata tidak banyak membantu meringankan tekanan ekonomi yang membawa puluhan ribu warga Sri Lanka ke jalan-jalan di seluruh negeri.

Wickremesinghe, enam kali menjadi mantan perdana menteri, mewarisi negara yang bangkrut dengan ekonomi yang runtuh, dan sekarang menghadapi tugas yang berat. Negara itu gagal membayar utang luar negerinya senilai $51 miliar pada Mei 2022.

Antrean bahan bakar terjadi hingga kiloan kilometer, membentang di sepanjang jalan-jalan Kolombo. Inflasi makanan yang tinggi telah mendorong orang terperangkap ke dalam kemiskinan. Mata uang negara ini juga telah terdepresiasi sangat tajam.

Sri Lanka hanya satu dari puluhan kasus yang sama di berbagai negara. Di kawasan Asia Tenggara saja, ada negara yang menunjukkan sinyal serupa seperti Sri Lanka. Analis menunjuk ke arah Myanmar dan Laos.

Perekonomian global 2022 tampak makin suram karena Amerika Serikat juga menghadapi masalah serius. Amerika Serikat mencatat tingkat inflasi yang sangat tinggi. Bahkan, angkanya sudah masuk pada level hiperinflasi. Selama beberapa pekan angka inflasi di negara adidaya tersebut lebih dari sembilan persen. Tingkat inflasi sempat menurun, tetapi masih di atas delapan persen.

Dana Moneter Internasional (IMF) menyebut sebenarnya ekonomi AS tercatat telah pulih dengan cepat dari pandemi. Akan tetapi lonjakan permintaan di negara ini telah menekan rantai pasokan dan menyebabkan inflasi meningkat tajam. IMF memperkirakan ekonomi AS akan melambat karena Bank Sentral (Federal Reserve/The Fed) terus memperketat kebijakan moneter dan program bantuan ekonomi Covid-19 pun berakhir.

Keputusan ini ternyata membawa inflasi inti pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) turun ke target jangka menengah hingga angka dua persen pada 2022 hingga akhir 2023. Namun, jika inflasi lebih persisten dari yang diharapkan, The Fed perlu lebih memperketatnya lagi, yang selanjutnya akan memperlambat ekonomi secara keseluruhan.

 
photo
Pialang saham menatap layar di New York Stock Exchange di New York, Rabu (15/6/2022). Perekonomian di Amerika Serikat saat ini tengah mengalami turbulansi akibat berbagai faktor. - (AP/Seth Wenig)

Tinjauan tahunan IMF terhadap ekonomi AS berfokus pada kebijakan yang diperlukan untuk mengembalikan inflasi ke target jangka menengah The Fed. Sebagian besar upah pekerja gagal mengikuti inflasi, mengikis daya beli rumah tangga, dan menyebabkan kesulitan yang signifikan.

Meskipun kenaikan harga bensin dan makanan telah dipengaruhi oleh peristiwa global, harga barang-barang yang lebih luas juga meningkat dengan kuat, termasuk perumahan dan transportasi. Jika dibiarkan, kenaikan harga ini bisa berlangsung lama.

“Dalam penilaian, kami menyimpulkan bahwa the Fed harus bertindak cepat dan tegas untuk mengatasi inflasi dan memulihkan stabilitas harga,” ungkap Kristalina Georgieva, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laman resminya, beberapa waktu lalu.

Inggris terperosok

Negara-negara Eropa juga tak kebal terhadap lingkungan global. Di Inggris, misalnya, banyak menteri di bawah kendali Perdana Menteri Boris Johnson mengundurkan diri. Johnson pun telah mengumumkan mengikuti keputusan para pembantunya, meletakkan jabatan sebagai perdana menteri.

Sama seperti di AS, Inggris juga menghadapi isu kenaikan suku bunga. Bank of England menyebut, kenaikan suku bunga ini akan melemahkan ekonomi Inggris yang sudah berkembang pada laju paling lambat sejak mulai muncul dari penguncian musim dingin 2021.

Meskipun berkinerja sedikit lebih kuat dari zona euro, survei bulanan terbaru dari S&P Global/Chartered Institute of Procurement and Supply (CIPS) menunjukkan, baik sektor jasa maupun manufaktur Inggris berjuang untuk mengatasi meningkatnya tekanan biaya hidup.

Tekanan pada industri dari harga komoditas yang lebih mahal mengakibatkan kontraksi pertama output manufaktur sejak tahap awal pandemi pada Mei 2020.

Gubernur Bank of England Andrew Bailey mengemukakan, akan terjadi kenaikan setengah poin dalam biaya pinjaman yang kemungkinan terjadi pada Agustus 2022. Survei menunjukkan aktivitas sektor jasa turun dari 54,3 ke 53,3 pada Juni 2022, sementara manufaktur turun dari 50,3 ke 49,7. Indeks output komposit turun dari 53,7 pada Juni 2022 menjadi 52,8 Juli 2022.  Angka di bawah 50 menunjukkan kontraksi daripada ekspansi.

“Pertumbuhan ekonomi Inggris melambat hingga merangkak pada Juli, mencatat ekspansi paling lambat sejak penguncian awal 2021,” jelas Chris Williamson, kepala ekonom bisnis di S&P Global Market Intelligence, seperti dilaporkan the Guardian, beberapa waktu lalu.

“Meskipun belum menurun, dengan permintaan kendaraan yang terpendam dan layanan berorientasi konsumen, seperti perjalanan dan pariwisata, membantu mempertahankan pertumbuhan pada Juli 2022. PMI sekarang berada pada level yang konsisten dengan pertumbuhan PDB hanya 0,2 persen. Indikator berwawasan ke depan menunjukkan yang lebih buruk akan datang,” lanjut Williamson.

Jerman tak kebal

Bagaimana dengan Jerman? Ekonom Deutsche Bank memperkirakan ekonomi terbesar di Eropa ini akan menyusut sekitar satu persen pada 2023. Prakiraan telah berubah menjadi yang terburuk sejak Februari 2022 mengingat ketergantungan Jerman pada gas Rusia. Bloomberg juga mencatat ada penurunan pasokan gas alam dan penurunan di AS sebagai alasan masalah tersebut.

photo
Pialang saham menatap layar di New York Stock Exchange di New York, Rabu (15/6/2022). Perekonomian di Amerika Serikat saat ini tengah mengalami turbulansi akibat berbagai faktor. - (AP/Seth Wenig)

Ekonomi Jerman mengalami penurunan yang cepat karena aktivitas bisnis Jerman secara tak terduga menyusut pada Juli 2022. Euro melanjutkan penurunannya pada Jumat (22/7) dari level tertinggi lebih dari dua pekan karena data aktivitas mengecewakan dari Prancis dan Jerman mendorong mata uang tunggal ini masuk ke tingkat lebih rendah, sehari setelah Bank Sentral Eropa menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2011.

Pada Mei 2022, nilai impor Jerman lebih tinggi daripada ekspornya. Ini menjadi catatan sejarah baru bagi Jerman dalam tiga dekade terakhir. Defisit ini telah memecahkan rekor kemenangan Jerman sebagai "Exportweltmeister" atau juara ekspor global sejak reunifikasi negara tersebut.

"Ada risiko krisis ekonomi yang sangat serius. Kekhawatiran saya adalah bahwa dalam beberapa pekan dan bulan, kita bisa memiliki situasi yang sangat mengkhawatirkan," ujar Menteri Keuangan Jerman Christian Lindner, seperti dilaporkan Express.

Cina berjuang keras

Rebound ekonomi Cina mungkin menghadapi perjuangan berat. Ini bisa terjadi karena adanya tekanan dari sektor real estate dan frustrasi di industri perbankan. "Ekonomi Cina telah melambat dalam beberapa waktu terakhit," kata Craig Singleton, analis Foundation for Defense of Democracies. "Apa yang kita saksikan sekarang adalah perlambatan ekonomi yang cepat."

Para ekonom tampaknya tidak dapat memahami situasi ekonomi Cina saat ini. Data PDB menunjukkan perlambatan tajam pada kuartal kedua 2022. Namun, muncul indikasi positif dari pasar bursa Hang Seng yang mencapai level tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Analis pun berharap ini sebagai tanda-tanda pemulihan.

Larry Hu, kepala ekonom Cina di Macquarie, Australia, mengatakan ekonomi membaik, tetapi masih sangat lemah. Dia mengaitkan perjuangan dengan dampak penguncian yang diperpanjang selama pandemi dan kebijakan nol covid Cina hanya semakin memperumit masalah.

Pasar properti Cina mengalami hiper leverage. "Sektor properti Cina menyumbang 30 persen dari PDB sehingga penyimpangan kecil di pasar dapat berdampak besar pada produk domestik global Cina yang lebih luas." 

Perdana Menteri Cina Li Keqiang telah berbicara dengan 100 ribu pejabat untuk menyusun rencana 33 poin yang mencakup batas kredit sebesar 120 miliar dolar AS untuk proyek infrastruktur. Bank Dunia menyuarakan keprihatinan Cina akan beralih ke buku pedoman lama untuk mendorong pertumbuhan melalui infrastruktur yang dibiayai utang dan investasi real estate.

"Model pertumbuhan seperti itu pada akhirnya tidak berkelanjutan dan utang banyak perusahaan, dan pemerintah daerah sudah terlalu tinggi," tulis laporan Bank Dunia.

Analis senior Institut Gatestone Gordon Chang mengemukakan, kelemahan ekonomi Cina bahkan telah menciptakan gambaran yang meresahkan bagi Presiden Cina Xi Jinping saat ia mencari masa jabatan ketiga sebagai pemimpin. Xi mungkin mencoba berusaha sekuat tenaga untuk menunjukkan bahwa Cina tetap kuat secara internasional meski menghadapi beragam masalah domestik ini. 

Ketidakpastian perekonomian global tampaknya masih akan terus mengalir dan menimbulkan efek buruk pada setiap negara hingga akhir 2022 ini. Mudah-mudahan Indonesia bisa menghadapi dan melewati gelombang yang panas ini sehingga mampu menjalankan perekonomian sesuai rencana.

Bila mampu melewati titik merah pekat ini, ekonomi Indonesia akan bisa berjalan cepat dan sesuai harapan.


Perlu Regulasi Haji Furada

Adanya regulasi bisa memberikan perlindungan kepada jamaah dan PIHK.

SELENGKAPNYA

Persatuan Kunci Satu Abad Indonesia Emas

Ragam suku, agama, bahasa menjadi modal berharga untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.

SELENGKAPNYA
×