Menkopolhukam Mahfud MD (tengah), Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (kedua dari kiri), Rektor Universitas Islam Indonesia Fathul Wahid (kiri), Rektor UIN Sunan Kalijaga Musa Asyarie (kedua kanan), dan moderator Pemred Republika Irfan Djunaidi sebelum di | Wihdan Hidayat / Republika

Kabar Utama

Persatuan Kunci Satu Abad Indonesia Emas

Ragam suku, agama, bahasa menjadi modal berharga untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.

SLEMAN – Ragam suku, agama, hingga bahasa menjadi tantangan sekaligus modal berharga untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. Perbedaan yang ada itu justru akan menjadi kekuatan tak terhingga jika semua elemen bersatu dan bergerak bersama mewujudkan cita-cita yang telah digariskan para pendiri republik.

Optimisme itu menguar dalam ‘Dialog Kebangsaan: Imaji Satu Abad Indonesia’ yang diselenggarakan Universitas Islam Indonesia (UII) bekerja sama dengan Republika, di Auditorium Abdulkahar Mudzakkir, Selasa (26/7). Indonesia diyakini akan menjadi bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur saat berusia 100 tahun nanti.

“Kita bangun negara ini jadi negara yang bersatu dalam perbedaan. Kita berbeda, tapi bersatu untuk tujuan yang sama. Serta, terus memberikan kekuatan untuk menjaga keutuhan dan persatuan negara,” kata Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD, dalam diskusi tersebut, Selasa (26/7).

Guru besar hukum UII tersebut mengatakan, satu abad Indonesia pada 2045 kurang 23 tahun lagi. Di sisa waktu itu, ia yakin Indonesia mampu mengejar berbagai kekurangan yang ada saat ini untuk menjadi negara sesuai dengan apa dicita-citakan ketika pendiriannya pada 1945. Tetapi, menurut Mahfud, semua itu bisa tercapai jika cita-cita tersebut diikat dengan persatuan sesama anak bangsa dengan kuat.

photo
Menkopolhukam Mahfud MD memberikan paparan kunci saat dialog kebangsaan di Auditorium Abdulkahar Mudzakkir Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, Selasa (26/7/2022). - (Wihdan Hidayat / Republika)

Jika mengacu pada aturan formal, lanjut Mahfud, pada UUD 1945 tertuang bahwa Indonesia masa depan merupakan negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Untuk menuju Indonesia Emas 2045, ada dua peraturan presiden yang masing-masing ditandatangani Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Presiden Joko Widodo.

Dalam perpres itu dijelaskan bahwa pada 2045 Indonesia sudah harus menjadi Indonesia Emas yakni negara yang bersatu, maju, adil, dan makmur. “Merdekanya dilewatkan karena sudah merdeka, tetapi (sekarang) belum maju, belum betul-betul bersatu, belum betul-betul adil, makmur apalagi,” ujar dia.

Mahfud mengatakan, pemerintah sudah mengalkulasi semua untuk menuju satu abad Indonesia, termasuk apa yang akan terjadi pada 2045. Bahkan, polarisasi negara-negara dunia pun sudah bisa dipetakan.

Menurut studi-studi ilmiah, kata Mahfud, poros kekuatan besar dunia akan ada di Cina, Amerika Serikat, India, dan Jepang atau Indonesia. Pendapatan per kapita di Indonesia diproyeksikan sebesar 23.900 dolar AS pada 2045 dengan jumlah penduduk 306 juta jiwa.

Tak hanya itu, sumber daya alam, sumber daya manusia, pendidikan, kedokteran, pertanian, dan semua sektor yang ada pun sudah diproyeksikan. Sekarang, kata Mahfud, Indonesia sudah masuk G-20.

Pada 2045, Mahfud meyakini Indonesia akan masuk dalam lima besar dunia. “Ini akan terjadi manakala usaha-usaha kita itu dilakukan sungguh-sungguh,” kata mantan ketua Mahkamah Konstitusi tersebut.

Mahfud juga mengajak semua elemen mewujudkan pembangunan manusia serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pembangunan ekonomi berkelanjutan, pemerataan pembangunan, pemantapan ketahanan nasional, dan tata kelola pemerintahan juga menjadi perhatian pemerintah. “Tanpa itu kita tidak akan menuju Indonesia Emas,” ujar Mahfud.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor UIN Sunan Kalijaga 2010-2014, Prof Musa Asy’arie mengatakan, imaji bukan sebuah realitas. Semua sektor yang mau dibangun untuk visi Indonesia 2045 merupakan bagian dari manusia.

Menurutnya, sosial, ekonomi, politik, budaya, hukum, dan agama adalah bagian dari manusia. Karenanya, landasan imaji itu harus berlandaskan konsep manusia.

Musa menjelaskan, dulu dikenal konsep manusia seutuhnya. Kini, manusia serasa tidak utuh, dipecah berbagai fragmentasi. Maka, filsafat manusia atau pandangan hakikat manusia harus jadi bagian penting membangun imaji.

Indonesia, kata dia, memang sudah punya UU. Tapi, UU dan realitas masih berjarak sangat jauh. Ia mencontohkan, sampai sekarang koperasi masih jadi soko guru perekonomian nasional karena belum dihapus dari UUD 1945. Tapi, realitas koperasi Indonesia saat ini tak mencerminkan itu.

“Rasanya tidak ada koperasi yang hidup, kecuali koperasi simpan pinjam, dan itu SHU (sisa hasil usaha) koperasi cuma cukup untuk membeli bakso. Jadi, koperasi industri tidak ada,” kata Musa.

Jika realitas masih seperti saat ini, lanjut Musa, maka perundangan atau peraturan apapun akan memunculkan masalah. Padahal, ada sila kemanusiaan yang adil dan beradab yang bisa menjadi ukuran.

“Kita tidak boleh menyusun imaji Indonesia 2045 yang antirealitas, dan ini yang perlu didiskusikan lebih jauh, bagaimana realitas manusia Indonesia sebenarnya. Apakah masih manusia yang utuh atau manusia yang dibangun demokrasi kapital,” ujar Musa.

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf mengatakan, dalam demokrasi setiap orang memiliki hak aspirasi. Namun, ada tatanan untuk menyalurkan aspirasi itu. Sayangnya, hari ini ukuran kebebasan dan tatanan itu kerap kabur. 

photo
Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (tengah), Rektor UIN Sunan Kalijaga Musa Asyarie (kanan), dan moderator Pemred Republika Irfan Djunaidi saat dialog kebangsaan di Auditorium Abdulkahar Mudzakkir Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, Selasa (26/7/2022). - (Wihdan Hidayat / Republika)

Indonesia yang sudah memiliki banyak lembaga demokrasi tinggal mengembangkan lagi budaya demokrasi. Termasuk, atas kehadiran saluran baru bernama media sosial. Bahkan, Gus Yahya melihat, media arus utama menjadikan trending topic sebagai dasar kebijakan redaksi. Padahal, ia berpendapat, ketika semua itu dituruti, seluruh tatanan jadi tidak berguna. 

Gus Yahya menekankan, untuk mewujudkan Indonesia Emas tentu semua perlu berikhtiar. Ia percaya, Indonesia tidak mungkin mencapai cita-citanya kecuali dengan memperjuangkan peradaban dunia yang lebih baik dan peradaban dunia yang lebih mulia.

“Saya percaya Indonesia keramat, Indonesia dirahmati, Indonesia diberkahi Allah SWT. Sampai hari ini, Indonesia tidak pernah jatuh, tidak cuma sejak proklamasi, tapi sejak peradaban lebih awal, tidak mungkin kalau bukan berkah Allah SWT,” ujar dia.

Rektor UII Prof Fathul Wahid mengatakan, Indonesia yang cukup berumur ini seharusnya sudah mampu mewujudkan apa yang dicita-citakan pendiri bangsa. Dialog ini ingin mengajak semua elemen bangsa memikirkan bersama secara kolektif.

“Untuk memikirkan bersama secara kolektif, Indonesia berusia satu abad itu seperti apa, dan pekerjaan rumah apa saja yang masih belum tuntas yang perlu diselesaikan. Dialog kebangsaan ini kami harapkan ikut melantangkan ajakan itu,” kata Fathul. 

 
Indonesia tidak mungkin mencapai cita-citanya kecuali dengan memperjuangkan peradaban dunia yang lebih baik dan peradaban dunia yang lebih mulia.
 
 

Guna membumikan gagasan pembangunan tersebut, tentunya diperlukan fondasi yang kokoh, yakni persatuan. Kemudian, tantangan apa yang Indonesia hadapi mewujudkan pemerataan pembangunan. Ke mana arah Indonesia dalam pembangunan manusia dan penguasaan iptek, serta bagaimana potensi Indonesia dalam mewujudkan pembangunan ekonomi berkelanjutan.

“Semakin banyak anak bangsa yang bareng-bareng menjalankan peran yang saat ini dipunyai, kita kanalkan bersama-sama bagaimana kita menjadikan bangsa Indonesia yang lebih sejahtera, lebih adil, dan lebih bermartabat ke depannya,” ujar Fathul.

Pengorbanan untuk Pendidikan

Impitan ekonomi membuat tak semua anak mendapat kesempatan sama untuk pendidikan setara.

SELENGKAPNYA

Migrasi Amal

Ketika kita mampu bersabar maka pada saat itulah terjadi migrasi amal.

SELENGKAPNYA