Pedagang mengambil cabai rawit merah untuk ditimbang di Pasar Senen, Jakarta, Rabu (13/7/2022). | ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/rwa.

Kabar Utama

15 Jul 2022, 03:50 WIB

Benahi Tata Niaga Pangan

Harga sejumlah bahan pokok masih tinggi di sejumlah daerah.

JAKARTA -- Kenaikan sejumlah harga bahan pokok terjadi secara serentak belakangan ini sehingga menyulitkan masyarakat, pedagang, ataupun petani. Harga melonjak karena produksi terkendala akibat faktor cuaca yang tak menentu. Menurut kalangan petani, dampak faktor cuaca bisa diatasi dengan memperbaiki tata niaga pangan.

Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Said Abdullah menuturkan, naiknya harga komoditas pangan akhir-akhir disebabkan dua faktor utama, yaitu pergerakan harga global dan gangguan produksi dalam negeri. Harga pangan global naik akibat kenaikan harga energi imbas perang Rusia-Ukraina. Kondisi tersebut berimplikasi terhadap situasi dalam negeri, terutama komoditas yang memang dipenuhi dari impor, seperti gandum dan kedelai.

"Di satu sisi, produk pangan kita yang diekspor juga naik harganya, seperti minyak sawit, bahkan cenderung lari keluar karena harga lebih bagus," kata Said kepada Republika, Kamis (14/7).

photo
Pedagang mengambil cabai merah keriting untuk ditimbang di Pasar Senen, Jakarta, Rabu (13/7/2022). Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional, harga cabai merah keriting dan cabai rawit merah di DKI Jakarta selama sebulan terakhir meningkat dari kisaran Rp 90.000-Rp 116.500 per kilogram menjadi Rp 128.350 per kilogram (data terakhir 13 Juli 2022). - (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/rwa.)

Sementara situasi global masih fluktuatif, produksi pangan di Tanah Air dalam situasi kurang optimal. Said menuturkan, musim kemarau basah yang terjadi sejak awal tahun akibat perubahan iklim, berpengaruh pada tingkat produktivitas komoditas hortikultura, seperti cabai, bawang, dan sayuran, yang tidak tahan terhadap kondisi basah berkepanjangan.

"Ditambah, produksi pangan kita yang belum merata, sentra-sentra produksi masih terkonsentrasi di wilayah tertentu dan kita belum panen sepanjang waktu," kata Said.

Ia menjelaskan, produksi pangan di Indonesia belum merata karena belum adanya pengembangan yang mengarah kepada panen komoditas sepanjang waktu. Menurut Said, kegiatan produksi pangan pada dasarnya memang memiliki musim tertentu. Namun, situasi itu bisa diatasi jika tata niaga distribusi pangan, termasuk sistem pergudangan di Indonesia sudah berjalan optimal.

"Di negara lain memang panen rayanya juga musiman, tapi produksi mereka banyak dan distribusinya bagus sehingga merata sepanjang waktu. Itu yang belum terjadi di kita," ujar Said.

Kepala Badan Pangan Nasional, Arief Prasetyo Adi mengatakan, kenaikan harga bahan pokok erat kaitannya dengan produksi. Saat ini, produksi sulit dikendalikan akibat faktor cuaca yang tak menentu.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, menurut Arief, ada sejumlah hal yang perlu dilakukan pemerintah ke depannya. “Sehingga yang kita butuhkan sekarang adalah teknik penyimpanan, teknologi penyimpanan, dan bagaimana mendistribusikannya,” ujarnya di Bogor, Kamis (14/7).

Arief mengungkapkan, kenaikan harga bahan pokok juga disebabkan adanya kenaikan harga harga pupuk, sewa lahan, pestisida, dan pakan ternak. Namun, ia menyebut pemerintah sudah memberikan subsidi atau insentif kepada petani.

Sampai saat ini, harga sejumlah bahan pokok masih tinggi di sejumlah daerah. Namun, ada beberapa daerah yang melaporkan adanya penurunan harga cabai. Di Pasar Cikurubuk Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, misalnya, harga cabai merah dijual di kisaran Rp 100 ribu per kg.

photo
Pekerja menyiapkan ayam potong untuk pembeli di Kawasan Kalimalang, Jakarta, Rabu (13/7/2022). Dilihat dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN) harga daging ayam masih tinggi dan berubah-ubah saat ini harga daging ayam di pasar tradisional Jakarta berkisar Rp39.650 per kilogram. - (Prayogi/Republika.)

Salah seorang petani yang ditemui Republika di Pasar Cikurubuk, Iwan (46) mengatakan, naiknya harga cabai disebabkan banyaknya petani yang gagal panen. Pasalnya, saat ini masih sering terjadi hujan di wilayah Tasikmalaya. "Karena cuaca hujan terus, panen gagal, jadi pasokan sedikit," kata dia.

Iwan mengaku belum bisa memprediksi kapan pasokan cabai akan kembali normal. Hal yang pasti, menurut dia, saat ini para petani masih kesulitan untuk menanam cabai.

Sementara itu, harga cabai di sejumlah pasar di Kota Tangerang dilaporkan berangsur turun berdasarkan pantauan PD Pasar Kota Tangerang pada Kamis (14/7). Penurunan harga komoditas tersebut terjadi seiring dengan mulai melimpahnya pasokan karena kondisi cuaca yang mendukung.

Direktur Utama PD Pasar Kota Tangerang, Titien Mulyani mengatakan, harga cabai di Pasar Anyar turun dari Rp120 ribu per kilogram (kg) menjadi Rp 90 ribu per kg, cabai rawit merah turun dari Rp120 ribu menjadi Rp100 ribu kg, dan cabai rawit hijau turun dari Rp100 ribu menjadi Rp 85 ribu per kg.

"Begitu juga dengan pasar lainnya, seperti Pasar Malabar, Ramadhani, Bandeng, Pasar Laris, dan lainnya, semua terpantau berangsur turun dengan kisaran Rp 10 ribu hingga Rp 25 ribu. Semoga beberapa hari ke depan, bisa terus turun harganya hingga kembali normal," kata Titien, kemarin.

Titien menjelaskan, memang ada dinamika harga sejumlah bahan pangan pada momentum hari besar, seperti saat hari Raya Idul Adha yang terjadi baru-baru ini. Namun, kondisi kali ini diiringi dengan cuaca buruk di wilayah para petani, sehingga mengganggu pasokan dan berimbas pada harga di tingkat konsumen. ';

Kementan Dorong Keberlanjutan Ekspor Ayam

Produk unggas Indonesia akhirnya ikut memenuhi kebutuhan ayam dan produk olahan ayam di Singapura.

SELENGKAPNYA

BI Pantau Pergerakan Inflasi Inti

Kenaikan suku bunga dapat dilakukan untuk menahan keluarnya modal asing.

SELENGKAPNYA

Himbara Diminta Perluas Akses Kredit UMKM

Pemerintah menyediakan Rp 373 triliun untuk program KUR tahun ini dan baru terserap 50 persen.

SELENGKAPNYA
×