Pembangkit listrik tenaga batu bara nampak di Gelsenkirchen, Jerman, pada 2020 lalu. | AP Photo/Martin Meissner, file

Kisah Mancanegara

11 Jul 2022, 03:45 WIB

Kini Warga Jerman Harus Bersiap Kedinginan

Saat ini, Jerman mulai dilanda kekurangan pasokan gas.

OLEH DWINA AGUSTIN

Krisis energi yang selama yang ini dikhawatirkan terjadi, akibat perang Rusia-Ukraina, kini mulai benar-benar terjadi. Perusahaan perumahan terbesar di Jerman, Vonovia, berencana akan menghemat energi untuk ratusan ribu warga dalam beberapa bulan mendatang.

Keputusan ini diambil, karena Rusia membatasi pasokan gas alam ke negara tersebut. Penyedia perumahan dengan lebih dari satu juta penyewa ini mengatakan pada Kamis (7/7), sedang berusaha menghemat gas sebanyak mungkin untuk mempersiapkan krisis energi yang semakin dalam.

Pembatasan akan berlaku untuk 55 persen apartemen dan berlanjut hingga pemberitahuan lebih lanjut. Mendengarkan seruan untuk menghemat gas dari pemerintah, Vonovia mengatakan pada pekan lalu, dikutip CNN, Ahad (10/7), teknisi telah mulai membatasi sistem pemanas malam dari penyewa perumahan hingga 17 derajat celcius.

Sebagai langkah awal penghematan, pengaturan suhu dilakukan relatif kecil dengan perbedaan rata-rata satu hingga dua derajat celcius. "Kita dapat menghemat hingga delapan persen dari biaya pemanasan," kata perwakilan raksasa real estat itu.

photo
Kincir angin dan panel surya terlihat di Rapshagen, Jerman, pada 2021. - (AP Photo/Michael Sohn, File)

Pasokan air panas tidak akan terpengaruh atas keputusan penghematan energi. Pembatasan yang mulai diterapkan ini,  seharusnya juga tidak berdampak pada kemampuan warga untuk menggunakan air atau mandi di rumah.

Pemanas sentral akan tetap tersedia seperti biasa di siang hari atau lebih awal di malam hari. Vonovia pun telah memberi tahu para penyewanya bahwa harga energi yang tinggi kemungkinan akan menyebabkan tagihan listrik yang lebih tinggi dalam waktu dekat.

Langkah penghematan ini menggambarkan berbagai pihak di ekonomi terbesar Eropa, sudah mulai merasakan efek dari krisis gas yang sebelumnya telah diumumkan secara resmi oleh Pemerintah Jerman. Krisis energi yang terjadi di Jerman pun sudah diakui dengan pengumuman oleh utilitas listrik terbesar Jerman Uniper pada Jumat (8/7).

Perusahaan itu telah meminta bailout atau dana bantuan dari pemerintah sebagai konsekuensi dari pembatasan pasokan gas saat ini. Sedangkan anggota parlemen Jerman memberikan dukungan pada rencana untuk mengaktifkan kembali pembangkit listrik tenaga batu bara untuk menghemat gas.

Sejak dua pekan lalu, Jerman telah meminta para warganya untuk menghemat energi karena Rusia semakin mengurangi pasokan gasnya ke berbagai negara seperti Italia, dan anggota Uni Eropa lainnya. Atas kondisi ini, Berlin pun merespons dengan mengaktifkan fase kedua dari program darurat gas tiga tahapnya.

Keputusan tersebut, membuat negara itu mengambil satu langkah lebih dekat ke penjatahan pasokan terhadap industri. Tindakan ini akan menjadi langkah yang akan memberikan pukulan besar ke jantung manufaktur ekonomi Jerman.

Data pemerintah menunjukkan fasilitas penyimpanan gas di Jerman saat ini sekitar 63 persen penuh, lebih rendah dari rata-rata sepanjang tahun. Menteri Ekonomi Jerman Robert Habeck mengatakan bulan lalu, dia berharap agar penjatahan tidak diperlukan ketika musim dingin datang.

“Saat ini, Jerman mulai dilanda kekurangan pasokan gas,” ujarnya.

Saat ini, Rusia menjadi penyumbang gas alam terbesar untuk Eropa dengan kontribusi sebesar 41 persen. Negara ini juga memiliki cadangan gas terbesar di dunia. Selain itu, Rusia menyediakan 25 persen impor minyak mentah ke seluruh Benua Biru.

';

Tantangan Sepuluh Miliar

Jumlah warga bumi akan mencapai melebihi angka 10 miliar pada akhir abad ini. 

SELENGKAPNYA

Ancaman Krisis Makin Nyata

Beberapa negara mengalami krisis parah sehingga tak mampu membayar utangnya.

SELENGKAPNYA
×