Dialog Jumat Edisi Jumat 17Juni 2022. Membiasakan Anak Berzikir | Republika/Thoudy Badai

Laporan Utama

Menjadi Keluarga Ahli Zikir

Orang tua dapat mengajak anggota keluarga untuk menghadiri majelis-majelis ilmu dan zikir.

OLEH ANDRIAN SAPUTRA

Setiap orang yang beriman telah diperintahkan Allah SWT untuk senantiasa berzikir. Sebab dengan berzikir seorang hamba akan terhubung dengan Allah SWT.

Namun, banyak orang tua yang kesulitan untuk mengajak dan mengajarkan anak-anak terbiasa berzikir, terlebih karena padatnya kesibukan orang tua. Lalu, apa yang harus dilakukan agar dapat membiasakan keluarga berzikir dalam keseharian?

Pimpinan Majelis Rasulullah Habib Nabiel Al Musawa mengatakan, orang tua menjadi faktor utama agar anak-anak terbiasa berzikir. Seorang ayah dan ibu harus kompak dalam memberikan uswah kepada anak-anaknya. Sebab anak-anak tengah berada pada fase senang meniru dan mencari teladan.

Karena itu, Habib Nabiel mengajak setiap orang tua agar terlebih dulu membiasakan diri sendiri istiqamah berzikir. Sehingga seiring waktu anak-anak pun akan meneladani orang tuanya yang terbiasa berzikir. 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

"Ketika orang tuanya suka berzikir beribadah kepada Allah, anak itu akan ikut. Sebaliknya, ketika suasana rumah kering, orang tuanya tidak pernah ibadah, anaknya pun akan begitu. Jadi, mulailah awal dari rumah," kata Habib Nabiel kepada Republika, beberapa waktu lalu.

Selain itu, menurut Habib Nabiel, orang tua dapat mengajak anggota keluarga untuk menghadiri majelis-majelis ilmu dan zikir. Dengan cara tersebut dapat memotivasi anak-anak untuk menjadi ahli zikir. Melalui majelis zikir, menurut Habib Nabiel, anak-anak juga akan mendapatkan sosok-sosok baru yang dapat menjadi teladan dalam berzikir, yakni para ulama atau mursyid.

Habib Nabiel mengatakan, keluarga ahli zikir akan mendapatkan keberkahan di dunia maupun akhirat. Keluarga yang ahli zikir akan diberikan ketenangan, mendapat perlindungan, dan dikabulkan semua hajatnya.

Lebih dari itu, keluarga ahli zikir akan mendapatkan rahmat Allah SWT sehingga selamat dunia akhirat. Karena itu, Habib Nabiel menyarankan orang tua dapat mengikuti majelis-majelis zikir terdekat di rumahnya. Atau dapat juga mengikuti zikir bersama Majelis Rasulullah yang biasa dilaksanakan pada Senin malam di Masjid Al Munawar Pancoran, Jakarta Selatan.

 
Keluarga ahli zikir akan mendapatkan rahmat Allah SWT sehingga selamat dunia akhirat.
 
 

Sementara, Pengurus Majelis Zikir Zawiyah ar-Raudhah Tebet, Ustaz Azka Fuady, mengatakan, idealnya hamba yang beriman selalu berzikir dalam setiap waktu. Selain itu, menurutnya, setiap rutinitas yang dikerjakan seorang hamba sehari-hari sejatinya bisa menjadi zikir bila pekerjaan itu diawali dengan niat.

Namun, untuk mengajarkan zikir secara khusus, terlebih kepada anggota keluarga dan anak-anak, memerlukan tahapan-tahapan terlebih bila orang tua memiliki rutinitas pekerjaan yang padat. 

Maka, menurutnya, untuk mengajarkan zikir kepada anak-anak, orang tua dapat memulainya dengan mengajak agar anak terbiasa dan istiqamah melaksanakan shalat berjamaah. Sebab dengan melalui shalat, orang tua sejatinya mengajarkan keluarganya berzikir.

Bila orang tua memiliki rutinitas yang padat pada siang hari, Ustaz Azka menyarankan agar mengupayakan berjamaah Subuh dengan anak-anak. Bila hal ini telah dilakukan, langkah selanjutnya orang tua dapat mengenalkan zikir-zikir ringan kepada anak-anaknya. 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Habib Nabiel Almusawa (habib_nabiel_almusawa)

"Setelah menegakkan tiang agama, yakni shalat dalam sebuah keluarga, orang tua dapat mengenalkan zikir-zikir ringan kepada anggota keluarganya dan membiasakannya. Karena tubuh dan jiwa ibarat perangkat yang butuh istirahat sejenak untuk menambah daya, yaitu dengan shalat dan zikir," kata Ustaz Azka.

Sekretaris Awwal Idaroh Aliyah Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh al Mu'tabaroh an Nahdliyyah (JATMAN) KH Ali M Abdillah mengatakan, untuk memperoleh rahasia-rahasia Ilahiyah dalam zikir, diperlukan ilmu. Karena itu, seseorang yang berharap dirinya dan keluarganya menjadi ahli zikir pun hendaknya mendatangi majelis-majelis ilmu dan majelis zikir sehingga bisa mempelajari keilmuan yang dapat mengantarkan diri dan keluarga menjadi ahli zikir semisal tasawuf dan thariqah.

Dengan cara seperti itu, seorang hamba akan mendapatkan pencerahan pada batinnya sehingga memiliki kemantapan dan kekhusyukan ketika melafalkan zikir. Selain itu, dengan menghadiri majelis zikir, akan mendapatkan bimbingan langsung dari guru, ulama, atau mursyid baik dalam amalan zikir maupun riyadhah diri seperti dengan berpuasa sunah.

photo
Umat Islam berdzikir saat iktikaf di Masjid Agung Almarkazul Islamic Centre Lhokseumawe, Aceh, Sabtu (23/4/2022) dini hari. - (ANTARA FOTO/Rahmad)

Karena itu, menurut Kiai Ali, setiap anggota keluarga harus memiliki frekuensi yang sama, yakni merasakan antusias dan kenyamanan menghadiri majelis zikir sehingga lambat laun keluarga tersebut menjadi ahli zikir yang hasilnya pada setiap anggota keluarga memancarkan akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi masyarakat yang berada di wilayah Jakarta dan sekitarnya, Kiai Ali merekomendasikan untuk mengikuti zikir di Pondok Pesantren Ar Rabbani Jl Alternatif Cibubur, Nagrak, Bogor, yang berlangsung setiap malam Jumat, malam Sabtu, dan malam Ahad. 

"Orang yang sudah merasakan kenikmatan zikir itu akan sulit untuk meninggalkan. Bahkan, kalau dia lupa zikir itu seperti ada yang kehilangan di dalam hati. Maka bapak, ibu, dan anak-anak ini harus satu frekuensi sama-sama diajak ke sebuah majelis taklim, majelis zikir, supaya terbiasa. Jadi, zikirnya itu dia dengan ilmu dan mendapatkan pencerahan tentang ilmu tasawuf dan ilmu tarekat," kata Kiai Ali.

Mulai dari Sendiri, Orang Lain akan Meneladani Zikir Kita

photo
Pimpinan Majelis Az-Zikra KH. M Abdul Syukur membacakan doa saat Tabligh Akbar di Masjid Az-Zikra, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Selasa (31/5/2022). Tabligh Akbar yang terselenggara atas kerjasama antara Republika dan Majelis Az-Zikra tersebut mengambil tema Semangat Umat Merawat Bangsa. - (Prayogi/Republika. )

Berzikir merupakan salah satu ibadah yang diperintahkan Allah SWT. Lalu, seperti apa dampaknya bila orang senantiasa berzikir? Wartawan Republika Andrian Saputra mewawancarai Pimpinan Majelis az-Zikra, KH Muhammad Abdul Syukur Yusuf. Berikut petikannya: 

Mengapa Allah memerintahkan berzikir? Apakah Allah memerlukan zikir dari makhluk?

Justru, zikirnya makhluk adalah karena keperluan ia untuk dizikiri (diingat) oleh Allah SWT. Allah berfirman, berzikirlah kalian kepada-Ku, maka Aku akan mengingat kalian. Jadi, sesungguhnya zikir hamba kepada Rabbnya adalah sebagai ikhtiar hamba supaya ia diingat Allah SWT. Jadi, bukan Allah yang memerlukan zikir hamba. 

Justru, hamba itulah dengan zikinya dia perlu selalu terhubung dengan Allah SWT. Maka, tatkala Allah memerintahkan hamba-Nya berzikir kepadaNya, Allah membuka jalan bagaimana cara menjaga hubungan dengan Rabbnya, ya melalui zikir itu.

Bagaimana kedudukan ahli zikir di sisi Allah SWT?

Nanti dia akan mendapatkan kedudukan yang mulia, mendapatkan salam dari Allah SWT. Dan, Allah siapkan untuk mereka ganjaran yang mulia. Maka, seorang ahli zikir ini punya kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah.

Almarhum KH Arifin Ilham menyebutkan begini, zikir adalah sebagai ketaatan kepada Allah. Ketika Allah perintahkan, lalu hamba berzikir, menunjukkan hamba ini taat kepada Allah. Semakin orang beriman, semakin banyak dia berzikir.

Semakin banyak berzikir, semakin dia meningkat imannya. Orang kalau kurang iman, pasti lemah zikirnya. Apalagi, dia ngga beriman. Maka, ahli zikir ini punya kedudukan yang sangat mulia.

Dalam ayat lain disebutkan, ahli zikir laki-laki dan perempuan mereka mendapatkan ampunan dari Allah dan ganjaran yang sangat besar. Karena, itu menunjukkan betapa istimewa dan mulianya orang-orang yang ahli zikir. Karena, dia terus bersama dengan Allah SWT.  

Bagaimana caranya agar bisa berzikir dengan khusyuk dan menghadirkan perubahan pada kehidupan?

Bisa jadi dimulai dari niat yang tulus. Siapa sih yang nggak punya dosa dan kesalahan? Maka, dimulai zikir itu adalah pengakuan kekurangan diri, pengakuan lemah di hadapan Allah SWT, dan niat untuk mengubah diri. Ini awal kekhusyukan. 

Dia ingat kekurangan dirinya, dia berhadapan dengan Allah yang Mahasempurna dan Mahasegalanya, contoh dengan asmaul husna, misalnya, Allah Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Mengetahui.

Bagaimana bisa menyombongkan dirinya, sementara Allah tahu yang sebenarnya. Bagaimana bisa berpaling dari Allah SWT yang memberi segalanya. Maka, dimulai dari pengakuan diri. 

Lalu kekhusyuan itu juga bisa di dapat dari faktor internal, misalnya menjauhkan diri dari riya, ujub, sum’ah, takabur. Artinya, ikhlas. Cari ridho Allah, juga termasuk makanan yang halal cukup memengaruhi tentang itu. Khusyuk juga didapatkan dari pemahaman. Misalnya, melafalkan sesuatu, maka pemahaman dia mengantarkan kepada kekhusyukan.

Berikutnya lingkungan juga punya peranan. Saat kita berada dalam lingkungan yang nyaman, biasanya kekhusyukan didapat. Atau berada di sekeliling orang-orang yang  khusyuk, itu akan tertular terpengaruh. Ini langkah awal.

Bagaimana caranya pendidik dan orang tua dapat dengan mudah membiasakan anak-anak berzikir? 

Memulai dari diri sendiri, aksi itu lebih tajam dari pada teori. Saya kira dalam pembiasaan kepada anak-anak kita sebagai pendidik, sebagai orang tua, dimulailah dari diri kita. Kalau orang tua rajin dan senang zikir, insya Allah akan menular kepada anak-anaknya. Apalagi, dicontohkan langsung. 

Orang tua mencontohkan, tanpa orang tua menyuruh kepada anak. Orang tua membiasakan, anak akan mendengar, melihat, merasakan apa yang dilakukan oleh orang tuanya, maka pendidikan yang terbaik adalah melalui pencontohan. Semakin sering kita menghidupkan zikir, semakin kita memperlihatkan itu di hadapan anak-anak, maka itu adalah proses yang terbaik. 

Berikutnya zikir ini kan kita berhubungan dengan Allah. Zikir ini sudah diajarkan dalam keseharian melalui doa doa, melalui lafal-lafal yang diajarkan Rasulullah SAW dan dicontohkan, jadi bagaimana mengemas kepada anak-anak kita dengan suasana nikmat, bahagia dalam zikir.

Menjadi Keluarga Ahli Zikir

Orang tua dapat mengajak anggota keluarga untuk menghadiri majelis-majelis ilmu dan zikir.

SELENGKAPNYA

Membiasakan Anak Berzikir

Membangun budaya mencintai zikir harus dimulai dari contoh dan sikap orang tua itu sendiri.

SELENGKAPNYA

Meraih Ketenangan Jiwa Sejak Dini

Bisakah zikir menjadi antitesa agar anak tak kecanduan gadget?

SELENGKAPNYA