Seorang warga melintas di depan kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Papua dan Papua Barat, Jayapura, Papua, Rabu (27/10/2021). | ANTARA FOTO/Indrayadi TH

Ekonomi

08 Jul 2022, 06:25 WIB

OJK Waspadai Pengaruh Dinamika Global

OJK mewaspadai dampak gejolak perekonomian global terhadap Indonesia. Ketidakpastian ekonomi global masih terus berlanjut.

JAKARTA -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mewaspadai dampak gejolak perekonomian global terhadap Indonesia. Ketidakpastian ekonomi global masih terus berlanjut. Saat ini, perekonomian dunia tengah menghadapi episode baru terkait normalisasi kebijakan fiskal dan moneter di Amerika Serikat (AS).

Bank sentral AS Federal Reserve (Fed) diproyeksikan masih akan menaikkan suku bunga acuan dan adanya gangguan rantai pasok global akibat konflik Rusia dan Ukraina. Meskipun kondisi perekonomian dan sektor keuangan Indonesia berada dalam tren pertumbuhan, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menilai, potensi spillover kepada sektor keuangan masih harus terus diwaspadai.

"Tidak boleh dianggap enteng karena ketidakpastian ekonomi global masih berlanjut, terutama konflik Rusia dan Ukraina yang masih belum jelas kapan berakhirnya," kata Wimboh dalam Pertemuan Nasional Pengawasan Market Conduct Sektor Jasa Keuangan, Kamis (7/7).

Wimboh menyebut, kondisi ini turut berimbas pada perekonomian domestik yang juga masih diwarnai dengan meningkatnya kasus Covid-19 di beberapa daerah. Di dalam negeri, inflasi pada Juni 2022 berada pada level 4,35 persen yoy. Angka itu tertinggi sejak Juni 2017. PMI Manufaktur Indonesia per Juni 2022 juga turun ke level 50,2 dibandingkan Mei 2022 yang berada pada level 50,8.

photo
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso memberikan sambutan saat pertemuan tatap muka dengan pimpinan di sektor jasa keuangam di Jakarta, Kamis (7/7/2022). - (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

Di tengah perekonomian domestik yang terimbas ketidakpastian global itu, menurut Wimboh, sektor keuangan masih terkendali. "Dari sektor keuangan sendiri, stabilitas sektor keuangan masih terjaga stabil dan berada dalam tren yang positif," ujar Wimboh.

Pada 21 April 2022, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyentuh level tertinggi ke level 7.276,19 dan kemudian terkoreksi per 6 Juli 2022 di level 6.646. Menurut Wimboh, hal ini disebabkan oleh ketidakpastian perekonomian global dan normalisasi kebijakan fiskal dan moneter di AS.

Meski demikian, kredit perbankan masih tumbuh sebesar 9,03 persen (yoy) dan 4,23 persen (ytd) hingga Mei 2022. Wimboh menilai, industri perbankan masih memiliki ruang yang luas untuk melakukan ekspansi dengan rasio kecukupan modal per Mei 2022 tercatat meningkat di level 24,74 persen.

"Profil risiko perbankan juga masih berada di bawah threshold, yaitu 3,04 persen," tutur Wimboh.

Sektor Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) juga terus melanjutkan tren positifnya. Sektor asuransi dan lembaga pembiayaan tumbuh positif pada Mei 2022. Premi asuransi umum tumbuh 15,12 persen (yoy). Sementara itu, nominal piutang pembiayaan per Mei 2022 tercatat Rp 379 triliun dengan pertumbuhan 4,5 persen (yoy).

';

KAI: Jumlah Penumpang Naik

KAI sempat mengalami tekanan karena turunnya jumlah penumpang yang signifikan saat pandemi.

SELENGKAPNYA

Pertamina: Harga Pertalite tak Naik

Pertamina akan terus memantau kondisi harga pasar terkait BBM.

SELENGKAPNYA

Helm Lokal Terus Mendunia

Reputasi helm lokal sukses terdongkrak berkat ajang MotoGP. 

SELENGKAPNYA
×