Penumpang usai menaiki KRL Commuter Line di Stasiun Matraman, Jakarta, Jumat (17/6/2022). | Republika/Putra M. Akbar

Ekonomi

07 Jul 2022, 05:25 WIB

KAI: Jumlah Penumpang Naik

KAI sempat mengalami tekanan karena turunnya jumlah penumpang yang signifikan saat pandemi.

JAKARTA -- PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mencatat kenaikan jumlah penumpang. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor transportasi tersebut sempat mengalami tekanan karena turunnya jumlah penumpang yang signifikan akibat pandemi dari 2020 sampai 2021.

“Selama dua tahun ini angkutan penumpang mengalami tekanan, namun 2022 sudah terlihat pemulihannya, terlihat sejak April 2022,” kata Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (6/7). 

Sementara itu, Didiek mengatakan, angkutan barang dalam tiga tahun terakhir tidak mengalami dampak tekanan yang signifikan. Ia mengatakan, angkutan barang menjadi penopang KAI sejak terdampak pandemi Covid-19. 

Didiek menjelaskan, angkutan penumpang KAI pada 2019 berhasil mengangkut 429 juta orang dalam waktu satu tahun. Kemudian pada 2020 karena pandemi turun signifikan 56 persen, alhasil KAI hanya mengangkut 186 juta penumpang karena adanya pembatasan mobilitas. 

 

Tren penurunan jumlah penumpang terus berlanjut pada 2021. Didier menyebutkan, pada 2021 tercatat jumlah penumpang KAI turun sekitar 70 persen dibandingkan 2020 atau hanya mengangkut 154 juta penumpang.

“Ini karena pada 2020 efek pandemi pertengahan Maret ya, sementara pada 2021 sepanjang tahun adalah masa pandemi sehingga angkutan penumpang tertekan,” kata Didiek. 

Didiek menambahkan, pendapatan KAI mencapai Rp 15,5 triliun pada 2021. Pendapatan tersebut terdiri atas angkutan barang Rp 7,4 triliun, angkutan penumpang Rp 2,4 triliun, dan kompensasi pemerintah mengenai public service obligation (PSO) dan IMO sekitar Rp 4,9 triliun. Termasuk, pendapatan lainnya sekitar 12 persen atau Rp 1,8 triliun dari angkutan pendukung dan nonangkutan. Total pendapatan pada 2021 meningkat dari 2020, sekitar delapan persen, kata Didiek. 

Sementara itu, pada 2020, Didiek mengatakan, KAI menelan kerugian sebesar Rp 1,7 triliun karena angkutan penumpang turun signifikan. Kemudian, pada 2021, KAI berhasil menekan rugi menjadi Rp 359 miliar.

photo
Petugas Dinas Jalan Rel KAI melakukan perawatan rel kereta api di jalur relasi Manggarai-Tanah Abang, Pasar Rumput, Jakarta, Selasa (5/7/2022). Perbaikan dan perawatan rel itu dilakukan untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan penumpang seiring meningkatnya frukuensi perjalanan moda transportasi KRL Jabodetabek. - (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

"Sekarang ini, transportasi berbasis kereta api masih rendah. Kami harapkan pemerintah bisa mendorong peningkatan angkutan menggunakan kereta api," kata Didiek. 

Anak usaha KAI, yakni KAI Commuter, juga mengalami kenaikan jumlah penumpang, bahkan mencatat rekor jumlah penumpang kereta rel listrik (KRL) sejak pandemi Covid-19. Meskipun rekor tersebut belum melampaui jumlah penumpang KRL sebelum pandemi Covid-19 yang mencapai 1 juta penumpang per hari, sudah mengalami peningkatan. 

“Setelah pandemi, alhamdulillah Senin kemarin (4/7) rekor terbaru kami bisa angkut 707 ribu penumpang per hari,” kata Direktur Utama KAI Commuter Roppiq Lutzfi Azhar.

Roppiq mengatakan, dalam dua tahun terakhir angka tersebut belum tercapai. Ia menargetkan, pada Juli hingga Agustus 2022 rata-rata penumpang KRL akan tembus 750 ribu orang per hari. 

 

Ia menambahkan, kondisi penumpang KRL pada 2019 mampu mengangkut 337 juta penumpang. Lalu, saat pandemi, jumlah penumpang KRL turun signifikan hingga 40 persen. 

Roppiq mengatakan, pada tahun ini ditargetkan KAI Commuter dapat mengangkut 210 juta orang. “Dengan pandemi semakin membaik, artinya kelonggaran yang dikeluarkan memberikan ruang peningkatan penumpang. Harapan kami bisa normal dalam waktu tidak terlalu lama,” kata Roppiq. 

Terlebih, Roppiq mengatakan, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sudah menargetkan adanya pengembangan infrastruktur. Lalu, KAI Commuter diharapkan dapat mengangkut dua juta penumpang per hari. 

Roppiq menambahkan, saat ini pengguna aplikasi KRL Access sudah mencapai 500 ribu orang. “Dengan aplikasi ini, penumpang bisa tahu kondisi kepadatan di stasiun yang dituju, termasuk jadwal dan posisi kereta. Termasuk tarif bisa dilakukan kami bekerja dengan instrumen payment, baik dengan kartu elektonik himbara dan BCA, termasuk LinkAja dan Gojek,” kata Roppiq. 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by KAI121 (@kai121_)


Jalan Baru untuk Memperbesar Ekonomi Syariah

UEA harus menjadi pintu masuk produk Indonesia ke kawasan Timur Tengah dan sekitarnya.

SELENGKAPNYA

Industri Incar Pasar Ayam di ASEAN

GPPU berharap ekspor ayam ke Singapura akan terus berlanjut.

SELENGKAPNYA

Kemendag Dorong Pemulihan Ekspor CPO

Sebanyak 28 produsen siap memproduksi minyak goreng curah dalam kemasan.

SELENGKAPNYA
×