Pedagang hewan qurban mengambil kambing untuk pelanggan di Ngampilan, Yogyakarta, Rabu (6/7/2022). | Wihdan Hidayat / Republika

Opini

08 Jul 2022, 03:45 WIB

Kurban yang Sehat

Kurban dimaksudkan untuk membangun relasi sosial yang sehat.

ABDUL MU'TI; Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah

Setelah dua tahun, umat Islam belum bisa leluasa menyelenggarakan ibadah kurban karena pandemi Covid-19. Tahun ini, ibadah kurban dilaksanakan di tengah wabah penyakit kuku dan mulut (PKM). Wabah PMK yang terjadi sejak beberapa bulan lalu masih belum sepenuhnya berakhir.

Kasus terus meningkat dan penyebaran meluas. Menurut data Kementerian Pertanian, sampai pertengahan Juni 2022 tercatat 150 ribu ternak terinfeksi PMK dan menyebar di 18 provinsi.  Wabah PMK menimbulkan kerugian ekonomi dan -pada derajat tertentu- memengaruhi pelaksanaan ibadah kurban.

Di beberapa daerah, umat Islam kesulitan mendapatkan hewan kurban yang sehat sebagai salah satu syarat kesempurnaan ibadah kurban.

 
Di beberapa daerah, umat Islam kesulitan mendapatkan hewan kurban yang sehat sebagai salah satu syarat kesempurnaan ibadah kurban.
 
 

Sehat penyembelihan

Kurban adalah salah satu ibadah yang sangat dianjurkan. Mayoritas ulama fikih berpendapat, hukum kurban sunah muakkadah, walaupun ada sebagian yang mewajibkan.  Syariat kurban terkait perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim agar menyembelih putranya, Ismail.

Hikmah dan hakikat kurban dapat diraih apabila umat Islam mampu memaknai spirit perjuangan Nabi Ibrahim dan keluarganya.

Mayoritas ulama berpendapat, ibadah kurban dilaksanakan dengan menyembelih hewan kurban. Meskipun, ada sebagian berpendapat, kurban tidak harus dengan menyembelih. Pandangan ini didasarkan pada argumen, yang paling utama dan diterima  Allah dalam kurban bukanlah daging dan darah hewan kurban tetapi takwa.

"Daging dan darah (hewan kurban) itu tak akan sampai kepada Allah. Yang sampai kepada-Nya takwamu (Qs. Al-Hajj [22]: 37). Argumen lain kurban tanpa menyembelih adalah kesulitan pelaksanaan dan kerasnya penolakan masyarakat, khususnya dari aktivis animal rights: mereka yang memperjuangkan perlindungan dan hak hidup binatang.

 
Hikmah dan hakikat kurban dapat diraih apabila umat Islam mampu memaknai spirit perjuangan Nabi Ibrahim dan keluarganya.
 
 

Sepanjang kurban dilaksanakan dengan penyembelihan, Islam mensyaratkan sembelihan yang ihsan. Sembelihan ihsan meliputi tiga kriteria. Pertama, hewan kurban harus sehat. Hewan terinfeksi PMK tidak boleh disembelih. Kedua, hewan kurban harus sempurna: tidak cacat, gemuk, dan cukup  usia.

Ketiga, sembelihan yang ihsan: tidak menyiksa, peralatan lengkap, dan tempat yang bersih.  Ihsan sembelihan merujuk makna "dzibhin adzim" yang disebutkan Alquran (Ash-Shaffat [37]: 107). Banyak hadis menyebutkan tentang ihsan dalam menyembelih (ahsin al-dzibhah).

Dalam konteks ini, menyembelih di tempat pemotongan hewan lebih direkomendasi dibandingkan yang komunal dan amatir.

Sehat sosial

Aspek lain ibadah kurban adalah solidaritas sosial. Daging kurban, sebagaimana disebutkan Alquran (Al-Hjj [22]: 36), sebagian dimakan dan sebagian lain dibagikan kepada orang yang tak meminta-minta (al-qani) dan yang meminta-minta (al-mu'tar). Di antara hikmah kurban, membangun  kedekatan dan kohesivitas sosial.

 
Kurban yang sehat dilakukan dengan distribusi merata.
 
 

Untuk itu, sebaiknya pembagian kurban tak dibangun di atas konstruksi "atas-bawah" atau "the have" dan "the have not" tetapi semangat berbagi karena kecintaan kepada sesama umat manusia.

Hakikat kurban, membunuh sifat kebinatangan, antara lain ingin mau menang sendiri dan menguasai. Kurban dimaksudkan untuk membangun relasi sosial yang sehat. Daging kurban sebaiknya dibagikan dengan diantar langsung kepada penerima.

Membagikan kurban dengan kupon dan penerima harus mengantre, sudah waktunya diakhiri. Selain kurang memuliakan penerima juga menimbulkan kerumunan yang berpotensi menyebarkan virus Covid-19. Sampai saat ini, pandemi Covid-19 belum berakhir.

Kurban yang sehat dilakukan dengan distribusi merata. Ada sebagian masyarakat mendapatkan daging berlebih karena akses ke panitia kurban, sementara banyak yang tidak menerima karena ketiadaan akses. Pembagian berbasis data masyarakat penerima dapat mengatasi masalah konsentrasi daging kurban di daerah dan oleh kelompok tertentu.

 
Di tengah wabah PMK dan pandemi Covid-19, saatnya ibadah kurban dilaksanakan dengan memenuhi prinsip Islam sebagai agama yang bersih dan kurban yang sehat.
 
 

Pembagian dalam bentuk daging olahan yang dikemas secara higienis menjadi alternatif yang sehat dan manusiawi. Metode ini antara lain dikembangkan Lazis Muhammadiyah (Lazismu) yang membagikan daging kurban melalui program rendangmu.

Kurban yang sehat juga dapat dilakukan dengan distribusi hewan kurban yang merata. Ada masjid atau tempat tertentu yang hewan kurban berlebih dan tidak sedikit yang kekurangan. Secara sosial ini tidak sehat.

Karena itu, distribusi hewan kurban sebagaimana dilakukan beberapa lembaga dalam bentuk tebar hewan kurban dapat diperkuat jaringan yang luas. Cara ini juga dapat meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat peternak.

Di tengah wabah PMK dan pandemi Covid-19, saatnya ibadah kurban dilaksanakan dengan memenuhi prinsip Islam sebagai agama yang bersih dan kurban yang sehat dengan sembelihan sehat untuk membangun soliditas, kepekaan, dan kepedulian sosial.


Helm Lokal Terus Mendunia

Reputasi helm lokal sukses terdongkrak berkat ajang MotoGP. 

SELENGKAPNYA

Regresi Demokrasi dan Resentralisasi (1)

Pendengung, pemengaruh, dan pembajak yang malang melintang di media sosial seolah mendapat perlakuan berbeda dari aparat keamanan.

SELENGKAPNYA

Blockchain dan Transparansi Filantropi

Ahli bidang blockchain mungkin jumlahnya tidak banyak dibandingkan kebutuhan.

SELENGKAPNYA
×