Jamaah haji berjalan di Terowongan Mina di Makkah, Arab Saudi. | Dok Republika

Kabar Tanah Suci

06 Jul 2022, 03:50 WIB

Siap Menjaga Mina 

Pemberitaan haji mengenai tragedi di Jalan 204 di Mina tak boleh sampai terulang.

OLEH ACHMAD SYALABY ICHSAN dari Makkah

Puluhan petugas berseragam berjalan ke hadapan. Dengan mengenakan rompi dan kemeja berkerah merah putih, mereka melalui jalur yang lazim dituju jamaah haji Indonesia saat pulang dari jamarat ke Mina. Langit pun sudah tampak memerah tanda senja sudah makin dekat.

Jumat (3/7) itu, para petugas Daerah Kerja Madinah pimpinan Amin Handoyo terus melalui jalur tersebut hingga memasuki terowongan Mina yang legendaris. Tujuan mereka yakni tenda Misi Haji Indonesia yang sudah berdiri di Mina. Tenda itu akan menjadi posko petugas untuk mengamankan pelayanan terhadap jamaah, baik yang tengah menginap di maktab maupun mereka yang sedang melontar jamrah di jamarat.

Rute sejauh 3 kilometer harus ditempuh agar mereka mendapatkan rasa lelah jamaah yang akan melontar jamrah pada 10-12 Dzulhijah. “Kita baru menjalani satu kali perjalanan. Saat operasional nanti, minimal petugas bisa tiga kali,” ujar Sekretaris Daker Madinah Abdillah yang juga berjalan kaki bersama rombongan.

 
Mina kerap menjadi “zona perang” para petugas haji setiap tahunnya.
 
 

Mina kerap menjadi “zona perang” para petugas haji setiap tahunnya. Sektor ini harus menangani maktab (pemondokan), rute Mina, dan rute jamarat. Untuk maktab (pemondokan), mereka harus menangani lima sektor. Setiap sektor terdiri atas 4-12 maktab. Setiap maktab diisi oleh sekitar 200 orang.

Para petugas harus melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap layanan kedatangan. Penempatan jamaah di maktab harus sesuai dengan kloter masing-masing. Para petugas juga harus memastikan semua fasilitas di tenda, dari penyejuk udara (AC), karpet, hingga kasur busa harus bisa digunakan dengan baik.

photo
Para petugas keamanan menjaga ketat salah satu terowongan yang menuju kawasan Mina, di Makkah, pada waktu musim haji beberapa waktu lalu - (Republika)

Tugas lainnya menanti di posko rute Mina. Mereka harus mengawasi lalu lintas jamaah yang lalu-lalang agar tidak tersesat. Tenda-tenda jamaah yang berwarna putih seragam memang membuat sulit mata untuk membedakan satu dengan yang lain.

Jamaah hanya mengandalkan nomor untuk menandakan tenda tempat tinggalnya. Untunglah sekarang ada teknologi. Bagi mereka yang familiar dengan telepon pintar bisa mencari lokasi maktab lewat Google Maps.

Keuntungan lainnya, berkurangnya jamaah pada musim haji ini membuat Mina Jadid tak ditempati jamaah. Kalau saja lokasi perluasan Mina tersebut ditempati jamaah, beban petugas akan bertambah karena rute yang harus ditempuh jamaah menjadi lebih jauh, yakni hingga 10 kilometer pergi dan pulang. 

 
Keuntungan lainnya, berkurangnya jamaah pada musim haji ini membuat Mina Jadid tak ditempati jamaah. 
 
 

Seusai menginap di Mina, jamaah akan mulai melontar jamrah pada 10 Dzulhijah. Arab Saudi sudah menetapkan kapan saja jadwal melontar jamrah jamaah yang dibagi menjadi dua waktu. Untuk jamrah aqabah, separuh jamaah akan melontar pada pukul 00.00-06.00 WAS. Separuh jamaah lainnya pada 14.00-16.00 WAS.

Begitu pula jamaah yang mengambil nafar awal. Mereka akan melontar dengan jadwal yang sama hingga 12 Dzulhijah. Untuk jamaah yang memilih nafar tsani (selesai pada 13 Dzulhijah), mereka bisa melontar jamrah sejak sore hingga pagi hari pada hari terakhir.

Di jalur sepanjang Mina dan tugu jamarat, satgas membuat delapan pos. Masing-masing pos akan ditempati 10 petugas. Tidak hanya itu, satgas juga akan menugaskan tim Perlindungan Jamaah (Linjam), tim Pertolongan Pertama Pada Jamaah Haji (P3JH), dan emergency medical team (EMT) untuk bergerak memantau jamaah di rute jamarat.

photo
Polisi pengatur lalu lintas mengenakan payung di kawasan tenda di Mina, Makkah, Arab Saudi, Selasa (5/7/2022). - (AP Photo/Amr Nabil)

Selain menjadi tempat menginap, jamaah harus menempuh perjalanan pulang-pergi sekitar 6 kilometer bersama dengan ratusan ribu jamaah dari berbagai negara lain. Di sini, posko rute jamarat dibutuhkan.

Setelah keluar dari tenda, kemudian masuk ke Terowongan al-Mu’ashim, jamaah harus berjalan sejauh 3 kilometer untuk sampai ke jamarat. Petugas harus jeli agar jamaah bisa berangkat pada waktu yang telah dijadwalkan.

 
Jangan sampai jamaah berangkat di luar waktunya. Pemberitaan haji mengenai tragedi di Jalan 204 di Mina tak boleh sampai terulang.
 
 

Jangan sampai jamaah berangkat di luar waktunya. Pemberitaan haji mengenai tragedi di Jalan 204 di Mina tak boleh sampai terulang. Korban jiwa, menurut keterangan resmi Pemerintah Arab Saudi, kala itu mencapai 769 orang.

Media lokal setempat yang merangkum keterangan dari negara-negara pengirim jamaah haji mengungkapkan, korban yang jatuh sebanyak 2.121 orang. Sebanyak 126 orang korban di dalamnya berasal dari Indonesia.

Jamaah Indonesia yang menjadi korban tragedi Mina diketahui memilih waktu melontar pada pukul 08.00 sampai 11.00. Di sanalah waktu afdal atau utama untuk melontar jamrah. Padahal, jamaah haji Indonesia sudah mendapatkan jadwal berbeda dari otoritas Arab Saudi.

photo
Sejumlah haji asal Indonesia melintasi terowongan Moasem menuju tempat pelemparan jumrah di Mina, Arab Saudi, pada waktu musim haji beberapa waktu lalu. FOTO ANTARA/Prasetyo Utomo/ed/ama/11 - (ANTARA)

Tak ayal, peristiwa berdesak-desakan di Jalan 204 pun mengakibatkan korban berjatuhan. Jika saja semua mau mematuhi jadwal, peristiwa tersebut mungkin bisa dicegah.

Amin menjelaskan, Daker Madinah menyiapkan 378 personel yang bertugas di Mina. Jumlah itu belum ditambah dengan personel dari Makkah. Ada di antaranya yang sudah bergerak pada 7 Dzulhijah. Mereka ditugaskan untuk mengantisipasi jamaah yang hendak mengambil Tarwiyah.

Petugas lainnya akan bersiaga di pos masing-masing. Ada juga yang harus terus mobile untuk mengevakuasi jamaah, khususnya jamaah sakit yang memerlukan pertolongan pertama. Satgas juga akan menempatkan petugas di setiap lantai agar jamaah tidak salah jalan.

 
Semoga saja dengan semua fasilitas ini Mina atau Muna yang dalam bahasa Arab berarti ‘harapan’ menjadi tempat yang ramah untuk jamaah haji.
 
 

Menurut Amin, petugas juga akan mengantisipasi titik-titik rawan sepanjang rute dari dan menuju jamarat. Jangan sampai jamaah salah jalan, sebab ada titik persimpangan ke pemotongan hewan (slaughter house) yang bukan jalur untuk menuju tenda. “Ada pos 1 sebelum tempat pemotongan hewan, jangan sampai lolos. Jika salah, berarti enggak ke tenda,” ujar dia.

Akhirul kalam, Mina yang memiliki luas 650 hektare sudah lebih tertata. Jika pada zaman Rasulullah, jamaah haji yang datang lebih dahulu bisa mengikatkan untanya di tempat yang ia kehendaki, jamaah sekarang sudah bisa menempati tenda sesuai dengan penempatannya dengan semua fasilitasnya. Begitu pula jamarat yang sudah lebih mirip dengan menara-menara apartemen daripada lokasi pelemparan setan. 

Semoga saja dengan semua fasilitas ini Mina atau Muna yang dalam bahasa Arab berarti ‘harapan’ menjadi tempat yang ramah untuk jamaah haji yang akan melontar jumrah pada musim haji kali ini.


Menag Siapkan Sanksi Tegas Travel Ilegal

Kemenag dinilai perlu menata ulang tata kelola haji furoda.

SELENGKAPNYA

Adab Menyikapi Perbedaan Pendapat

Peta konsep penentuan awal Dzulhijah dalam fikih bisa dijelaskan dalam poin-poin berikut.

SELENGKAPNYA

Upaya Kesehatan Sukseskan Armuzna

Semua bisa merasakan fasilitas yang sama di Armuzna.

SELENGKAPNYA
×