Pekerja memotret layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (9/5/2022). | ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Ekonomi

05 Jul 2022, 06:45 WIB

IHSG Tertekan Sentimen Inflasi

Pemerintah berupaya meredam tingginya tekanan inflasi global.

JAKARTA -- Indeks harga saham gabungan (IHSG) terpangkas signifikan pada perdagangan awal pekan ini. IHSG ditutup melemah sebesar 2,28 persen ke level 6.639 setelah sempat terkoreksi hingga 3 persen pada sesi pertama.  

Senior Technical Analyst Henan Putihrai Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan, pergerakan IHSG sepekan terakhir diwarnai berbagai sentimen negatif, baik domestik maupun global. Salah satunya kenaikan inflasi Juni 2022 yang cukup tinggi menjadi perhatian pelaku pasar.

"Data inflasi Juni 2022 di 4,35 persen benar-benar mengejutkan di luar ekspektasi, bahkan melebihi batasan pagu yang telah dinaikkan oleh Bank Indonesia (BI) belum lama ini di level 4,2 persen," kata Liza kepada Republika, Senin (4/7).

 

Kelompok saham paling likuid, indeks LQ45 jatuh lebih dalam sebesar 2,48 persen. Saham GoTo mencatatkan penurunan paling dalam, yakni sebesar 6,49 persen.

Menurut Liza, pelaku pasar khawatir kenaikan inflasi dapat memicu BI untuk turut menaikkan suku bunga acuan. Terlebih, bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve (Fed) berencana menaikkan lagi suku bunganya pada Juli sebesar 75 basis poin (bps) untuk menekan laju inflasi.

Seiring naiknya suku bunga bank the Fed, dolar AS akan semakin menguat dan rupiah semakin tertekan. "Sepertinya, pasar khawatir bahwa sebentar lagi BI tidak punya pilihan lain selain ikut menaikkan suku bunga," kata Liza.

Tren kenaikan suku bunga dapat mengancam pertumbuhan kinerja perusahaan pada semester kedua yang sebelumnya sudah mulai pulih dari dampak pandemi. Hal ini membuat perkiraan ekonomi akan kembali melemah.

"Oleh karena itu, investor ramai-ramai melepas saham-saham yang memang sudah naik tinggi dan beralih ke aset lain, seperti dolar AS, surat utang Pemerintah AS, dan emas," kata Liza.

Sentimen negatif juga datang dari kenaikan kasus Covid-19 di dalam negeri. Menurut dia, kenaikan kasus dikhawatirkan dapat memicu pengetatan mobilitas sehingga mengganggu pemulihan ekonomi.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga mengalami pelemahan. Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia pada Senin (4/7) mencatat, rupiah melemah ke posisi Rp 14.960 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya, yakni Rp 14.956 per dolar AS. Nilai tukar rupiah sudah merosot 4,84 persen (ytd).

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Febrio Kacaribu mengatakan, sektor manufaktur Indonesia masih melanjutkan kinerja yang positif. Hal itu berdasarkan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur pada Juni yang masih berada pada zona ekspansif di level 50,2. Gejolak geopolitik serta perlambatan ekonomi dunia, khususnya di Cina, mengganggu rantai pasok global dan menghambat laju ekspansi manufaktur Indonesia.

photo
Seorang pria melintasi layar digital pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (24/6/2022). - (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

Hal ini dialami juga oleh sebagian besar negara di kawasan Asia, termasuk Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Vietnam, Thailand, dan Filipina. Di sisi lain, Febrio mengungkapkan, inflasi Indonesia pada Juni 2022 masih tergolong moderat dibandingkan negara-negara lain.

“Dibandingkan dengan banyak negara di dunia, inflasi Indonesia masih tergolong moderat. Laju inflasi di Amerika Serikat dan Uni Eropa terus mencatatkan rekor baru dalam 40 tahun terakhir masing-masing mencapai 8,6 persen dan 8,8 persen,” ujar Febrio.

Febrio menyampaikan, melalui instrumen APBN, pemerintah berupaya meredam tingginya tekanan inflasi global. Hal itu agar daya beli masyarakat serta momentum pemulihan ekonomi nasional tetap terjaga.

Dia menekankan, pemerintah tetap memantau dan memitigasi berbagai faktor yang akan berpengaruh pada inflasi nasional baik yang berasal dari eksternal maupun internal. Dia mencermati, inflasi pada Juni 2022 utamanya disebabkan oleh kenaikan harga pangan bergejolak yang signifikan mencapai 10,07 persen (yoy).

Mengantisipasi kenaikan harga komoditas pangan, pemerintah berupaya mengoptimalkan APBN untuk mengendalikan inflasi, menjaga daya beli masyarakat, dan memulihkan ekonomi. Upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas harga pangan, di antaranya melalui pemberian insentif selisih harga minyak goreng, pelarangan sementara ekspor CPO, dan turunannya untuk menjaga pasokan dengan harga terjangkau serta mempertahankan harga jual BBM, LPG, dan listrik.

“Ini semua diharapkan dapat menjaga kecukupan pasokan, kelancaran distribusi, serta keterjangkauan harga pangan pokok sehingga dapat melindungi daya beli masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah,” ujar Febrio.


Muslim Terbaik

Mari berikhtiar menjadi Muslim terbaik.

SELENGKAPNYA

Menkes: Ganja Boleh untuk Penelitian Medis

Aceh bisa dijadikan tempat untuk membudidayakan ganja yang diawasi dengan ketat.

SELENGKAPNYA

Presiden Disarankan Terbitkan Perppu Pemilu

UU Pemilu harus direvisi sebagai dampak dari bertambahnya DOB Papua.

SELENGKAPNYA
×