Pengunjung memindai kode batang pembayaran non tunai saat membeli produk UMKM di Foodhall Oleh-oleh Umi Stasiun Bandung, Jawa Barat, Ahad (24/4/2022). | ANTARA FOTO/Novrian Arbi

Opini

05 Jul 2022, 03:45 WIB

Koperasi Berbasis Digital

Sudah saatnya manajemen koperasi dipersiapkan relevan dengan perubahan zaman.

JUSUF IRIANTO; Guru Besar Manajemen SDM Departemen Administrasi Publik FISIP Universitas Airlangga, Pengurus MUI Jawa Timur

Menteri koperasi dan usaha kecil menengah (menkop UKM) khawatir pengembangan usaha berbasis koperasi terganjal minat rendah generasi muda. Milenial dan gen Z kian menjauh dari koperasi sebagai soko guru perekonomian sebagaimana digagas Bung Hatta.

Dibandingkan usaha rintisan, manajemen bisnis koperasi ketinggalan zaman tak sesuai karakter kaum muda. Koperasi dikelola dengan manajemen tradisional membuka peluang terjadi korupsi atau tindak kejahatan lainnya.

Keterlibatan milenial diperlukan guna membangun koperasi lebih profitable. Agar mampu meraup untung, koperasi butuh manajemen modern berkarakter milenial, yakni memanfaatkan teknologi digital.

 
Keterlibatan milenial diperlukan guna membangun koperasi lebih profitable. Agar mampu meraup untung, koperasi butuh manajemen modern berkarakter milenial, yakni memanfaatkan teknologi digital.
 
 

Manajemen koperasi lebih modern dapat mengandalkan internet generasi ketiga atau Web 3.0. Saat ini, dunia berancang memasuki era Web 3.0 yang lebih interaktif dan dinamis. Dibandingkan Web 1.0 yang statis, Web 3.0 lebih dinamis menawarkan akses informasi tanpa batas.

Web 3.0 lebih canggih daripada Web 2.0 yang digunakan mulai 2005 hingga kini. Web 2.0 atau disebut Web Sosial, membuat internet lebih interaktif. Berkat kemajuan teknologi web seperti Javascript, pada era Web 2.0 muncul usaha rintisan yang sangat populer di dunia.

Platform web interaktif seperti YouTube dan lainnya berkonten sosial mewarnai kehidupan masyarakat seperti saat ini. Jejaring sosial dan konten hasil produksi pengguna pun berkembang pesat.

Sejumlah data dapat didistribusikan melalui berbagai platform dan aplikasi. Web 3.0 berkembang revolusioner mewujudkan internet yang mampu memproses informasi menggunakan kecerdasan buatan (AI).

 
Sejumlah data dapat didistribusikan melalui berbagai platform dan aplikasi. Web 3.0 berkembang revolusioner mewujudkan internet yang mampu memproses informasi menggunakan kecerdasan buatan (AI).
 
 

Tim Berners-Lee, penemu world wide web (www), menyatakan, Web 3.0 mengubah performa internet lebih mandiri, cerdas, dan terbuka. Performa tersebut sesuai karakter milenial yang menginginkan perubahan.

Web 3.0 yang disebut “Web Semantik” dirancang menyediakan ruang lebih luas dalam berinteraksi antara sistem, pengguna, dan perangkat yang tersedia secara otomatis. Interaksi ini bisa mengakomodasi semua bentuk kegiatan dengan tujuan tertentu.

Dalam konteks manajemen koperasi misalnya, pembuatan konten dan pengambilan keputusan dapat melibatkan pengurus dan anggota secara langsung didukung AI. AI tak sekadar menyediakan data, tapi juga memprosesnya secara akurat sebagai dasar keputusan.

Dengan Web 3.0, manajemen koperasi lebih transparan menutup celah penyelewangan. Konten laman internet unit usaha koperasi dapat dikembangkan sesuai kebutuhan anggota sehinggs lepas dari dominasi pengurus, yang selama ini cenderung mudah melakukan fraud.

 
Fasilitas dalam internet generasi terbaru ini diperkirakan lebih mudah dan murah dibandingkan platform lain. Web 3.0 dinilai layak digunakan karena tak membutuhkan biaya tambahan untuk membeli perangkat tambahan.
 
 

Fasilitas dalam internet generasi terbaru ini diperkirakan lebih mudah dan murah dibandingkan platform lain. Web 3.0 dinilai layak digunakan karena tak membutuhkan biaya tambahan untuk membeli perangkat tambahan.

Jagat dunia teknologi digital saat ini diwarnai fenomena munculnya metaverse. Web 3.0 ternyata juga dilirik karena lebih sederhana daripada metaverse yang membutuhkan peralatan khusus.

Untuk dapat terlibat kegiatan dalam metaverse, pengguna harus menyediakan augmented reality, headphone/headset, atau kacamata virtual reality.

Web 3.0 dirancang berbeda dari metaverse. Sebagai varian baru internet, Web 3.0 dapat memproses kebutuhan pengguna yang disampaikan melalui tulisan, suara, atau cara lain.

Saat ini ada beberapa platform bisnis digital mengadopsi Web 3.0 yang perlu dipelajari untuk mengembangkan manajemen koperasi. Pemerintah bisa menyiapkan kebijakan penyebaran pengetahuan soal Web 3.0 dalam konteks membangun citra koperasi lebih atraktif.

 
Sudah saatnya manajemen koperasi dipersiapkan relevan dengan perubahan zaman. Tata kelola tradisional yang tertutup diubah lebih transparan atau terbuka akses lebih luas bagi semua pihak.
 
 

Sudah saatnya manajemen koperasi dipersiapkan relevan dengan perubahan zaman. Tata kelola tradisional yang tertutup diubah lebih transparan atau terbuka akses lebih luas bagi semua pihak.

Semua situs web dan aplikasi untuk manajemen koperasi dipersiapkan mampu memproses data atau informasi lebih cerdas dan canggih. Kecanggihan Web 3.0 didukung fitur lebih lengkap untuk menajamen keuangan, marketing, atau lainnya.  

Semua komponen proses bisnis koperasi berbasis Web 3.0 dapat diintegrasikan menjamin pengambilan keputusan transparan melibatkan semua stakeholders yang terkoneksi. Keputusan dapat diambil dengan tepat berdasar pada manajemen data yang akurat.

Manajemen data terdesentralisasi di masing-masing unit usaha, tapi semua jenis data disimpan dalam repositori terpusat sehingga dapat diakses setiap pemangku kepentingan. Pemerintah pun dapat mengawasi kegiatan pengurus koperasi lebih mudah.

Kini, masyarakat butuh komitmen pemerintah yang bersedia membangun koperasi lebih maju dan modern berbasis teknologi. 


Muslim Terbaik

Mari berikhtiar menjadi Muslim terbaik.

SELENGKAPNYA

Dewan Gereja Dunia Kecam Israel

Kelompok Hamas di Jalur Gaza menyambut kecaman Dewan Gereja Dunia.

SELENGKAPNYA

Protokol Idul Adha Saat Wabah PMK

Harus ada karantina ternak untuk lalu lintas ternak antarpulau dan zona merah.

SELENGKAPNYA
×