ILUSTRASI Di antara pemikiran filsafat Ibnu Bajjah ialah menyoroti perihal negara yang ideal. | DOK QUOTEPARK

Tema Utama

03 Jul 2022, 09:15 WIB

Pemikiran Ibnu Bajjah, Gagasan Soal Jiwa Hingga Bima Sakti

Di antara pemikiran Ibnu Bajjah terkait gagasan filsuf ini ialah negara ideal dan manusia penyendiri.

OLEH HASANUL RIZQA

Orang Eropa menyebutnya Avempace. Abu Bakar Muhammad bin Yahya bin ash-Shaigh at-Tujibi bin Bajjah—demikian nama lengkapnya—merupakan salah satu filsuf Muslim terpenting dari Andalusia.

Sosok yang biasa dipanggil Ibnu Bajjah itu sejak muda mempunyai karier akademik yang brilian. Saat masih berusia 30-an tahun, reputasinya sudah masyhur di seluruh Sarqusthan atau Zaragoza, kota kelahirannya.

Menapaki umur 40 tahun, ilmuwan tersebut mendapati negerinya dikuasai Dinasti Murabithun. Wangsa yang berasal dari Afrika utara itu dipimpin oleh seorang raja yang bergelar amirul muslimin. Akan tetapi, sang raja bukanlah satu-satunya yang memegang kekuasaan eksekutif. Secara de facto, pengaruh kalangan fuqaha dan ahli hadis (muhadditsin) dalam pemerintahan begitu kuat.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Awal terbentuknya Dinasti Murabithun tidak terlepas dari peran kaum agamawan. Bahkan, istilah murabithun berasal dari nama majelis taklim yang diasuh seorang ahli fikih, Abdullah bin Yasin (wafat 1059 M). Penganut Mazhab Maliki itu memimpin suksesi kekuasaan di Mauritania. Sesudah Ibnu Yasin wafat, para pengikutnya meneruskan ekspansi wilayah hingga berhasil menguasai Maghribiyah dan akhirnya, sebagian besar Andalusia pada akhir abad ke-11 M.

Ali bin Yusuf merupakan amirul muslimin ketika Sarqusthan jatuh ke tangan Murabithun. Anak Yusuf bin Tasyrifin, sang pahlawan Muslimin dalam Perang Sagrajas, itu mengikuti jejak ayahnya dalam hal keberanian. Tidak sedikit pun dirinya gentar melawan gangguan kerajaan-kerajaan Kristen di Andalusia.

Namun, kemampuan politik Ali bin Yusuf terbilang lemah, khususnya terkait urusan dalam negeri. Berbagai kebijakan penting acap kali hanya merepresentasikan kepentingan kaum fuqaha dan muhadditsin. Bagi rakyat umumnya, campur tangan agamawan dalam pemerintahan mungkin tidak begitu terasa. Akan tetapi, keadaan yang berbeda dialami kalangan intelektual, khususnya yang berkecimpung dalam dunia filsafat.

Hingga saat itu, Ibnu Bajjah lebih dikenal sebagai seorang ilmuwan yang serba bisa (polymath), alih-alih hanya penekun filsafat. Di antara disiplin yang digelutinya adalah ilmu musik, sastra, botani, dan kedokteran.

Di bidang keilmuan yang pertama itu, ia menulis Risalah fii al-han (Risalah Melodi). Karena menghargai keluasan ilmunya, otoritas Murabithun kemudian mengangkatnya sebagai wakil gubernur di Sarqusthan. Sang polymath mendampingi gubernur setempat, Abu Bakar Ali bin Ibrahim as-Sahrawi.

photo
ILUSTRASI Para cerdik cendekia Andalusia di bawah pemerintahan Dinasti Murabithun. - (DOK HUMBLEI)

Pada 1116, Ali as-Sahrawi gugur dalam sebuah pertempuran versus Salibis. Dengan kematian patronnya itu, posisi Ibnu Bajjah kian pelik di pemerintahan. Semakin banyak faqih dan ahli hadis yang menudingnya sebagai pengkaji filsafat yang ahli bidah. Karena tidak tahan dengan desas-desus yang dialamatkan kepadanya, ia meletakkan jabatan di pemerintahan Sarqusthan, lalu hijrah ke sejumlah kota di Andalusia.

Dari Seville, Ibnu Bajjah sempat ditangkap aparat penguasa. Segera sesudah itu, ia dipenjara selama beberapa bulan. Namun, dirinya kemudian dibebaskan setelah mendapatkan pembelaan dari kadi setempat yang merupakan kakek Ibnu Rusyd—seorang pemikir Andalusia yang segenerasi di bawah Ibnu Bajjah.

Demikianlah perjalanan sang filsuf. Ke mana pun dirinya bermukim, selalu ada orang-orang yang menargetnya karena tuduhan bidah. Akhirnya, ia meninggalkan Andalusia untuk mencapai daratan Maghribiyah. Di sana, Ibnu Bajjah dilindungi seorang pemuka Murabithun. Selama 20 tahun, penulis Tadbir al-Mutawahhid itu dapat tinggal dan berkarya secara leluasa di lingkungan istana.

Bagaimanapun, takdir Allah telah tetap baginya. Pada 533 H/1138 M, saat berada di Kota Fas, Ibnu Bajjah dibunuh dengan cara diracun oleh seorang fisikawan ternama kala itu, Abul Ala bin Zuhr. Si pembunuh masih berkerabat dekat dengan Abu Marwan bin Zuhr, yang merupakan musuh terbesar sang filsuf.

Sumbangsih ide

Menurut Mian Mohammad Sharif dalam A History of Muslim Philosophy, Ibnu Bajjah merupakan tokoh penting dalam sejarah filsafat Islam khususnya di Andalusia. Para sejarawan umumnya sepakat, dialah pembuka jalan bagi lahirnya filsuf-filsuf Muslim besar dari Semenanjung Iberia, seperti Ibnu Thufail, Ibnu Rusyd, dan Ibnu Khaldun.

Dalam konteks zaman kala itu, naiknya pamor sang pemikir menjadi kemunculan pertama kaum filosof di dunia Islam usai “diserang” Imam Ghazali, penulis Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Para Filsuf). Bahkan, dalam berbagai kesempatan ia secara terbuka mengkritik sang Hujjatul Islam dengan argumen-argumen.

photo
ILUSTRASI Imam al-Ghazali tatkala menjadi rektor Madrasah Nizhamiyah Baghdad mendiagnosis penyakit sosial umat kala itu. - (DOK WIKIPEDIA)

Ibnu Bajjah menulis banyak karya. Sayangnya, yang sampai pada masa modern hanyalah terjemahan-terjemahan dalam bahasa Latin. Adapun naskah aslinya dalam bahasa Arab lekang oleh waktu.

Dari sekian banyak buah penanya, ada empat buku yang menjadi karya monumentalnya. Keempatnya adalah Kitab an-Nafs, Risalat al-Ittishal al-‘Aql bi al-Insan, Al-Wada’, dan Tadbir al-Mutawahhid.

Yang pertama itu membicarakan perihal jiwa, kaitan jiwa dengan Tuhan, serta kewujudan pencapaian tertinggi jiwa manusia, yakni kebahagiaan. Pembicaraan di dalamnya menunjukkan kuatnya pengaruh para filsuf Muslim dari era Abbasiyah, semisal al-Farabi dan al-Razi.

photo
ILUSTRASI Ibnu Bajjah menjadi inspirasi tokoh-tokoh filsafat Muslim Andalusia sesudahnya, semisal Ibnu Thufail, Ibnu Rusyd, dan Ibnu Khaldun. - (DOK WIKIPEDIA)

Tentunya, jejak-jejak pemikiran para pemikir Yunani kuno juga tampak di sana, seperti Aristoteles dan Galen. Beberapa peneliti mengomentari, kitab tersebut adalah parafrase dari sang filsuf Muslim atas De Anima (Tentang Jiwa) karya Aristoteles.

Ma’an Ziyadah dalam Kitab Tadbir al-Mutawwahid: Ibnu Bajjah Rezim Sang Failasuf (2018) menerangkan pandangan Ibnu Bajjah perihal ruh dan jiwa (nafs). Menurut sang pemikir, kedua istilah itu dapat disamakan penggunaannya. Dalam pandangannya, jiwa adalah penggerak bagi setiap manusia. Jiwa tidak mengalami perubahan, seperti halnya jasmani. Tampak bahwa gagasan sang filsuf Muslim ini banyak terpengaruh oleh dualisme badan-jiwa yang dicetuskan Aristoteles.

Lebih lanjut, Ibnu Bajjah memaparkan, pengetahuan dalam diri manusia merupakan hasil dari observasi yang menandakan keberadaannya. Pengetahuan adalah anugerah yang tidak datang dengan sendirinya. Di dalamnya, terdapat hidayah Ilahi, yang membuat seseorang mengetahui banyak hal tentang alam dan kehidupan sekitar.

 
Berbeda dengan binatang, manusia makan bukan hanya untuk menjaga kekuatan atau nyawa, tetapi juga mencapai kebahagiaan spiritual.
 
 

Dalam Risalat al-Ittishal, Ibnu Bajjah mengungkapkan, antara lain, kategori tindakan, yakni manusiawi dan hewani. Pemenuhan kebutuhan nutrisi tentunya berlaku bagi masing-masing makhluk. Namun, berbeda dengan binatang, manusia makan bukan hanya untuk menjaga kekuatan atau nyawa, tetapi juga mencapai kebahagiaan spiritual.

Dalam kitab yang sama, ia juga membahas perihal kehendak sebagai pembeda antara manusia dan hewan. Hal itu dihubungkannya dengan dua jenis nilai, yakni formal dan spekulatif. Ambil contoh, kejujuran. Dalam jagat hewan, kejujuran hanya bernilai formal. Sebab, tidak mungkin seekor hewan berbohong.

Sementara itu, kejujuran dalam dunia manusia bernilai spekulatif karena adanya kehendak. Dengan demikian, sebuah tindakan manusia dapat dinilai jujur, dapat pula sebaliknya—bergantung pada kehendak apa di baliknya.

Seperti al-Farabi, Ibnu Bajjah juga mengulas perihal “akal aktif”, yakni maujud spiritual yang berposisi antara Tuhan dan alam materiel. Penyatuan atau keterhubungan dengan akal aktif itulah yang menjadi prasyarat utama agar kebahagiaan bisa dirasakan manusia.

Menurut dia, pertalian itu dapat dilakukan dengan menjalani hidup dalam kesendirian sebaik mungkin. Orang yang melakukannya disebut al-insan al-munfarid, manusia penyendiri, yang diandaikannya berasal dari kalangan filsuf—atau juga cendekiawan.

 
Negara yang sempurna adalah yang di dalamnya masyarakat tidak lagi membutuhkan dokter dan hakim.
 
 

Dalam Al-Wada’ dan Tadbir al-Mutawahhid, ia mengatakan, filsuf yang al-insan al-munfarid dapat hidup dalam suatu negeri tidak sempurna—sebuah keadaan yang juga dirumuskan oleh Ibnu Bajjah. Dalam konteks demikian, filsuf tersebut cukup berinteraksi dengan kaum ilmuwan, sembari mengasingkan diri dari sikap atau perbuatan yang tidak baik bagi publik, seumpama korupsinya kaum politikus atau elite.

Jika si filsuf tidak dapat menemukan sesama ilmuwan atau ulama yang menjauhi sikap-sikap korup, maka sebaiknya ia mengasingkan diri secara total. Dirinya tidak berinteraksi sama sekali dengan lingkungan kecuali sekadar untuk memenuhi kebutuhan makan, minum, atau kedaruratan.

Melalui karyanya itu, Ibnu Bajjah juga menguraikan sebuah utopia, yakni apa yang diyakininya sebagai “negara sempurna". Menurut dia, negara yang sempurna adalah yang di dalamnya masyarakat tidak lagi membutuhkan dokter dan hakim.

Adanya kedua profesi itu menandakan bahwa (masyarakat) negara tersebut masih terjangkit penyakit, baik fisik maupun sosial. Kalau adanya dokter dan hakim ternyata tidak mampu menuntaskan atau mengurangi penyakit-penyakit itu, negara tersebut dapat dikatakan tidak sempurna. Lebih parah lagi bila pihak-pihak yang seharusnya menyelesaikan masalah justru menjadi bagian dari masalah.

photo
Salah satu manuskrip berbahasa Latin yang adalah terjemahan karya Ibnu Bajjah terkait astronomi. - (DOK WIKIPEDIA)

Peran di Bidang Sains

Ibnu Bajjah memiliki andil yang signifikan untuk perkembangan sains dalam sejarah peradaban Islam. Salah satu bidang yang dikajinya adalah astronomi. Seorang ilmuwan Yahudi dari Andalusia, Musa bin Maimun mengomentari kepiawaian pendahulunya itu.

Sosok yang bernama Latin Maimonides tersebut menyatakan, “Saya pernah mendengar Ibnu Bajjah telah menemukan sebuah sistem yang tak menyebut terjadinya epicycles. Saya belum pernah mendengar itu dari muridnya.”

Di antara sumbangsihnya adalah mengkritik sistem Ptolemaik dalam ilmu perbintangan.

Ibnu Bajjah juga mengungkapkan teorinya tentang Galaksi Bima Sakti. Menurut cendekiawan Muslim dari era Murabithun itu, galaksi tersebut merupakan sebuah fenomena luar angkasa yang terjadi di atas bulan dan wilayah sub-bulan. Pendapatnya itu dicatat dalam Ensiklopedia Filsafat Stanford sebagai berikut.

“Bima Sakti adalah cahaya bintang-bintang yang sangat banyak yang nyaris berdekatan satu dengan yang lainnya. Cahaya kumpulan bintang itu membentuk sebuah ‘khayal muttasil’ (gambar yang berkelanjutan). Adapun khayal muttasil itu tidak lain adalah hasil dari pembiasan (refraksi).”

 
Ibnu Bajjah juga mengungkapkan teorinya tentang Galaksi Bima Sakti.
 
 

Guna mendukung penjelasannya itu, Ibnu Bajjah melakukan pengamatan atau observasi terhadap dua planet, yakni Yupiter dan Mars. Penelitian ini dilakukannya pada 500 H/1106 M.

Tidak hanya astronomi, tetapi juga fisika. Ia berhasil mengungkapkan hukum gerakan. Prinsip-prinsip yang dikemukakannya itu menjadi dasar bagi pengembangan ilmu mekanik modern berabad kemudian. Pemikirannya dalam bidang keilmuan ini terbukti memengaruhi banyak fisikawan Barat abad pertengahan, seperti Galileo Galilei.

photo
Isaac Newton mengonsep hukum fisika tentang gerak. - (DOK Wikipedia)

Tak heran, jika ilmuwan dari Italia itu mengemukakan hukum kecepatan yang sangat mirip dengan yang pernah dipaparkan Ibnu Bajjah. Alim dari Sarqusthan itu merumuskan bahwa kecepatan sama dengan gaya gerak yang dikurangi resistensi materi.

Di samping itu, ia juga menjadi yang pertama dalam memaparkan, selalu ada gaya reaksi untuk setiap gaya aksi. Ratusan tahun kemudian, pemaparan demikian mengilhami Isaac Newton dalam mengonsep hukum gerak.

 
Selalu ada gaya reaksi untuk setiap gaya aksi. Ratusan tahun kemudian, pemaparan demikian mengilhami Isaac Newton dalam mengonsep hukum gerak.
 
 

Penulis Kitab an-Nafs itu juga berjasa besar dalam mengembangkan psikologi Islam. Pemikirannya tentang studi ilmu kejiwaan didasarkan pada fisika. Dalam sebuah risalah yang ditulisnya, Ibnu Bajjah menyatakan bahwa akal aktual penting bagi manusia. Dia juga menulis banyak hal tentang sensasi dan imajinasi.

“Pengetahuan tak dapat diperoleh dengan pikiran sehat saja, tetapi juga dengan akal aktif yang mengatur intelegensia alami,” tulisnya.

Masih dalam bukunya tersebut, ia juga membahas tentang kebebasan. Ibnu Bajjah meyakini, seorang manusia baru bisa dikatakan bebas apabila dapat bertindak dan berpikir secara rasional. Karena itu, akal merupakan bagian yang paling penting dalam diri insan. Dengan akal pula, seseorang akan sampai pada mengenal Tuhannya.


Kisah Zaman Meleset dan Panti Asuhan di Jakarta

Di Indonesia, khususnya Jakarta, baru pada 1930-an berdiri panti asuhan.

SELENGKAPNYA

Riwayat Ibnu Bajjah, Sang Filsuf dari Sarqusthan

Ibnu Bajjah menggagas klasifikasi manusia berdasarkan pertalian mereka dengan Akal Aktif.

SELENGKAPNYA

Hamnah, Perawat Para Mujahid

Keimanan membuatnya ikhlas melepaskan orang-orang yang dicintai meninggal dalam waktu bersamaan.

SELENGKAPNYA
×