Kendaraan Taktis Ringan Maung 4X4 buatan PT Pindad (persero). PT Pindad merupakan bagian dari holding BUMN bidang pertahanan Defend ID | Edi Yusuf/Republika

Ekonomi

01 Jul 2022, 07:19 WIB

Defend ID Diminta Fokus Garap Bisnis

Defend ID juga sedang menjajaki potensi proyek senilai Rp 15 triliun.

JAKARTA -- Holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) industri pertahanan atau Defend ID diminta fokus menggarap bisnisnya masing-masing. Langkah tersebut meminimalisasi terjadinya tumpang tindih antarperusahaan pelat merah.

“Holding industri pertahanan juga harus mulai menyiapkan langkah strategis. Sebagai induk holding, PT Len Industri (Persero) memiliki peran besar dalam merealisasikan integrasi dengan tiga mintra TNI, baik darat, laut, maupun udara," kata Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir di Jakarta, Kamis (30/6).

Menanggapi permintaan Erick, holding BUMN pertahanan tengah menggarap proyek senilai Rp 48,7 triliun. Tak hanya itu, Defend ID juga sedang menjajaki potensi proyek senilai Rp 15 triliun.

"Kontrak on-hand sekarang kita (Defend ID) sudah Rp 48,7 triliun. Tantangannya kini adalah mempercepat delivery produk dengan tepat waktu," ujar Direktur Utama Len Bobby Rasyidin.

 

Bobby menyampaikan, Len selama ini dikenal sebagai pembuat radar ini menjadi salah satu andalan industri pertahanan Indonesia menghadapi abad teknologi. Menurut Bobby, radar ibarat mata dan telinga bagi sistem pertahanan untuk melihat dan mendeteksi keberadaan musuh. 

"Sebagai ilustrasi dalam pencegatan pesawat musuh dibutuhkan identifikasi visual menggunakan pesawat pencegat atau buru sergap. Alutsista ini membutuhkan peran penuntun radar GCI yang menjadi salah satu alutsista utama dalam operasi pertahanan udara," kata Bobby.

Bobby mengatakan, pengerahan pesawat pencegat disesuaikan dengan karakteristik sasaran udara yang dicurigai. Jika target berkecepatan terbang tinggi, yang dikerahkan pun pesawat berkemampuan terbang supersonik, atau sebaliknya.

Bobby menyebutkan, pengerahan pesawat selain untuk melihat sasaran secara visual, juga untuk melakukan penggiringan, pengusiran, atau pemaksaan mendarat, bahkan penghancuran. Saat ini, lanjut Bobby, Indonesia mempunyai salah satu alutsista pencegat pesawat musuh yang sangat diandalkan, yakni radar ground controlled interception (GCI).

"Secara khusus, istilah ini digunakan untuk menggambarkan generasi baru radar yang berputar pada sumbu vertikalnya untuk memberikan tampilan 360 derajat yang lengkap dari langit di sekitar stasiun," kata Bobby.

 

Dalam sistem sebelumnya, lanjut Bobby, terutama chain home (CH), hanya dapat diarahkan sepanjang sudut di depan antena, dan tidak dapat mengarahkan lalu lintas setelah melewati di belakang lokasi sisi pantainya.

Menurut Bobby, Radar GCI mulai menggantikan CH pada 1941-1942, memungkinkan satu stasiun mengendalikan seluruh pertempuran mulai dari deteksi dini hingga mengarahkan para pejuang untuk mencegat.

Bobby mengatakan, autsista ini merupakan bagian dari produksi konsorsium Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemenhan yang melibatkan Len Industri, LAPI ITB, Radar Telekomunikasi Indonesia, dan Infoglobal Teknologi Semesta. Bobby mengatakan, radar ini juga bagian dari program command, control, communication, computer, intelligence, surveillance, and reconnaissance (C4ISR). Radar ini dilengkapi command and control.

"Ketika beroperasi, pengontrol radar GCI dapat memberikan pengarahan dan pengawalan terhadap pesawat tempur dalam melakukan pencegatan atau intersep," ujar Bobby.

Dengan kemampuan tersebut, Bobby mengatakan, radar GCI mempunyai peran krusial dalam membangun network centric warfare (NCW), sebuah metode peperangan yang berbasis pada konektivitas jaringan komunikasi dan data secara real time dari markas ke unit-unit tempur dan sebaliknya.

Dalam pelaksanaannya, ucap Bobby, operator radar GCI harus bisa menghadapkan satu pesawat buru sergap untuk mengatasi paling tidak dua pesawat udara lawan, atau dua pesawat untuk minimal tiga pesawat musuh. Karena itu, operator radar GCI memiliki kemampuan yang tidak sembarangan.

"Selain harus mengantongi sertifikasi, operator radar GCI juga harus mempunyai kemampuan mengatur pesawat buru sergap dalam perang udara secara terbuka (dogfight),” kata Bobby menambahkan.

 


PSG Minta Rp 3,4 Triliun untuk Peminat Neymar

Klub mana pun yang tertarik pada Neymar harus membayar 220 juta euro.

SELENGKAPNYA

Sirkuit Mandalika Dibuka untuk Umum

ITDC menyediakan tarif tiket harian untuk mengikuti Mandalika Track Walk.

SELENGKAPNYA

Pelindo Bidik Pendapatan Rp 30,4 Triliun 

Capaian positif Pelindo pada 2021 sejalan dengan program merger yang telah dijalankan.

SELENGKAPNYA
×