Ustaz Dr Amir Faishol Fath | Republika

Khazanah

29 Jun 2022, 12:55 WIB

Setiap yang Berlebihan tidak Baik

Segala yang berlebihan termasuk dalam urusan ibadah bukan hanya tidak baik, melainkan juga ditolak dalam ajaran Islam.

DIASUH OLEH USTAZ DR AMIR FAISHOL FATH; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

Dalam urusan makan saja, Allah mengingatkan agar jangan berlebihan sekalipun itu halal. “Wa kuluu wasyrabuu wa laa tusrifuu” (QS al-A’raf:31). Kata “laa tusrifuu” artinya jangan melebihi kadarnya.

Maksudnya secara prinsip setiap orang harus mengukur diri ketika makan jangan sampai kekenyangan. Cara terbaik adalah mengikuti nasihat yang sangat populer: “Kuluu ‘indal juui wa tawaqqfuu qabla antasyba (Makanlah ketika lapar dan berhentilah sebelum kenyang).”

Syekh asy-Sya’rawi pernah menjelaskan bahwa di antara penyebab munculnya penyakit adalah karena pola makan yang berlebih-lebihan. Akibatnya ia mengalami overdosis yang memunculkan penyakit.

Maka, ketika muncul penyakit gula, misalnya, itu sebenarnya cara Allah menegur bahwa jatah Anda sudah habis untuk makanan yang mengandung gula. Karena itu, jaga makan sebagai solusinya. Jadi, adalah sunnatullah bahwa dalam urusan apa pun ketika berlebihan akan menyebabkan masalah.

Para penyair pernah memberikan nasihat menarik tentang cinta agar jangan berlebihan: “Ahbib habiibaka haunan maa ‘asa ayy yakuuna baghiidhaka yaumam maa (Cintailah kekasihmu sekadarnya karena boleh jadi suatu saat engkau akan membencinya).”

Sebaliknya, ketika Anda membenci seseorang janganlah berlebihan: “Wa abghid baghiidhaka haunam maa ‘asa ay yakuuna habiibaka yaumam maa (Silakan engkau benci kepada seseorang, tetapi janganlah berlebihan sebab boleh jadi suatu saat ia akan menjadi kekasihmu).”

 
Di sini kita mengerti mengapa Allah SWT mengajarkan agar seorang suami ketika marah hendaklah segera mengerem.
 
 

Di sini kita mengerti mengapa Allah SWT mengajarkan agar seorang suami ketika marah hendaklah segera mengerem, jangan tergesa-gesa memutuskan kata talak kepada istrinya, siapa tahu kelak pada kemudian hari ia menyesali itu: “La’allahhu yuhditsu ba’da dzaalika amraa (boleh jadi setelah itu Allah memutuskan suatu ketetapan yang baru)” (QS at-Talaq:1).

Begitu juga dalam urusan ibadah, tidak boleh dilakukan dengan cara yang berlebihan. Pada zaman Nabi pernah tiga orang sahabat masing-masing bertekad untuk melakukan suatu ibadah yang melampaui batas fitrahnya.

Satunya tidak akan tidur setiap malam untuk melakukan shalat Tahajud, lainnya akan berpuasa terus-menerus selama setahun tanpa berbuka, lainnya lagi, tidak akan menikah agar fokus ibadah.

Melihat itu, Nabi Muhammad SAW langsung menegur mereka: “Antumulldziina qultum kadza wa kadzaa (kamu yang tadi mengatakan begini-begini?)”, lalu ia menegaskan: “Ama wallahi inii la akhsyaakum lillaahi wa atqaakum lahuu lakinni ashuumu wa afthir, wa ushalli wa arqud, wa atazawwajun nisaa (Aku demi Allah lebih takut daripada kamu kepada Allah dan lebih bertakwa kepada-Nya, tetapi aku tidur, makan, dan menikah)” (HR Bukhari).

Ini bukti bahwa segala apa yang berlebihan termasuk dalam urusan ibadah bukan hanya tidak baik, melainkan juga ditolak dalam ajaran Islam.


Risiko Reputasi Dalam Pandangan Syariah

Apakah reputasi itu bagian dari risiko yang harus dimitigasi atau tidak?

SELENGKAPNYA

Bus Shalawat Dihentikan Sementara Jelang Armuzna

Potensi permasalahan diprediksi lebih besar karena jamaah sudah terpusat di Makkah.

SELENGKAPNYA

Jokowi Ajak G-7 Atasi Krisis Pangan

Rantai pasok global yang terimbas perang Ukraina-Rusia harus segera dipulihkan. 

SELENGKAPNYA
×