Logo Piala Dunia U-20 2021 | istimeewa

Kabar Utama

29 Jun 2022, 03:45 WIB

Penolakan Terhadap Timnas Israel Menguat

Gejolak di Tanah Air terjadi setelah tim nasional Israel memastikan lolos ke putaran final Piala Dunia U-20 2023.

JAKARTA – Gejolak di Tanah Air terjadi setelah tim nasional Israel memastikan lolos ke putaran final Piala Dunia U-20 2023. Indonesia yang menjabat sebagai tuan rumah berada di antara dua pilihan, yakni menerima kehadiran Israel atau kembali menolak keikutsertaan.

Namun, gelombang penolakan kini makin besar. Piala Dunia U-20 FIFA di Indonesia dijadwalkan akan berlangsung pada 20 Mei hingga 11 Juni 2023 mendatang.

Sepanjang sejarah timnas Israel, mereka belum pernah berlaga di ajang Piala Dunia U-20. Karena itu, keberhasilan lolos ke Piala Dunia U-20 2023 menjadi momen spesial untuk mereka karena bisa berlaga di ajang elite untuk kelompok junior tersebut.

Israel dipastikan lolos setelah berhasil melaju ke semifinal Piala Eropa U-19 2022 yang juga menjadi ajang kualifikasi Piala Dunia U-20 2023.

Bukan kali ini saja isu tentang Israel dan Indonesia memanas yang berkaitan dengan olahraga. Jauh sebelum keberhasilan Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20, Indonesia pernah mengambil sikap tegas atas Israel.

Pada era 1950-an, Presiden Sukarno dengan tegas mengambil keputusan untuk tidak bertarung dengan Israel. Momen itu terjadi ketika timnas Indonesia berjuang di fase kedua Kualifikasi Piala Dunia 1958 Zona Asia-Afrika. Tim besutan Anton Pogacnik tergabung dengan Israel, Sudan, serta Mesir.

Andai saja saat itu Indonesia memilih untuk tetap bertanding melawan Israel, bukan tidak mungkin mereka berpeluang besar untuk melaju ke putaran final Piala Dunia 1958 di Swedia. Namun, timnas Indonesia justru memilih menolak bertanding melawan Israel sehingga tiket untuk lolos ke Piala Dunia 1958 raib. Keputusan itu diambil karena instruksi langsung dari Presiden Sukarno.

Alasan Sukarno menarik pasukan Garuda Merah Putih dari atas lapangan karena masalah politis, yaitu solidaritas untuk Palestina. Indonesia menolak bertanding di kandang Israel dan permohonan Indonesia untuk bertanding di tempat netral juga ditolak FIFA hingga akhirnya Indonesia memutuskan mengundurkan diri.

Lembaga kemanusiaan Indonesia, Aqsa Working Group (AWG), menyatakan keberatan atas keikutsertaan timnas Israel U-20. Dalam pernyataan resmi yang diterima Republika, Selasa (28/6), AWG menyebut penjajahan dan tindakan kekerasan serta serangan brutal yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina telah melanggar hak asasi manusia (HAM).

Menurut AWG, penolakan ini didasarkan pada sejumlah hal. Pertama, komitmen bangsa Indonesia menentang semua jenis penjajahan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Kemudian, Presiden Sukarno pernah mencontohkan aksi konkret penentangan itu dengan melarang timnas Indonesia bertanding melawan Israel pada kualifikasi Piala Dunia 1958. Sikap itu sejalan dengan konstitusi Republik Indonesia.

“Presiden Joko Widodo dengan tegas menyerukan boikot produk Israel pada KTT OKI di Indonesia pada tahun 2016,” demikian bunyi pernyataan AWG.

 
Presiden Joko Widodo dengan tegas menyerukan boikot produk Israel pada KTT OKI di Indonesia pada tahun 2016.
 
 

Gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi terhadap Israel (BDS)

Indonesia secara tegas menyatakan menolak kedatangan timnas Israel untuk berpartisipasi di Piala Dunia U-20. Dalam pernyataannya, DBS menjelaskan, kehadiran timnas Israel merupakan bentuk “pemutihan” terhadap kejahatan HAM dan hukum internasional yang dilakukan Israel.

Jika Israel diterima bertanding di Indonesia, hal tersebut dinilai sebagai bentuk kemunduran komitmen Indonesia dalam mendukung kemerdekaan Palestina. “Israel memang memanfaatkan olahraga sebagai salah satu cara memutihkan diskriminasi, kejahatan perang, dan pelanggaran HAM mereka terhadap rakyat Palestina,” demikian pernyataan organisasi BDS di laman resmi.

Israel, menurut BDS, juga berulang kali merusak dan menghancurkan aset dan fasilitas olahraga Palestina yang sejatinya memiliki hubungan baik dengan masyarakat Indonesia.

BDS menilai Asosiasi Sepak Bola Israel (IFA) sebagai pengelola timnas Israel secara aktif melibatkan klub-klub sepak bola dari permukiman ilegal Israel di Tepi Barat, antara lain, dari wilayah Ariel, Giv'at, Ze'ev, Ma'ale Adumim, Oranit, dan Tomer. Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2334 (2016) sudah mengonfirmasi bahwa permukiman ilegal Israel adalah pelanggaran hukum internasional.

 
BDS menilai Asosiasi Sepak Bola Israel (IFA) sebagai pengelola timnas Israel secara aktif melibatkan klub-klub sepak bola dari permukiman ilegal Israel di Tepi Barat.
 
 

Di sisi lain, BDS Indonesia mengeklaim, urusan perkara timnas Israel bukan lagi perihal politik belaka. Ini merupakan ujian komitmen Indonesia dalam melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945.

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali menegaskan, penolakan terhadap timnas Israel U-20 pada ajang Piala Dunia U-20 2023 tidak bisa dibenarkan. Dia mengatakan, Israel sudah mendapatkan jaminan untuk bisa tampil dalam Piala Dunia U-20 di Indonesia. Hal itu sudah dibahas sejak 2019 lalu saat Israel belum dipastikan lolos.

“Sudah kami bahas sejak 2019. Semua negara yang lolos menjadi peserta Piala Dunia U-20 2023 dipersilakan untuk bermain,” kata Zainudin saat dihubungi Republika.

Zainudin memahami adanya penolakan dari berbagai pihak atas kedatangan Israel karena serangan dan penjajahan yang mereka lakukan kepada penduduk Palestina. Namun, Zainudin mengatakan, olahraga tidak bisa dikaitkan dengan politik.

“Jadi kan olahraga itu tidak ada urusan dengan politik. Karena itu, FIFA sudah menyampaikan kepada kami, siapa pun negara yang lolos, harus bisa bertanding di Indonesia. Jadi, tidak ada masalah. Pasti pihak keamanan kita akan memberikan rasa aman. Ini hal yang perlu diperhatikan,” katanya.

Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal PSSI Yunus Nusi akan menyampaikan kepada masyarakat bahwa Israel lolos sesuai dengan aturan FIFA. Karena itu, Israel atau tim mana pun yang memastikan diri lolos berhak untuk bermain di putaran final. Pemerintah Indonesia maupun PSSI tidak mempunyai kewenangan membatalkan keikutsertaan Israel.

“Soal Israel, saya rasa sudah ada tanda tangan atau agreement pemerintah tahun lalu. Siapa pun yang lolos, bisa datang. Israel tetap kami akomodasi. Itu adalah keputusan terakhir kami di rapat dengan pemerintah pada tahun lalu menyangkut Israel,” ujar dia.


Mahaka Perkuat Transformasi Digital

MCAS Group dan Mahaka Luncurkan Aplikasi Inaya.

SELENGKAPNYA

Bung Karno, Pemuda, dan Islam

Pandangan Bung Karno melihat dan menempatkan Islam sebagai pusat daya juang bagi kemajuan Indonesia.

SELENGKAPNYA

Pemprov DKI Cabut Izin Seluruh Outlet Holywings

Pemprov DKI mencabut izin usaha seluruh outlet Holywings yang ada di Jakarta.

SELENGKAPNYA
×