Ustaz Dr Amir Faishol Fath | Republika

Khazanah

20 Jun 2022, 18:00 WIB

Ucapan Terbaik Saat Tertimpa Musibah

Bukan bagaimana menghindari musibah, melainkan kita harus ridha sepenuh hati saat menerima musibah.

 

 

DIASUH OLEH USTAZ DR AMIR FAISHOL FATH; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

Allah SWT menegaskan bahwa musibah dan ujian berupa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, dan jiwa akan menimpa siapa saja dari makhluk-Nya: “Wa lanabluankkum bisyaiin minal khaufi wal juu’i wa naqshin minal amwaali wal anfusi wats tsmaarati”.

Huruf taukid (penegasan), berupa lam dan nun pada kata ‘lanabluanna’ untuk menunjukkan makna itu pasti terjadi. Jalan keluarnya adalah sabar.

Allah SWT berfirman pada bagian akhir ayat yang sama: “Wa basysyirish shaabiriin” (beri kabar gembira bagi orang yang sabar). Sabar dalam arti ridha kepada apa yang telah Allah takdirkan. Sebab apa yang Allah takdirkan pasti baik: “Kullamaa qaddarahullahu fa huwa khair”.

Dalam surah al-Baqarah:156, Allah SWT mengajarkan cara menjadi orang sabar pada saat musibah menimpa, yaitu mengucapkan: “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun”. Suatu pengakuan tauhid bahwa semua urusan dunia hanyalah milik Allah dan pasti akan kembali kepada-Nya.

Ucapan ini jika diungkapkan dengan hati yang dalam, semua yang terasa berat akan menjadi ringan. Mengapa kita harus bersedih atau kecewa dengan apa yang telah kembali kepada yang punya?

 
Mengapa kita harus bersedih atau kecewa dengan apa yang telah kembali kepada yang punya?
 
 

Lalu, Allah SWT menjamin pada ayat berikutnya, bagi orang yang sabar menerima takdir-Nya, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat, dan hidayah: “Ulaaika alaihim shalawatun warahmah wa ulaaika humul muhtaduun” (QS al-Baqarah:157).

Memang tidak ada takdir yang meleset, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Maa a’thaaka lam yakun liyushibaka wa maa ashaabaka lam yakun liyukhthiaka” (Apa yang bukan takdirmu tidak akan menimpamu dan apa yang menjadi takdirmu tidak akan salah alamat) (HR Abu Daud).

Benar, tugas kita sebagai hamba-Nya hanya bersabar menjalani musibah. Nabi Muhammad SAW menyebutkan, apa pun musibahnya: penyakit, kecemasan, kesedihan, luka, kesusahan, bahkan perih yang tertusuk duri: “Hattasy syaukah yusyaakuha”, semua itu menjadi penghapus dosa: “Illa kaffarallahu bihaa min khathaayaahu” (HR Bukhari-Muslim).

Dalam hadis lain dikatakan bahwa ketika Allah mencintai hamba-Nya, ia mengujinya untuk mendengarkan rintihannya: “Idzaa ahabballahu abdan ibtalaahu liyasma’ tadharru’ahu” (HR Baihaqi).

Catatan penting dalam hal ini adalah bukan bagaimana menghindari musibah, juga bukan bagaimana meratapinya, melainkan kita harus ridha sepenuh hati, saat menerima musibah tersebut.

Di antara doa Nabi Musa yang sangat populer dalam menjalani berbagai kesulitan hidup adalah: “Rabisyrahli shadrii wa yassirlii amri” (ya Allah lapangkan dadaku dan mudahkanlah urusanku) (QS Thaha: 25-26).

Sejak itu Nabi Musa tidak pernah sedikit pun menghadapi masalah kecuali Allah turun tangan: “Qaala qad uutita su’laka ya Musaa” (Allah menjawab: Aku telah berikan semua permitaanmu wahai Musa) (QS Thaha: 36).


Jatuh Bangun Dinasti Muwahhidun di Andalusia

Penguasa Muwahhidun ini menaruh perhatian yang besar pada perkembangan dunia pendidikan.

SELENGKAPNYA

Sejarah Dinasti Muwahhidun di Andalusia

Dinasti Muwahhidun yang menggantikan Murabithun di Andalusia itu berawal dari Ibnu Tumart.

SELENGKAPNYA

Waspadai Hasad demi Keutuhan Bangsa

Hasad dapat memasuki relung hati orang yang beriman.

SELENGKAPNYA
×