ILUSTRASI Salah satu bangunan peninggalan Dinasti Muwahhidun di Marrakesh, Maroko. Wangsa Muwahhidun menggantikan kejayaan Murabithun di Andalusia pada abad ke-12 | DOK WIKIPEDIA

Tema Utama

19 Jun 2022, 22:42 WIB

Jatuh Bangun Dinasti Muwahhidun di Andalusia

Penguasa Muwahhidun ini menaruh perhatian yang besar pada perkembangan dunia pendidikan.

OLEH HASANUL RIZQA

Dalam dunia politik, adanya penguasa dan oposisi merupakan hal yang lumrah. Yang satu ingin mempertahankan kedudukan, sedangkan yang lain hendak merebutnya. Pergiliran kekuasaan merupakan suatu sunatullah. Sejarah membuktikan premis tersebut.

Betapa banyak daulah Islam yang runtuh. Ada banyak pula daulah lain yang lahir sesudahnya. Sayangnya, jatuh bangun dinasti-dinasti Muslim tidak sepi dari konflik horizontal—yang memperhadapkan antarsesama saudara seiman.

Kondisi demikian terjadi saat peralihan kuasa di Andalusia pada abad ke-12, yakni dari Dinasti Murabithun ke Muwahhidun. Saat masih dipimpin Amir Ali bin Yusuf (1107-1143), Murabithun cukup stabil. Sebab, sang amir dapat meminimalkan gangguan yang menyasar wibawa kepemimpinannya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Stabilitas politik pada masanya sempat terguncang oleh gerilya yang dimotori Abu Abdullah Muhammad bin Tumart (1080-1130). Mubaligh yang piawai dalam berdebat itu mengusung ideologi keagamaan yang dinamakan al-Muwahhidun. Sebab, dai dari suku Berber ini mengeklaim diri dan golongannya sebagai yang paling murni dalam mengesakan Allah atau bertauhid.

Prof Raghib as-Sirjani dalam Bangkit dan Runtuhnya Andalusia  (2013) menuturkan, Ibnu Tumart membangun benteng pertahanan di Tin Mal. Daerah itu berlokasi sekira 100 km dari ibu kota Murabithun, Marrakesh. Sejak tahun 1122, al-Muwahhidun mengobarkan perlawanan bersenjata terhadap pemerintah.

Kalau yang diserukannya kepada publik adalah agitasi politik saja, mungkin gerakan anti-Murabithun itu tidak akan membesar. Namun, yang disebarluaskannya di tengah masyarakat adalah tuduhan bahwa Amir Ali dan para pembesar negeri telah kafir. Sebab, menurut Ibnu Tumart, penguasa memiliki akidah yang menyimpang, yakni mujasimin atau tajsim.

Seorang mujasimin meyakini bahwa Allah memiliki anggota tubuh—semisal tangan, kaki, atau kedua mata—selayaknya manusia. Selain itu, Allah juga dipercaya bersemayam di lokasi tertentu, seperti Arsy.

 
Tudingan yang disuarakan Ibnu Tumart itu didasari semangat takfiri sekaligus ekstremisme.
 
 

As-Sirjani menilai, tudingan yang disuarakan Ibnu Tumart itu didasari semangat takfiri sekaligus ekstremisme. Lebih lanjut, menurut sejarawan itu, sang penggerak al-Muwahhidun menunjukkan gelagat pemikiran seperti kaum Mu’tazilah. “Sebagai konsekuensi karena menuduh kafir terhadap selain orang-orang Muwahhidun, maka Muhammad bin Tumart menganggap halal darah mereka (orang-orang Murabithun),” tulisnya.

Murabithun merupakan sebuah wangsa yang terbentuk pada abad ke-11 oleh suatu gerakan taklim. Pada mulanya, dinasti tersebut merupakan konfederasi suku-suku Berber yang bermukim di Mauritania. Lantas, tokohnya berguru kepada seorang fakih mazhab Maliki, yaitu Abdullah bin Yasin.

Aliran fikih Imam Maliki berpegang teguh pada akidah ahlus sunnah wal jama’ah (aswaja) sehingga meyakini bahwa Allah bukanlah jisim atau eksistensi fisikal yang mempunyai volume. Adapun persoalan mengenai perkataan “Allah bersemayam di atas Arsy” itu bersumber dari pemaknaan atas Alquran surah Taha ayat lima.

Ar-Rahmaanu ‘alal ‘Arsy istawaa.” Orang awam mungkin akan mengartikan kata istawaa secara harfiah sebagai ‘duduk'. Pengartian itulah yang kemudian menjadi senjata bagi kaum ekstremis untuk serampangan mengafirkan sesama Muslim.

photo
ILUSTRASI Muhammad bin Tumart dan muridnya yang paling awal, Abdul Mumin bin Ali dalam persiapan menyerang benteng Marrakesh - (DOK WIKIPEDIA)

Perang terbuka

Tiga tahun sejak mendirikan benteng di Tin Mal, Ibnu Tumart memiliki puluhan ribu pengikut. Mereka bahkan menganggapnya sebagai “al-Mahdi” atau juru selamat. Pada 1130, gerakan al-Muwahhidun ini mengumumkan perang terhadap Murabithun. Momen tersebut dikenang sebagai Pertempuran Bustan.

Seorang murid Ibnu Tumart yang senior, Abdul Mu’min bin Ali diangkat menjadi komandan pasukan Muwahhidun. Selama 20 hari, Amir Ali bertahan di dalam kota Marrakesh. Walaupun dikepung, Murabithun dapat memukul balik, khususnya setelah mendapatkan bala bantuan dari Sijilmasa.

Walaupun kalah, Ibnu Tumart tidak menunjukkan tanda-tanda takut atau kecil hati. Di hadapan puluhan ribu jamaahnya, ia terus menggelorakan semangat dengan pelbagai cerita-cerita dusta. Intinya, mereka diteguhkan pendiriannya bahwa gerakan Muwahhidun ini benar, sedangkan Murabithun sesat adanya.

Dalam upaya serangan berikutnya, keadaan benar-benar kian buruk bagi Muwahhidun. Bahkan, di sebuah tempat tak jauh dari Marrakesh pasukan inti tercerai berai. Ibnu Tumart pun ikut tewas. Abdul Mu’min bin Ali mengurus jenazah pemimpin spiritualnya tersebut, tetapi merahasiakan kematian sang “al-Mahdi” hingga tiga tahun lamanya.

 
Abdul Mu’min bin Ali mengurus jenazah pemimpin spiritualnya tersebut, tetapi merahasiakan kematian sang “al-Mahdi” hingga tiga tahun lamanya.
 
 

Alhasil, gerilya terus dilakukan para penentang Murabithun ini, khususnya di sekitar Pegunungan Atlas. Walaupun Ibnu Tumart dan Amir Ali sendiri telah wafat, upaya kudeta itu tidak turut berkurang. Malahan, besarnya kian menjadi-jadi.

Setelah Amir Ali meninggal dunia, Murabithun dipimpin berturut-turut oleh Ibrahim bin Tasyrifin dan Ishaq bin Tasyrifin. Keduanya semakin goyah oleh perlawanan yang dilakukan Muwahhidun dan kelompok-kelompok antipemerintah lainnya. Bahkan, pada 1147 akhirnya Marrakesh dapat dikuasai pasukan Abdul Mu’min.

Ibrahim dan Ishaq terpaksa melarikan diri ke Pegunungan Atlas. Musuh mereka tidak kurang kerasnya dalam memburu keduanya. Sekitar bulan April di tahun yang sama, para prajurit Abdul Mu’min dapat menangkapnya. Mereka pun dieksekusi mati. Wafatnya menandakan tumbangnya Murabithun dan tegakknya Muwahhidun sebagai dinasti baru.

photo
Masjid Raya Seville yang kini telah menjadi Katedral di Seville, Spanyol. Menara di sisi bangunan utama kerap dinamakan Giralda oleh masyarakat lokal - (DOK WIKIPEDIA)

Kuasai Andalusia

Sejak 1140-an, Andalusia lagi-lagi jatuh ke dalam kekacauan politik. Sebab utamanya, absennya pemerintahan yang cukup berwibawa untuk mengatur seluruh negeri-negeri kecil atau taifa setempat. Dinasti Murabithun yang dalam beberapa dekade mengisi peran itu, terlalu sibuk menghadapi upaya kudeta yang dilakukan Muwahhidun di Maghribiyah.

Pada akhirnya, gerakan yang berimam pada Muhammad bin Tumart itu berhasil menggulingkan kekuasaan Murabithun seluruhnya. Wangsa Muwahhidun yang dipimpin Abdul Mu’min bin Ali tentunya berambisi melebarkan pengaruh bukan hanya di Maghribiyah, tetapi juga Semenanjung Iberia.

Pada 1150, Abdul Mu’min berhasil menguasai Andalusia seluruhnya. Ia menjadikan Seville sebagai pusat pemerintahan Muwahhidun di Iberia. Setelah menyingkirkan setiap ancaman politik, stabilitas nasional pun mulai kukuh kembali.

Dimulailah corak kepemimpinannya yang berfokus pada pembangunan terencana. Ia mendirikan banyak masjid, madrasah, perpustakaan, rumah sakit, serta pelbagai fasilitas umum lainnya. Menurut as-Sirjani, penguasa Muwahhidun ini menaruh perhatian yang besar pada perkembangan dunia pendidikan.

Menukil perkataan sejarawan abad ke-13, Abdul Wahid al-Marrakesyi, “ia (Abdul Mu’min) sangat respek dan menyukai para ulama. Ia rajin mengundang mereka ke kediamannya guna berdialog bersama, membahas pemerintahan dan umat.”

 
Abdul Wahid menggiatkan divisi intelijen di dunia kemiliteran. Salah satu konsennya adalah membangun armada maritim yang paling tangguh di seluruh Mediterania kala itu.
 
 

Kebijakannya dalam ranah pertahanan negara juga sama baiknya. Abdul Wahid menggiatkan divisi intelijen di dunia kemiliteran. Salah satu konsennya adalah membangun armada maritim yang paling tangguh di seluruh Mediterania kala itu. Baginya, kerajaan-kerajaan Kristen di Eropa dapat mengancam dan mengganggu wilayah Andalusia kapanpun sehingga kewaspadaan harus terus ditingkatkan.

Dalam masa pemerintahannya, Wangsa Muwahhidun melakukan banyak ekspansi. Antara tahun 1150 dan 1160, Abdul Mu’min sukses menguasai daerah-daerah seperti Tunusia, Tripoli, dan sebagian Ifriqiyah. Ia pun dapat mengusir kaum Salibis dari kota-kota pelabuhan strategis di pesiisr Afrika utara.

Abdul Mu’min wafat dalam usia 69 tahun. Ia digantikan putranya yang bernama Yusuf. Sang pangeran berjasa dalam meneruskan legasi ayahnya. Termasuk di antaranya adalah penyempurnaan Masjid Raya Seville—kini menjadi Katedral Sevilla, Spanyol, dan termasuk kompleks “warisan peradaban dunia” versi UNESCO. Keindahan menara pada kompleks bangunan tersebut, yang masyhur dengan sebutan “Giralda” sangatlah memukau.

 
Pangeran berjasa dalam meneruskan legasi ayahnya. Termasuk di antaranya adalah penyempurnaan Masjid Raya Seville.
 
 

Perhatiannya tidak hanya berpusat di Iberia. Untuk masyarakat Maghribiyah, ia pun membangun pelbagai fasilitas publik yang tidak kalah hebatnya. Salah satunya adalah kompleks sekolah Islam, Ribath al-Fath. Perpustakaan Iskandariah dalam hal ini dijadikannya sebagai model. Ada pula rumah sakit besar, yang menurut al-Marrakesyi sebagai “fasilitas kesehatan paling luar biasa” pada masanya.

Pada 1184, Yusuf memimpin pasukan dalam Pertempuran Santarem. Dalam palagan itu, Muwahhidun berperang melawan Portugis yang dikomandoi Afonso I. Sayangnya, kerajaan Muslim tersebut mengalami kekalahan. Bahkan, sang amir pun gugur akibat luka yang dideritanya.

Penerusnya bernama Yaqub. Pemimpin yang bergelar al-Manshur itu sukses memenangkan Perang Alarcos pada 1195. Imbasnya, Kerajaan Kastilla sempat mengalami degradasi selama beberapa tahun. Akan tetapi, kewibawaan Muwahhidun di Andalusia tidak lagi kuat, seiring dengan menurunnya kondisi kesehatan sang amir.

Yaqub meninggal dunia. Lantas, Muhammad al-Nashir naik sebagai penggantinya. Kepemimpinan raja ini tidaklah kuat. Bahkan, pasukannya kemudian kalah dalam Perang al-Uqab pada Juli 1212. Kekalahan terhadap aliansi kerajaan-kerajaan Kristen Iberia itu merupakan titik balik bagi kejayaan Islam di bagian Benua Eropa itu.

Gerbang Inkuisisi Spanyol

Pada awal tahun 1212, geopolitik di Semenanjung Iberia cenderung merugikan kaum Muslimin setempat. Sebab, negeri-negeri Salibis yang semula saling bersaing, kemudian membentuk persekutuan yang solid. Raja-raja Kristen sepakat untuk beraliansi guna memerangi dinasti Islam terkuat saat itu di sana: Muwahhidun.

Amir Muwahhidun, Muhammad al-Nashir, sesungguhnya memiliki keunggulan. Di atas kertas, jumlah pasukannya yang mencapai 20 ribu atau 30 ribu personil lebih banyak daripada musuh yang terdiri atas belasan ribu prajurit. Namun, yang kurang dari pihaknya adalah semangat persatuan dan komitmen bersama.

Dahulu, ketika ayahnya—Yaqub—masih berkuasa, Muwahhidun sudah dilanda ketidakstabilan politik. Tiap provinsi di Andalusia seperti enggan mengakui kekuasaan daulah dari suku Berber tersebut. Sementara itu, gangguan dari negeri-negeri Kristen di perbatasan kian menjadi.

Karena itu, ada kesan bahwa al-Nashir cenderung memusatkan perhatiannya pada muasal kekuasaan Muwahhidun, yakni Maghribiyah. Bagaimanapun, ancaman yang disebarkan aliansi Kristen tidak mungkin diabaikan begitu saja.

photo
Lambang bendera Dinasti Muwahhidun (1121-1269) - (DOK WIKIPEDIA)

Maka, kembalilah dirinya berfokus pada Andalusia. Pada Juli 1212, kedua belah pihak bertemu di lembah Jaen. Koalisi Kristen—yang terdiri atas Kerajaan Kastilla, Aragon, dan berbagai kesatuan ksatria—dapat mengantisipasi serangan pasukan Muslimin. Hari demi hari, kekuatan Muwahhidun kian terkikis.

Akhirnya, wangsa Islam tersebut kalah sama sekali. Diperkirakan, Muwahhidun kehilangan tidak kurang dari 80 persen dari total pasukan yang mencapai 20 ribu personel. Banyak sejarawan menilai, kemenangan Salibis dalam pertempuran itu—yang lantas dinamakan Perang al-Uqab—mengawali momen Inkuisisi Spanyol.

As-Sirjani dalam Bangkit dan Runtuhnya Andalusia (2013) mengatakan, di antara sebab-sebab kemunduran Muwahhidun sudah tampak beberapa masa sebelum al-Uqab terjadi. Salah satunya adalah kecenderungan para menteri untuk melaporkan hal-hal yang menyenangkan saja di mata penguasa. Tidak mengherankan apabila satu per satu raja dinasti Muslim ini lengah oleh ancaman besar, yakni bersatunya para musuh yang semula saling terpecah belah.


Sejarah Dinasti Muwahhidun di Andalusia

Dinasti Muwahhidun yang menggantikan Murabithun di Andalusia itu berawal dari Ibnu Tumart.

SELENGKAPNYA

Cara Mudah dan Aman Berkurban

Pengemasan dan distribusi daging kurban pun selalu diawasi dengan ketat.

SELENGKAPNYA

Harmonis Berkat Keterbukaan Finansial

Idealnya tiap pasangan suami istri menerapkan transparansi finansial.

SELENGKAPNYA
×