Suporter Persib Bandung menyalakan suar (flare) pada pertandingan Piala Presiden 2022 di Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Kota Bandung, Ahad (12/6/2022). | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Kabar Utama

20 Jun 2022, 03:50 WIB

‘Kita Menang Pertandingan, Tapi Kalah dalam Kehidupan’

PSSI mengambil tindakan dengan melakukan penyelidikan atas meninggalnya dua korban.

OLEH HARTIFIANY PRAISRA

Duka kembali datang dari sepak bola Tanah Air. Untuk kesekian kalinya, suporter harus kehilangan nyawa. Pertandingan Persib versus Persebaya pada Jumat (17/6) malam yang harusnya menjadi tontonan menyenangkan, terpaksa harus ternoda dengan meninggalnya dua pendukung Maung Bandung.

Nyawa bukanlah harga untuk menikmati sepak bola. Dua Bobotoh, Asep Ahmad Solihin asal Kota Bandung dan Sopiana Yusuf asal Bogor, meninggal diduga karena berdesakan demi menyaksikan laga Persib versus Persebaya di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung.

Puluhan ribu Bobotoh yang memiliki tiket justru tak bisa masuk sehingga penjebolan gerbang terjadi. Kritik pun datang dari berbagai kalangan, tak terkecuali para pemain.

“Kita menang dalam pertandingan, tetapi sayang kita kalah dalam kehidupan. Bagi saya, nyawa tidak ada bandingannya, apalagi dengan sepak bola,” tulis bek Persib Nick Kuipers melalui akun Instagram-nya yang diunggah pada Sabtu (18/6).

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Nick Kuipers (kuipersnick)

Dalam pertandingan penyisihan Grup C Piala Presiden 2022 tersebut, Persib unggul 3-1. Nick menjadi salah satu pencetak gol untuk Persib. Nick menyebut tragedi tersebut harus dijadikan pelajaran agar tak terulang.

Menurut dia, sepak bola hanyalah permainan yang tidak ada artinya jika harus dibayar dengan nyawa. “Mari jadikan pelajaran untuk kita semua, tanpa terkecuali. Keselamatan harus jadi yang utama dan saya berharap tidak ada peristiwa lain di masa depan,” tulis Nick.

Salah satu saksi mata peristiwa memilukan tersebut adalah Reihan Fauzi, warga Cibaduyut, Kota Bandung. Reihan menjadi salah satu korban yang mengalami cedera karena tertimpa pagar dan terinjak-injak suporter lain yang memaksa masuk.

“Waktu pas pukul 19.00 lebih pintu ditutup, sudah tidak ada panpel (panitia penyelenggara) dan tidak ada polisi. Dari belakang merangsek ke depan. Saya posisi di tengah dan saya sama almarhum (Asep). Saya di depan, almarhum di belakangnya,” kata Reihan kepada Republika.

photo
Ratusan Bobotoh menggelar aksi solidaritas di depan Graha Persib, Kota Bandung, Ahad (19/6/2022). Ini sebagai aksi solidaritas setelah dua Bobotoh tewas di Stadion GBLA. - (Hartifiany Praisra/Republika)

Reihan berada di depan gerbang V bersama korban tewas, Asep Ahmad Solihin. Reihan sempat pingsan dan diselamatkan oleh PMI, tapi Asep meninggal dunia saat dibawa ke rumah sakit.

“Yang depan jatuh, otomatis saya ikut jatuh, dari situ pagar yang di pinggir juga roboh ikut nimpa ke saya, terus yang dari belakang merangsek ke depan. Enggak ada yang menyelamatkan, jadi keinjak terus,” kata Reihan.

Reihan yang pingsan pun akhirnya dibawa ke posko PMI. Setelah sadar, dia bergegas mencari Asep yang tidak bisa dia hubungi. Reihan bersyukur masih bisa tertolong jika mengingat banyaknya korban yang berjatuhan di gerbang V. “Kepala sama ulu hati sempat keinjak-injak. Banyak banget yang jatuh juga,” kata Reihan.

Diselidiki

Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) mengambil tindakan dengan melakukan penyelidikan atas meninggalnya dua korban tersebut. Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan memastikan akan menginvestigasi secara menyeluruh untuk mencari letak permasalah dari insiden itu.

“Kita sudah memerintahkan tim investigasi untuk mendalami kenapa bisa terjadi, dan internal PSSI juga membuat itu. Jadi langsung bisa datang ke lokasi dan TKP serta mengumpulkan panitia setempat. Kita tunggu saja,” kata Iriawan di Bandung, Ahad (19/6).

Panita pelaksana (panpel) pertandingan hanya mencetak 15 ribu tiket. Namun, pada match summary tertulis bahwa jumlah penonton mencapai 37.872 penonton. Hal itu pun menimbulkan pertanyaan karena pada saat yang sama masih banyak pemilik tiket yang justru tidak dapat masuk ke stadion. 

Pertanyaan lain pun muncul ketika banyaknya orang yang tak bertiket justru bisa menonton langsung, sedangkan yang bertiket justru kehilangan nyawa. Contoh yang jelas adalah banyaknya tamu penting yang datang juga membawa rekan-rekannya untuk menonton.

Ketua Organizing Committee PSSI untuk Piala Presiden Akhmad Hadian Lukita menyoroti hal itu dan akan mengevaluasinya.

photo
Ekspresi kekecewaan bek Persib Henhen Herdiana pada laga Grup C Piala Presiden di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung, Jumat (17/6/2022). Persib Bandung berhasil meraih poin penuh dengan skor 3-1 dalam pertandingan itu. - (Republika/Yogi Ardhi)

“Kalau saya, belum tahu. Kita akan evaluasi juga. Kita coba lihat, karena di pertandingan sebelumnya saya tidak hadir,” kata Akhmad.

Akhmad mengeklaim besarnya antusias suporter atas kembalinya sepak bola tidak hanya terjadi di Bandung. Di tiga kota tuan rumah lainnya, yaitu Samarinda, Solo, dan Malang antusiasme juga terlihat. Namun, Bandung memiliki antusiasme yang lebih besar daripada tiga kota lainnya.

Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali meminta PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB), penyelenggara turnamen pramusim Piala Presiden 2022, untuk menyelidiki kasus wafatnya suporter di Stadion GBLA.

“SOP yang berlaku di stadion ketika itu harus dievaluasi. Pemerintah akan menunggu laporan resmi dari PSSI dan PT LIB. Tidak boleh ini terulang lagi karena pertandingan masih banyak yang harus dilakukan,” ujar Menpora.

Sumber : Antara


Hujan Bulan Juni yang Menyiksa Orang-Orang Belanda di Jawa

Di Batavia pada Juli 1895, orang dibuat bingung oleh cuaca.

SELENGKAPNYA

Zikir Itu Sunah atau Wajib?

Baik di langit maupun di bumi, semua makhluk berzikir mengingat Allah.

SELENGKAPNYA

Masjid Raya Aljazair, Terbesar Ketiga Sedunia

Dengan tinggi menara dua kali Monas Jakarta, fungsinya tidak sekadar hiasan.

SELENGKAPNYA
×