Peserta delegasi negara G20 berbincang-bincang sebelum memulai rapat pertemuan | ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha

Ekonomi

11 Jun 2022, 11:32 WIB

Ekonomi Islam Ditawarkan ke G-20

G20 menjadi momentum berharga untuk menjadikan Indonesia sebagai poros ekonomi syariah.

JAKARTA -- Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin mendorong Presidensi G-20 Indonesia menjadi ajang untuk menawarkan ekonomi Islam sebagai salah satu solusi pemulihan ekonomi global. Wapres menilai, sebagai negara bermayoritas penduduk Muslim, sudah saatnya Indonesia mendorong ekonomi Islam sebagai pilihan ekonomi global yang dapat menyentuh semua lapisan masyarakat.

"Presidensi G-20 dapat dimanfaatkan untuk menawarkan ekonomi syariah sebagai solusi bagi pemulihan ekonomi global yang inklusif dan berkelanjutan," ujar Wapres saat menghadiri acara Halal Bihalal dan Silaturahmi Kerja Nasional Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) 2022 di Gedung Dhanapala, Jakarta, Jumat (10/6).

Kiai Ma'ruf menilai, ekonomi Islam saat ini memiliki modal yang sangat baik dalam hal penguatan maupun ketahanan ekonomi. Secara khusus, Ma'ruf menyebut, pertumbuhan positif terus terjadi pada sektor ekonomi dan keuangan syariah global. Pada 2022, pengeluaran Muslim global diperkirakan tumbuh sebesar 9,1 persen.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Sri Mulyani Indrawati (smindrawati)

Pada 2021, umat Islam juga mengeluarkan 2 triliun dolar AS untuk sektor makanan, farmasi, dan gaya hidup lain berprinsip syariah. Sementara itu, potensi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah Indonesia pun sangat baik, yakni per Desember 2021 total aset keuangan syariah Indonesia tidak termasuk saham syariah mencapai Rp 2.050 triliun.

 

Atas dasar itu, Presidensi G-20 yang saat ini dipegang oleh Indonesia dapat dijadikan sebagai momentum pemulihan ekonomi global salah satunya melalui ekonomi Islam. "Negara-negara harus bahu-membahu, sehingga tidak ada negara yang tertinggal. Pulih satu, pulih semua. Hal tersebut sejalan dengan nilai-nilai Islam sehingga capaian atas sektor prioritas G20 tersebut merupakan fondasi penting bagi pengembangan ekonomi Islam," ujar Ma'ruf.

Ma'ruf mengatakan, potensi besar ini akan dapat berkembang dengan baik apabila segenap pelaku ekonomi dan keuangan syariah menerapkan tata kelola yang baik dengan menekankan prinsip-prinsip kesesuaian syariah. Ia pun mendorong IAEI untuk turut ambil bagian dalam pengembangan tersebut.

Ia juga meminta IAEI semakin memperkuat sinergi antarahli ekonomi Islam dalam rangka pemulihan ekonomi nasional dan global. Khususnya, untuk mewujudkan cita-cita Indonesia menjadi pusat produsen halal terkemuka dunia.

 
Saya berharap melalui halal bihalal ini muncul inovasi baru dalam rangka penguatan peran lembaga keuangan syariah sebagai garda terdepan pemulihan ekonomi nasional pascapandemi.
 
 

"Saya berharap melalui halal bihalal ini muncul inovasi-inovasi baru dalam rangka penguatan peran lembaga keuangan syariah sebagai garda terdepan pemulihan ekonomi nasional pascapandemi," kata Ma'ruf.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang juga Ketua Umum IAEI mengatakan, Silaknas IAEI juga merupakan rangkaian persiapan menuju Muktamar IAEI kelima. Sri mengatakan, IAEI sebagai wadah dari para pakar memiliki komitmen di dalam mengembangkan ekonomi syariah di Indonesia.

Meskipun terjadi pandemi Covid-19, semangat pengurus IAEI tidak surut dalam melakukan kajian pengembangan pendidikan dan sosialisasi ekonomi Islam demi kemajuan ekonomi nasional.

Menurut Sri, pada 2020 hingga 2021 program IAEI berfokus pada pembahasan isu penting dalam pembangunan ekonomi syariah yang lebih inklusif di Indonesia. "IAEI berkontribusi mengarusutamakan ekonomi syariah dalam membahas dan memberi solusi terhadap isu-isu strategis global dan nasional, seperti COP 26, Presidensi G-20 Indonesia, RUU ekonomi syariah, RUU harmonisasi peraturan perpajakan, RUU hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah, dan pencapaian sustainable development goals," ujarnya.

Sri menyampaikan, IAEI di dalam melakukan kegiatan juga terus mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan penelitian-penelitian terkait ekonomi syariah. IAEI berupaya memberikan solusi mismatch antara industri, ekosistem ekonomi syariah, dan perguruan tinggi.

Selain itu, IAEI juga ikut aktif meluruskan persepsi masyarakat yang kurang tepat terkait praktik-praktik ekonomi syariah di Indonesia. Termasuk di antaranya terkait pengelolaan dana haji, riset, dan pengembangan inovasi pasar modal syariah, filantropi, dan blended finance.

Dari kegiatannya, IAEI juga membuat program Sharia Business and Academic Synergy untuk menyelaraskan dan menyempurnakan kurikulum rumpun program studi ekonomi dan keuangan syariah. "Agar sesuai dengan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi," kata Sri. ';

Covid-19 Masih Terkendali

Menkes membenarkan adanya empat kasus mutasi SARS-CoV-2 omikron baru dari subvarian BA.4 dan BA.5 di Indonesia.

SELENGKAPNYA

WHO: Data Covid-19 dari Cina ‘Hilang’

Hilangnya data ini akan menambah keraguan kemungkinan menentukan asal-usul virus Covid-19.

SELENGKAPNYA

Hak Manusia dan Lingkungan Hidup

Kerakusan manusia atas sumber daya ekologi sudah melebihi batas kemampuan bumi untuk memenuhinya.

SELENGKAPNYA
×