Hidup Saidah Sakwan penuh dengan pengalaman pergerakan dan organisasi zakat. | DOK Pribadi

Uswah

01 Jun 2022, 22:44 WIB

Mengabdi dalam Pemberdayaan Zakat

Hidupnya penuh dengan pengalaman pergerakan dan organisasi zakat.

OLEH IMAS DAMAYANTI

JAKARTA -- Melakukan pengabdian bukanlah pilihan yang sederhana, terlebih bagi seseorang dengan riwayat karier yang mentereng di dunia profesional. Namun, rasanya Indonesia tidak pernah kekurangan jiwa-jiwa pilihan yang memilih jalur pengabdian sebagai ladang dakwah dan amalnya.

Kiprah Saidah Sakwan sudah dikenal publik dengan cukup lama. Muslimah kelahiran Demak itu identik dengan pergerakan dan organisasi yang menghiasi perjalanan bangsa Indonesia pada dekade modern ini. Dia malang-melintang dan dikenal publik sebagai seorang akademisi, mantan anggota DPR, aktif di NU, pendiri CIPS, dan juga mantan komisioner KPPU.

Meski begitu, dia kini mengabdikan dirinya untuk mengelola dan melakukan pemberdayaan zakat di Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). “Begitu masuk Baznas, saya dihadapkan pada angka kemiskinan sebanyak 26,3 juta jiwa pada 2021 awal. Saya juga dihadapkan dan bertemu dengan kelompok-kelompok rentan,” kata Saidah saat dihubungi Republika, akhir pekan lalu.

Saidah bercerita saat ia melakukan pertemuan dengan komunitas pemulung di wilayah Menteng Dalam, Kasablanka, Jakarta. Terdapat 220 kepala keluarga (KK) yang hidup di area perkuburan Cina, pada saat itulah rasa kemanusiaannya kian tereksplorasi. Dia menyadari bahwa ke-220 KK tersebut merupakan bagian dari 26,3 juta jiwa rakyat Indonesia yang hidup dalam garis kemiskinan dan harus diberdayakan.

Pada kesempatan itu pula, pihaknya bertemu dengan satu keluarga yang berisikan orang lanjut usia dengan dua anak. Keempat orang itu harus hidup di sebuah kamar berukuran 2x3 meter. Tempat tinggal tak layak itu berada di dekat apartemen mewah di Kasablanka.

“Ketimpangan itu adalah fakta-fakta sosial yang harus diselesaikan. Makanya, dalam Alquran itu fungsi zakat adalah redistribusi,” kata dia.

Dari sanalah ia pun bersama Baznas kian terdorong untuk bekerja keras menyambungkan asa para mustahik agar memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Saidah memercayai bahwa pemberdayaan yang optimal terhadap para mustahik dengan dukungan zakat dapat menjadi solusi yang menopang kehidupan para dhuafa secara berkelanjutan.

Dalam program pemberdayaan, misalnya, dia bercerita bahwa Baznas telah melakukan beragam inovasi. Misalnya dalam aspek ekonomi, program Z Chicken yang diusung Baznas telah hadir di ribuan titik sekitar Pulau Jawa. Program ini merupakan dukungan serta pemberdayaan yang dilakukan dari hulu ke hilir yang memberikan penghasilan kepada para mustahik.

“Program Z Chicken ini sangat powerfull. Di hilirnya banyak mustahik yang bisa berjualan makanan ayam dengan laba bersih sekitar Rp 3 juta - 6 juta per bulan. Di hulunya, kita berdayakan peternak ayam, bahkan ada peternak yang bilang pendapatannya bisa Rp 16 juta per bulan,” kata Saidah.

Energi yang menggugah hati Saidah adalah mendapatkan kisah para mustahik yang berhasil keluar dari zona kesempitan ekonomi berkat adanya pemberdayaan tersebut. Mereka segera mendistribusikan penghasilannya untuk investasi pendidikan anak. Hal itu dinilai sebuah langkah maju para mustahik yang sangat progresif.

Kini, berkat pemberdayaan yang dilakukan di sejumlah aspek itu, Saidah mensyukuri hadirnya transformasi para mustahik yang kini telah menjadi pezakat. Dari sanalah ia pun menyadari bahwa kerja keras atas pengabdian dalam pemberdayaan zakat berdampak nyata.

Menularkan semangat filantropi

Di samping aktivitasnya yang padat, Saidah mensyukuri hadirnya dukungan keluarga terhadap langkah pengabdian yang dia pilih. Meski waktu berkumpul dengan keluarga cukup terbatas, nyatanya Saidah begitu terkejut dan kagum dengan apa yang dilakukan sang anak untuk dirinya.

“Anak saya ada yang kuliah di UI. Saya kaget betul ketika dia melakukan aktivitas filantropi dan berhasil mengumpulkan Rp 22 juta dalam jangka waktu yang cukup singkat. Ternyata, apa yang saya lakukan, alhamdulillah menjadi teladan dan ditiru oleh anak saya,” kata dia.

photo
Hidup Saidah Sakwan penuh dengan pengalaman pergerakan dan organisasi zakat. - (DOK Pribadi)

PROFIL

Nama lengkap: Saidah Sakwan, MA

Tempat, tanggal, lahir: Demak, 7 Juli 1971

Riwayat pendidikan: S-1 IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1996), S-2 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2003)

Riwayat aktivitas: Wakil Ketua PP LP Maarif PBNU (2016-sekarang), Wakil Ketua PB IKAPMII (2018-2023), Pendiri CIPS (2015-sekarang), pendiri IRCOS Indonesia (1999-sekarang).

Riwayat pekerjaan: Dosen di IAIN Raden Intan Lampung (1987-1999), anggota DPR RI (2004-2009), Komisioner KPPU RI (2012-2018). Pimpinan Baznas RI (sekarang).


Merevitalisasi Turats Ulama Tanah Air

Turats merupakan warisan ulama dahulu yang menyimpan banyak kajian keislaman.

SELENGKAPNYA

Epidemi Rokok

Pandemi Covid-19 kini mungkin menjelang usai. Namun epidemi rokok entah kapan akan berakhir.

SELENGKAPNYA

Menyusui Bayi Sepersusuan Usia Lebih Dua Tahun

Para ulama berselisih pendapat soal menyusui bayi susuan yang sudah besar.

SELENGKAPNYA
×