Para ulama berselisih pendapat soal menyusui bayi susuan yang sudah besar. | Republika/Yogi Ardhi

Fikih Muslimah

01 Jun 2022, 21:14 WIB

Menyusui Bayi Sepersusuan Usia Lebih Dua Tahun

Para ulama berselisih pendapat soal menyusui bayi susuan yang sudah besar.

OLEH IMAS DAMAYANTI

 

Para ulama sepakat bahwa pada dasarnya hal-hal yang diharamkan karena hubungan persusuan sama dengan hal-hal yang diharamkan karena hubungan nasab. Sementara, para ulama juga berpendapat bahwa susuan yang mengharamkan ialah dua tahun.

Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid menjelaskan, para ulama berselisih pendapat soal menyusui bayi susuan yang sudah besar. Menurut Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafii, dan ulama-ulama lainnya, susuan anak yang sudah besar tidak mengharamkan.

Sebaliknya, menurut Dawud dan ulama-ulama lainnya dari mazhab Zhahiri, hal itu mengharamkan yang mana ini adalah pendapat Sayyidah Aisyah. Sedangkan, pendapat mayoritas ulama adalah pendapat Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, dan istri-istri Nabi Muhammad SAW yang lain.

Silang pendapat mereka karena ada pertentangan beberapa hadis tentang hal itu. Dalam hal ini ada dua hadis, pertama, hadis Salim dan yang kedua adalah hadis Sayyidah Aisyah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Dalam sebuah hadis disebutkan, “Dakhala Rasulullah SAW wa indi rajulun, fasytadda dzalika alaihi, wa raitul-ghadhaba fi wajhihi faqultu: Ya Rasulallah, innahu akhi minarradhaa’ati, faqaala alaihi as-shalatu wassalamu: unzurna man ikhwanukunna minarradhaa’ati: fa inna ar-radhaa’ata minal-majaa’ati”.

Yang artinya, “Rasulullah SAW muncul ketika ada seseorang di dekatku. Beliau merasa tidak berkenan dan tampak murka pada raut wajahnya. Bergegas aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, orang ini adalah saudaraku sepersusuan.’ Beliau bersabda, ‘Pikirkan baik-baik soal saudara sepersusuan kalian, sesungguhnya susuan itu karena lapar.”

Ulama-ulama yang mengunggulkan hadis ini mengatakan, air susu yang tidak sampai mengharamkan ialah yang tidak berfungsi sebagai makanan. Namun, dari hadis Salim tersebut bersifat khusus. Dan, istri-istri Nabi Muhammad SAW yang lainnya juga menganggap hal tersebut adalah kemurahan bagi Salim.

Adapun ulama-ulama yang lebih mengunggulkan hadis Salim dan menganggap hadis Sayyidah Aisyah mengandung ilat karena ia sendiri tidak mengamalkannya. Mereka mengatakan bahwa menyusui anak yang sudah besar juga menyebabkan keharaman.

Kadar waktu menyusui

Para ulama berselisih pendapat bahwa jika seorang anak sudah tidak membutuhkan makanan sebelum dua tahun, dan setelah disapih ia disusui oleh wanita lain, maka menurut Imam Malik, susuan seperti itu tidak menyebabkan keharaman.

Namun, Imam Abu Hanifah dan Imam Syafii berpendapat sebaliknya. Jika seorang anak menyusu setelah disapih sebelum dua tahun, dan ia tidak memerlukan makanan, menurut Imam Malik, hal itu tidak diharamkan. Beda halnya dengan Imam Abu Hanifah yang menyebutkan bahwa sesusuan sampai 30 bulan, baik sebelum maupun sesudah disapih adalah susuan yang mengharamkan.

Menurut al-Hasan, jika seorang anak disapih dalam usia dua tahun, tetapi kemudian ia menyusui lagi, hal itu tidak disebut susuan yang mengharamkan. Karena, tidak ada susuan sama sekali setelah penyapihan penuh.

Silang pendapat di antara para ulama ini karena mereka berbeda pendapat dalam memahami sabda Nabi Muhammad SAW berikut, “Fa inna radha’ata minal-majaa’ati”. Yang artinya, “Sesungguhnya susuan itu karena lapar.”

Hadis tersebut bisa diartikan bahwa yang dimaksud adalah penyusuan pada si anak memang sangat butuh disusui. Dan juga bisa diartikan bahwa si anak sudah tidak disapih. Jika sudah disapih di tengah tenggang waktu dua tahun, maka hal itu tidak bisa disebut penyusuan karena lapar.


Biaya Haji Membengkak

Komisi VIII DPR menyayangkan penambahan anggaran yang mendadak.

SELENGKAPNYA

Presiden Minta Kampanye Pemilu Dipersingkat

KPU periode sebelumnya sempat mengusulkan masa kampanye Pemilu 2024 selama 120 hari.

SELENGKAPNYA

Diplomasi Durian Ala PM Malaysia Ismail Sabri

Kewartawanan yang amanah dan bertanggung jawab merupakan aset penting dalam pembangunan negara dan bangsa.

SELENGKAPNYA
×