Santri mengikuti kajian Kitab Kuning di Ponpes Salafi Nurul Ihsan, Lebak, Banten, Kamis (14/4/2022). | ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas

Silaturahim

01 Jun 2022, 22:31 WIB

Merevitalisasi Turats Ulama Tanah Air

Turats merupakan warisan ulama dahulu yang menyimpan banyak kajian keislaman.

OLEH ANDRIAN SAPUTRA

Para ulama terdahulu banyak meninggalkan karya ilmiah (turats). Kitab-kitab itu menjadi rujukan memahami Alquran dan Hadis Nabi Muhammad SAW.

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang juga mantan menteri agama, Prof Dr Said Agil Husin Al Munawar mengatakan, manuskrip kitab-kitab turats ada yang sudah tercetak (disebut matbuah), tapi ada juga kitab karangan mereka yang belum tercetak (disebut makhtutoh). 

Banyak karya ilmiah ulama terdahulu yang belum tercetak atau ditemukan masih dalam bentuk tulisan asli penulisannya (makhtutat). Sebagian turats yang ditemukan ada juga yang ditulis ulang oleh orang lain dengan tulisannya sendiri.

Naskah-naskah salinan tulisan tangan tersebut tersebar di berbagai perpustakaan pada sejumlah negara, seperti Arab Saudi, Mesir, Maroko, dan lainnya baik milik negara ataupun pribadi.

 
Menurut Prof Said Agil Husin, saat ini baru tercatat ada sekitar 650 ribu naskah turats dalam tulisan asli yang belum tercetak yang tersebar di berbagai negara.
 
 

 

Menurut Prof Said Agil Husin, saat ini baru tercatat ada sekitar 650 ribu naskah turats dalam tulisan asli yang belum tercetak yang tersebar di berbagai negara. Ia mencontohkan ada sebuah perpustakaan pribadi di Iran milik seorang ulama bernama Marasyi Najafi yang menyimpan 350 ribu naskah manuskrip dalam ilmu-ilmu agama Islam. Maktabah al-Misriyah milik al-Azhar juga menyimpan ratusan ribu manuskrip tulisan tangan karya ulama terdahulu. 

Di Uni Emirat Arab, terdapat perpustakaan pribadi milik seorang pedagang bernama Jumah Majid yang mengoleksi sekitar 350 ribu manuskrip turats. Bahkan, menurut Prof Said Agil Husin, sejumlah perpustakaan telah membuat mikrofilm dengan alat khusus sehingga bisa membuat manuskrip yang rusak dan tidak bisa terbaca menjadi dapat terbaca utuh seperti baru. 

Tidak hanya di negeri Islam, kitab-kitab turats juga tersimpan di negara-negara Eropa, salah satunya adalah di perpustakaan di Leiden, Belanda. Bahkan, menurut dia, banyak karya ulama Indonesia yang tersimpan di perpustakaan tersebut.

Pelajar dan para peneliti yang ingin mengakses data tentang kitab turats tertentu harus merogoh kocek yang tak sedikit agar bisa memperoleh salinan per halaman dan mikrofilmnya. 

“Nah, kita belum mengarah ke sana. Kita masih yang tercetak. Yang manuskrip belum ada. Jadi, kita tidak punya alat untuk membaca alat manuskrip itu. Jadi, alatnya seperti laboratorium. Naskah dimasukkan melalui mikro itu, kita baca melalui kaca pembesar itu. Itulah yang sekarang dilakukan usaha penelitian dengan sebutan tahqiq. Artinya, studi secara mendalam naskah yang diinginkan itu,” kata Prof Dr Said.

Prof Said Agil Husin Al Munawar, saat mengisi Kuliah Umum dan Pembukaan Program Santri Pasca Tahfiz Bayt Alquran-Pusat Studi Alquran angkatan ke-28 beberapa hari lalu, mengatakan, tahqiq makhtutat merupakan penelitian yang menyeluruh terhadap kitab-kitab turats yang masih dalam bentuk tulisan asli penulisannya.

photo
Sejumlah santri membaca kitab kuning di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (13/4/2022). Ngaji kitab kuning selama Ramadhan merupakan tradisi di pondok pesantren itu yang bertujuan meningkatkan keilmuan di bidang agama Islam. - (ANTARA FOTO/Patrik Cahyo Lumintu)

Menurutnya, seorang peneliti dapat mengoreksi sebuah naskah dengan cara membandingkan dengan naskah lainnya. Akan tetapi, kitab-kitab yang ditulis sampai abad ke-7 Hijriyah memiliki kesulitan yang lebih tinggi untuk dibaca. Sebab tak adanya titik hingga baris yang dapat membedakan huruf. 

Jika ingin meneliti manuskrip tersebut, seorang peneliti membutuhkan kekuatan bahasa Arab dan berbagai disiplin ilmu yang lengkap. Sebab itu, para peneliti pun perlu waktu panjang untuk menyelesaikan satu naskah. 

Bila telah selesai, naskah tahqiq ditulis pada bagian bawah, sedangkan naskah asli ditulis pada bagian atas. Setelah merapikan naskah, seorang peneliti juga perlu membuat catatan kaki, menyebutkan tokoh, dan membuat tarjamah mukhtasarah. Selain itu, bila terdapat ayat, seorang peneliti harus memberikan nama surat dan nomor ayat.

Sementara itu, ketika memasuki penelitian isi dan permasalahan pada naskah turats tertentu, seorang peneliti harus merujuk pada kitab yang asli. Ia mencontohkan, bila pada naskah terdapat hadis yang diriwayatkan Abu Dawud, peneliti harus merujuk langsung dengan membuka kitab sunan Abu Dawud.

photo
Sejumlah santri mengaji kitab kuning di Pondok Pesantren Kapurejo, Kediri, Jawa Timur, Kamis (7/4/2022). Pondok pesantren tertua di Kediri peninggalan KH Hasan Muchyi yang merupakan mertua dari pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asyari tersebut saat bulan Ramadhan memfokuskan pembelajaran kitab kuning untuk santri-santrinya. - (ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/wsj.)

“Itulah diperlukan revitalisasi manuskrip itu. Dan, kita sekarang ini memanfaatkan buku-buku yang tercetak saja. Yang tidak tercetak tidak kita jadikan rujukan. Kenapa? Karena memang tak punya (sumber daya—Red). Kita tak punya alatnya juga,” katanya. 

Karena itu, mantan menteri agama ini mendorong manuskrip kitab turats yang belum tercetak agar diangkat ke permukaan sehingga dapat dicetak dan dibaca banyak kalangan. Said Agil mencontohkan, banyak karya ulama Tanah Air, seperti Syekh Habib Salim bin Ahmad bin Jindan, yang meninggalkan 77 kitab hadis tulisan tangan yang baru berhasil dicetak sebanyak tiga buku.

KH Ahmad Sanusi Sukabumi meninggalkan lebih 80 karya ilmiah di mana hanya 30 karya saja yang dipegang oleh keturunannya. Sisanya dibawa oleh Belanda dan disimpan di Leiden.

Begitu pun dengan karya ulama lainnya, seperti Syekh Mahmud at-Termasi, Syekh Nawawi Banten, KH Soleh Darat, dan lainnya yang perlu dilakukan penelitian tahqiq al-makhtutat. Sebab banyak karyanya yang masih berbentuk tulisan Arab ataupun Jawa pegon.


Biaya Haji Membengkak

Komisi VIII DPR menyayangkan penambahan anggaran yang mendadak.

SELENGKAPNYA

Presiden Minta Kampanye Pemilu Dipersingkat

KPU periode sebelumnya sempat mengusulkan masa kampanye Pemilu 2024 selama 120 hari.

SELENGKAPNYA

Diplomasi Durian Ala PM Malaysia Ismail Sabri

Kewartawanan yang amanah dan bertanggung jawab merupakan aset penting dalam pembangunan negara dan bangsa.

SELENGKAPNYA
×