Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

31 May 2022, 03:30 WIB

Cara Hebat Meminta Maaf

Mudah meminta maaf dan mudah memberi maaf.

OLEH ABDUL SYUKKUR

Dalam suatu kesempatan, para sahabat Rasulullah berkumpul membicarakan strategi perang, Abu Dzar mengusulkan, “Menurut saya, sebaiknya pasukan Islam melakukan ini dan itu (seraya mengemukakan usulannya)”. Bilal menyanggah usulan itu dengan mengatakan, “Usul Anda kurang strategis.”

Abu Dzar tidak terima pendapatnya disanggah Bilal karena bagaimanapun menurutnya Bilal adalah mantan budak sehingga ia marah dan berkata, “Kamu berani menyanggah usulku wahai anak budak hitam?”

Bilal tersinggung mendengar perkataan Abu Dzar. Ia berkata kepada Abu Dzar, “Sungguh, aku akan melaporkanmu pada Rasulullah.”

Bilal menemui Rasulullah dan mengadu, “Wahai Rasulullah, tidakkah Anda mendengar apa yang dikatakan Abu Dzar kepada saya?” Rasulullah bertanya, “Apa yang dikatakan Abu Dzar kepadamu?” “Dia menyebut saya anak perempuan hitam!” kata Bilal.

Mendengar hal itu, Rasulullah marah dan memanggil Abu Dzar untuk datang ke masjid.

Sampai di masjid, Abu Dzar mengucapkan salam dan dijawab oleh Rasulullah, kemudian beliau bertanya, “Wahai Abu Dzar! Benarkah kamu menghina ibu Bilal? Sungguh, dalam dirimu masih ada perilaku jahiliyah.”

Abu Dzar menyesal, menangis, dan meminta maaf pada Rasulullah SAW dan memohon pada Rasulullah agar diampuni oleh Allah SWT. Abu Dzar keluar dari masjid dalam keadaan menangis dan menemui Bilal.

Di dekat Bilal, Abu Dzar meletakkan pipinya di atas tanah seraya berkata, “Sungguh, aku tidak akan mengangkat kedua pipiku sebelum engkau menginjaknya agar kau memaafkanku.”

Bilal mendekati Abu Dzar, mengangkat kepalanya dari tanah dan memeluknya seraya berkata, “Anda lebih mulia dari saya.” Keduanya berpelukan, saling memaafkan diiringi deraian air mata.

Kisah ini setidaknya mengajarkan tiga hal pada kita. Pertama, berbuat dosa atau kesalahan bersifat manusiawi (tidak maksum kecuali Rasulullah), siapa saja bisa melakukannya, bahkan sekelas sahabat senior seperti Abu Dzar al-Ghifari.

Hal ini seakan menegaskan kebenaran hadis Rasulullah SAW bahwa, “Setiap anak Adam (manusia) pernah bersalah dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertobat.”

Kedua, ketika Rasulullah menyebut bahwa dalam diri Abu Dzar masih ada perilaku jahiliyah tidak serta-merta menjadikan Abu Dzar sebagai orang yang murtad (keluar dari Islam). Karena yang dikomentari oleh Rasulullah perbuatan atau sikap Abu Dzar, bukan tentang akidah atau keyakinannya.

Ketiga, mudah meminta maaf dan mudah memberi maaf. Abu Dzar suri teladan dalam meminta maaf dan Bilal suri teladan dalam memberi maaf. Bahkan, cara meminta maaf Abu Dzar tergolong cara yang sangat hebat, meletakkan kepala di tanah dan menyuruh Bilal untuk menginjaknya, hanya demi memohon keikhlasan hati untuk memaafkannya.

Abu Dzar berani melakukan hal itu karena ia sadar bahwa seberat apa pun cara yang ia lakukan untuk meminta maaf di dunia, tidak seberapa dibanding harus meminta maaf di akhirat, saat semua pintu tobat dan maaf sudah ditutup.

Wallahu a’lam bishawab. ';

Pemimpin Asia Sepakat Pererat Hubungan

Selain penguatan kerja sama ekonomi, negara-negara Asia bertekad terus menjaga stabilitas perdamaian.

SELENGKAPNYA

Relasi Pertamina dengan Fiskal Kita

Relasi Pertamina dengan fiskal tentu tidak bisa hanya dilihat dari bisnis hulu migas saja.

SELENGKAPNYA
×