Syekh Muhammad Hasan Asyari, ulama kelahiran Pulau Bawean yang lama bermukim di Makkah | DOK IST

Mujadid

29 May 2022, 03:27 WIB

Syekh Muhammad Hasan Asy'ari, Maestro Falak dari Bawean

Guru pendiri Muhammadiyah dan NU ini menulis kitab-kitab ilmu falak yang terkenal.

OLEH MUHYIDDIN

Bawean merupakan sebuah pulau yang terletak di Laut Jawa. Bagian dari wilayah Kabupaten Gresik, Jawa Timur, ini turut berperan penting dalam syiar agama Islam di Nusantara. Sejarah membuktikan, ada banyak ulama besar yang lahir di daerah tersebut.

Di antara mereka adalah Syekh Muhammad Hasan Asy’ari. Ia adalah seorang ulama yang menulis berbagai buku tentang ilmu astronomi. Sang alim termasuk yang paling berpengaruh dalam perkembangan ilmu falak, tidak hanya di Indonesia, melainkan juga negeri-negeri jiran hingga Jazirah Arab.

Sosok yang akrab disapa Kiai Asy’ari itu juga tergolong simpul utama dalam transmisi ilmu-ilmu keislaman di Tanah Air. Dalam buku Ulama Bawean dan Jejaring Keilmuan Nusantara Abad XIX-XX, Burhanuddin Asnawi mengatakan, tokoh tersebut merupakan guru yang amat dihormati.

Di antara para muridnya adalah KH Ahmad Dahlan, yang pada akhirnya mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah. Santrinya yang lain adalah KH Abdul Wahab Hasbullah, salah seorang perintis Nahdlatul Ulama (NU). Dari sang guru, keduanya mendalami ilmu falak.

“Yang menarik dan fenomenal, Kiai Ahmad Dahlan itu adalah santri beliau (Kiai Asy’ari), dan Kiai Wahab Hasbullah—pendiri NU itu—juga santrinya. Beliau ahli falak,” ujar Burhanuddin kepada Republika baru-baru ini.

 
Yang menarik dan fenomenal, Kiai Ahmad Dahlan itu adalah santri beliau (Kiai Asy’ari), dan Kiai Wahab Hasbullah—pendiri NU itu—juga santrinya.
 
 

Sejarawan itu menjelaskan seluk-beluk pribadi alim dari Bawean tersebut. Nama lengkapnya adalah Muhammad Hasan Asy’ari bin Abdurrahman al-Baweani al-Fasuruani. Penisbatan nama al-Baweani merujuk pada kampung halaman ibundanya. Adapun sebutan al-Fasuruani menunjuk pada daerah asal ayahnya, yakni Pasuruan, Jawa Timur.

Kiai Asy’ari lahir di Pulau Bawean sekitar tahun 1820-an. Ia seumuran dengan seorang ulama karismatik asal Pulau Madura, Syaikhona Khalil Bangkalan. Keduanya juga bersahabat, terutama saat sama-sama menuntut ilmu di Makkah al-Mukarramah.

Asy’ari menghabiskan masa mudanya dengan belajar dari pesantren satu ke pesantren lainnya di Jawa. Setelah itu, rihlah intelektualnya melanglang jauh hingga ke mancanegara. Untuk menimba ilmu, dirinya mengadakan perjalanan hingga ke Maroko. Pada 1892, putra daerah Bawean tersebut memutuskan untuk bermukim di Tanah Suci. Usianya masih 17 tahun kala itu.

Saat berada di kota kelahiran Nabi Muhammad SAW, Asy’ari muda berguru kepada sejumlah ulama besar setempat. Di antara guru-gurunya adalah Syekh Nawawi al-Bantani, seorang alim dari Nusantara yang mengajar di Masjidil Haram. Tidak hanya Kiai Kholil Bangkalan, kawan-kawan seangkatannya pun termasuk KH Hasyim Asy’ari, sosok yang dikenang sebagai pendiri NU.

 
Untuk menimba ilmu, dirinya mengadakan perjalanan hingga ke Maroko. Pada 1892, Asy'ari memutuskan bermukim di Tanah Suci. Usianya masih 17 tahun kala itu.
 
 

Asy’ari memanfaatkan dengan sungguh-sungguh waktunya di Tanah Suci untuk menuntut ilmu. Tiap musim haji, tentunya ia menyempatkan diri untuk melakukan rukun Islam kelima itu.

Dalam penelitiannya, Burhanuddin memberikan perhatian khusus pada periode sang kiai tatkala berada di Makkah. Menurut ahli sejarah itu, tokoh tersebut tidak hanya belajar, tetapi juga sudah diizinkan untuk mengajar sejumlah santri.

Keberadaan Kiai Asy’ari di Haramain juga menjadi sangat penting bagi para pelajar setempat yang datang dari Bawean. Mereka memiliki kebanggaan tersendiri bahwa ada seorang tokoh alim dari daerah asalnya. Untuk sang ulama, terdapat sapaan khusus, yakni Kiai Ngari.

Mereka yang menimba ilmu di Makkah rata-rata tinggal di markas yang sama, di mana Kiai Asy’ari tinggal bersama keluarganya. Di sana pula mereka menjalin hubungan yang akrab, dalam nuansa “keluarga Bawean di Makkah".

Para murid sang kiai, khususnya yang sama-sama berasal dari Bawean, pada akhirnya amat memengaruhi perkembangan dakwah. Hal itu khususnya di pulau lepas pantai utara Jawa Timur tersebut antara abad ke-19 dan 20.

Kiai Asy’ari lama menetap di Tanah Suci. Mengakhiri masa lajang, dirinya menikah dengan seorang putri gurunya, Syekh Nawawi al-Bantani. Nama gadis itu adalah Maryam. Dari pernikahan ini, keduanya dikaruniai dua putra yaitu Ahmad Ma’ruf dan Muhammad Noor.

Para buah hatinya ini lahir di Makkah. Kelak ketika mendewasa, masing-masing menjalani keputusan yang berbeda. Kiai Ahmad Ma’ruf ikut pulang dengan orang tuanya ke Indonesia. Akhirnya, Ahmad menetap di Pedokaton atau Kejeron, Pasuruan, bersama istri dan kedua putrinya, Nyai Fatimah dan Nyai Ni’mah. Adapun KH Muhammad Noor menetap di Makkah hingga berkeluarga.

‘Incaran’ Wahabi

KH M Hasan Asy'ari tinggal di Makkah sejak medio abad ke-19. Dalam masa itu, situasi politik di Jazirah Arab kian bergolak. Pengaruh Kekhalifahan Turki Utsmaniyah di sana terus meredup. Negara-negara Barat, khususnya Britania Raya, mulai memasuki ranah perpolitikan lokal setempat.

Pada 1908, Syarif Husein menjadi amir Hijaz. Beberapa pihak memandang, naiknya tokoh tersebut ke jabatan itu tidak lepas dari skenario Inggris. Dari Arabia tengah, Ibnu Saud mulai menyusun kekuatan dan pengaruh. Lama kelamaan, pendukungnya semakin banyak. Termasuk di antara mereka adalah gerakan Wahabi.

Pada periode ini, Kiai Asy’ari mengikuti pihak yang berpaham ahlus sunnah wal jama’ah (aswaja). Kalangan ini di Arab saat itu berhadapan dengan golongan Wahabi. Sementara itu, dua kota suci sudah masuk ke dalam wilayah kekuasaan kelompok pro-Ibnu Saud.

Pada akhirnya, Kiai Asy’ari termasuk ke dalam grup-grup yang diincar kelompok Wahabi. Ia pun hijrah sementara ke luar Hijaz, hingga sampai ke Mesir. Menurut Burhanuddin, pelarian Kiai Asy’ari ke negeri tepian Sungai Nil itu tidaklah sendirian.

 
Pada akhirnya, Kiai Asy’ari termasuk ke dalam grup-grup yang diincar kelompok Wahabi. Ia pun hijrah sementara ke luar Hijaz, hingga sampai ke Mesir.
 
 

Bersamanya, turut serta KH Ahmad Dahlan at-Tarmasi. Yang luar biasa, dalam suasana tak menentu itu mereka berhasil mengkhatamkan kitab Al-Mathla’ al-Said, rujukan induk ilmu falak karya Syekh Husein Zaid al-Mashri. Di Kairo, keduanya pun belajar kepada Syekh Jamil Djambe dan Syekh Thahir Jalaluddin.

Sementara itu, Mesir pun dirundung gelombang anti-Turki Utsmaniyah. Keadaan ini cenderung berisiko bagi orang-orang target Wahabi. Sebab, mereka dapat saja dicurigai menentang lepasnya pengaruh Turki dari Jazirah Arab.

Maka Kiai Asy’ari memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Usai perjalanan yang panjang, tibalah dirinya di kampung halaman. Untuk selanjutnya, ia berdakwah di Dusun Rojing, Desa Sungai Teluk, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean.

Salah satu legasi perjuangannya adalah Masjid Rojing. Bagi masyarakat Sangkapura, tempat ibadah itu merupakan saksi bisu kehebatan Kiai Asy’ari dalam ilmu falak. Di sana, tokoh tersebut melakukan penentuan arah kiblat dengan cermat, berdasarkan hasil perumusan ilmiah.

Burhanuddin mengatakan, dirinya pernah menemukan selembar kertas jadwal shalat yang sudah hampir rusak di gudang dekat masjid tersebut. Kertas itu ternyata memuat tulisan Kiai Asy’ari. Naskah yang bernilai historis itu kini dipajang di Masjid Rojing.

Tak jauh dari masjid itu, keluarga Kiai Asy’ari tinggal. Rumahnya sangat sederhana, tidak ubahnya kediaman warga setempat. Di Sangkapura, ia tinggal di rumah istri keduanya, Hajjah Rahmah. Warga Rojing mengenal sang syekh sebagai sosok yang ramah, bijaksana, dan sabar dalam menyebarkan ilmu-ilmu Islam.

 
Tempat ibadah itu merupakan saksi bisu kehebatan Kiai Asy’ari dalam ilmu falak. Di sana, tokoh tersebut melakukan penentuan arah kiblat dengan cermat.
 
 

Syekh Asy’ari tinggal di Bawean sekitar 10 tahun. Dalam rentang masa itu, ia kerap hilir mudik dari pulau tersebut menuju beberapa pondok di Jawa Timur daratan, seperti Ponpes Besuk dan Ponpes Sidogiri.

Di Ranggeh, Pasuruan, dirinya juga mendirikan sebuah pesantren. Tidak sedikit di antara para santrinya yang berasal dari Besuk dan Sidogiri. Termasuk di antara mereka adalah kalangan sanak famili Sidogiri, yakni Kiai Abdul Djalil (wafat 1947) dan Kiai Subadar (wafat 1942).

Maka terjadilah pertukaran pelajar. Santri asal Sidogiri mengaji ilmu falak kepada Kiai Asy’ari di Ranggeh. Adapun santri Kiai Asy’ari mengaji ilmu-ilmu agama ke Sidogiri, yang saat itu diasuh oleh KH Nawawi.

Selama hidupnya Syekh Asy’ari menulis kitab-kitab ilmu falak yang terkenal. Menurut Burhanuddin, dengan luasnya keilmuan, level sang syekh setara atau bahkan melebihi seorang profesor. Melalui tangannya, kaidah-kaidah syariat yang harus disampaikan kepada umat ditulis dan dijelaskan.

Syekh Asy’ari di Pasuruan pada 1921 M. Ada juga beberapa sumber yang mencatat tahun wafatnya pada 1918 M. Burhanuddin mengatakan, kalangan ahli waris almarhum tidak mencatat tanggal meninggal maupun kelahirannya.

Jenazah pakar ilmu falak itu dimakamkan di kawasan Sladi Kejayan, Pasuruan. Lokasi tepatnya di belakang Pondok Pesantren Besuk. Almarhum meninggalkan Yayasan Ma’arif Asy’ari yang berstatus wakaf di Jalan KH Hasan Asy’ari Noor 30, Gondong Wetan, Ranggeh, Pasuruan.

Adapun masyarakat Bawean hingga kini mengenang sebuah kampung dan Masjid al-Muflihin di Dusun Rojing, Desa Sungai Teluk, Sangkapura. Itulah jejak-jejak kenangan mereka terhadap sang syekh. Daerah yang pernah menjadi tempat tinggal ulama tersebut dinamakan pula sebagai Kampung Manggeh.

 

photo
ILUSTRASI Syekh Muhammad Hasan Asyari, seorang pakar ilmu falak, menerangkan metode hakiki tahqiqi dalam sebuah karyanya - (DOK ANTARA APRILLIO AKBAR)

Bedah Karya Monumental

Syekh Muhammad Hasan Asy’ari al-Baweani dikenal sebagai seorang pakar ilmu falak. Di sela-sela kesibukannya berdakwah, dirinya pun aktif menulis. Terutama saat masih menjalani masa belajar di Makkah, tokoh dari Pulau Bawean, Jawa Timur, itu mengarang banyak kitab. Salah satunya yang tetap masyhur hingga kini adalah Muntaha Nataij al-Aqwal.

Dalam karyanya itu, Syekh Hasan Asy’ari menerangkan antara lain perihal hisab awal bulan Hijriyah dengan metode hakiki tahqiqi. Cara itu dengan menetapkan Makkah al-Mukarramah sebagai markaz. Isi buku itu sudah diajarkan di Bawean dan Pasuruan, tempatnya mendirikan pondok pesantren.

Dalam penelitiannya, sejarawan Burhanuddin Asnawi mengatakan, Muntaha Nataij al-Aqwal juga menjadi kitab pertama di Indonesia yang menggunakan jadwal logaritma dengan tujuh desimal dan rumus trigonometri bola (spherical). Adapun perhitungan ketinggian hilal tidak berpatokan pada ijtimak sebelum terbenamnya matahari.

Menurut Burhanuddin, inilah karya monumental dari Syekh Hasan Asy’ari. Sebab, ada keunikan tersendiri dari metode hakiki tahqiqi yang berpangkal pada teori heliosentris, yaitu matahari sebagai pusat tata surya. Itulah yang membedakannya dengan hisab hakiki bi at-taqrib yang berpangkal pada teori geosentris.

Secara umum, kitab ini terdiri dari muqaddimah atau pendahuluan. Selanjutnya, Syekh Asy’ari menyajikan 16 pembahasan. Di antaranya mengenai tahun kabisat dan tahun basitah. Di samping itu, pembahasan tentang cara-cara mengetahui panjang busur ekliptika, waktu terbenam matahari dan bulan, serta metode untuk mengetahui ketinggian bulan.

Syekh Asy’ari menjadi ulama besar yang disegani di daerah Jawa Timur, khususnya di bidang astronomi. Selain menulis Muntaha Nataij, ia pun menghasilkan kitab Jadwal al-Auqot. Isinya memuat jadwal shalat dengan waktu istiwa' untuk Pulau Bawean, Pulau Jawa, dan Pulau Madura.

Syekh Asy'ari memang telah tutup usia. Namun, ilmu-ilmu yang telah diajarkannya akan terus hidup dari generasi ke generasi.


Warisan Kesederhanaan Buya Syafii

Buya berpesan agar menjaga keutuhan bangsa, keutuhan Muhammadiyah, dan keutuhan umat.

SELENGKAPNYA

Nasionalisme Pancasila

Itulah nasionalisme autentik yang berpijak di bumi Indonesia milik bersama.

SELENGKAPNYA

Menemukan Kilau

Sekalipun terpendam dalam lumpur kotor, berlian tak pernah kehilangan kilau.

SELENGKAPNYA
×