Alwi Shahab | Daan Yahya/Republika

Jakarta

31 May 2022, 02:24 WIB

Dangdut Lahir dari Imigran Hadramaut

Gambus makin dikenal dan digemari ketika pada awal 1950-an RRI membuat siaran tetap orkes gambus.

OLEH ALWI SHAHAB

Pada abad 19, imigran dari Hadramaut, Yaman, mulai berdatangan ke nusantara seiring dibukanya Terusan Suez dan pelayaran dengan kapal uap dan mesin. Karena beragama Islam, mereka cepat berbaur dengan masyarakat setempat dan mengawini wanita pribumi.

Dalam masa senggang, terutama malam hari, sambil bersenang-senang mereka bermain gambus. Dalam per kembangannya, orkes ini sangat diminati bukan saja oleh keturunan Arab, melainkan berbagai etnis. Lalu, terbentuklah perkumpulan orkes gambus, ter utama di kampung Arab.

Begitu cepat populernya, gambus menjadi orkes pengiring pada pesta-pesta perkawinan. Para pemain gambus duduk bersila pada tikar permadani yang sekaligus menjadi arena bagi pemuda menari zapin, kesenian yang hingga kini masih terus berkembang. Sekarang ini, para wanita, termasuk ibu-ibu, turut menari zapin.

 
Gambus makin dikenal dan digemari ketika pada awal 1950-an RRI membuat siaran tetap orkes gambus.
 
 

Gambus makin dikenal dan digemari ketika pada awal 1950-an RRI membuat siaran tetap orkes gambus. Musisi gambus paling kesohor, di antaranya Syech Albar. Musisi kelahiran Surabaya pada 1908 ini merupakan ayah penyanyi rock Ahmad Albar dan kakek Fachri Albar. Pada 1935, suaranya direkam dalam piringan hitam His Master’s Voice. Petikan gambusnya tidak hanya digemari di Indonesia, tapi negara-negara Arab.

Pada masa itu, orkes gambus bermunculan di Kampung Arab Pekojan, Jakarta. Selain itu, juga di kampung-kampung Arab di Makassar, Palembang, Banjarmasin, dan Gorontalo. Di Jakarta, lagu irama padang pasir mulai diselingi lagu berirama Melayu yang didominasi irama harmonium, pimpinan SM Alaydrus, seorang pemuda kaya yang wafat di Singapura. Pendamping Alaydrus di antaranya Husein Bawafie. Anak Tanah Abang yang memotori lagu berirama dangdut melalui Orkes Chandralela.

Di Pekojan, seorang musisi gambus terkenal mendirikan Orkes Melayu Kenangan pada awal 1950-an. Di Sawah Besar, berdiri Orkes Melayu (OM) Sinar Medan pimpinan Fauzi Aseran. Sampai 1970-an, ketiga orkes ini bersaing dan sama-sama mengisi acara di RRI (TVRI belum muncul). Masih ada lagi OM Bukit Siguntang pimpinan A Halik.

 
Kehadiran orkes-orkes Melayu ini sangat digemari dan mendapat panggilan luas dari masyarakat ketika pesta-pesta perkawinan dan pernikahan.
 
 

Orkes-orkes Melayu ini memenuhi permintaan rekaman dari perusahaan piringan hitam, seperti Serimpi, Irama, Remaco, Bali Record, ataupun Gambira Record. Kala itu, kaset belum nongol, apalagi CD dan VCD.

Kehadiran orkes-orkes Melayu ini sangat digemari dan mendapat panggilan luas dari masyarakat ketika pesta-pesta perkawinan dan pernikahan. Tiap orkes ini muncul, masyarakat berdatangan, termasuk dari tempat-tempat yang jauh. Di kalangan jamaah terkenal istilah samar atau menonton orkes atau gambus dan siap begadang.

Pada saat bersamaan, muncul film-film India dengan lagu dan tariannya. Mengikuti irama gendang yang berbunyi dang… dut… dang... dut… muncul lah Orkes Dangdut. Karena sulitnya kata-kata dalam lagu India, mereka menerjemahkan dengan mengubah liriknya.

Pada masa itu, lahirlah penyanyi terkenal 1950-an dan 1960-an, yaitu M Mashabi dengan lagunya, “Ratapan Anak Tiri”. Diikuti Ellya Khadamm dengan “Boneka dari India”-nya serta Elvi Sukaesih dan Munif Bahasuan.

Orkes dangdut kian berkembang ketika Rhoma Irama dengan Soneta-nya ikut terjun. Pada 1970-an, lagu “Begadang” sangat digemari. Saat itu, muncul juga Muksin Alatas–Titik Sandora yang kemudian menjadi suami istri.

Tulisan ini disadur dari Harian Republika edisi 03 Mei 2012. Alwi Shahab adalah wartawan Republika sepanjang zaman yang wafat pada 2020.


Warisan Kesederhanaan Buya Syafii

Buya berpesan agar menjaga keutuhan bangsa, keutuhan Muhammadiyah, dan keutuhan umat.

SELENGKAPNYA

Nasionalisme Pancasila

Itulah nasionalisme autentik yang berpijak di bumi Indonesia milik bersama.

SELENGKAPNYA

Menemukan Kilau

Sekalipun terpendam dalam lumpur kotor, berlian tak pernah kehilangan kilau.

SELENGKAPNYA
×