Puisi-Puisi Sefty Meidivia | Renda Purnama/Republika

Sastra

29 May 2022, 08:00 WIB

Puisi-Puisi Sefty Meidivia

Rinduku bahkan lebih kencang dari riak sungai.

Tunggu

 

Rekaman itu aku putar kembali

Terlintas bayangmu, wajah bahkan kata-katamu

Tunggu aku ya; ucapmu bersama purnama hari itu

Batinku berkata semoga kamu menepati 

 

Hari berlalu, sepoi angin menerpa belaian rambut

Tak sedikit pun aku lupa akan janjimu 

Tapi gundah hati tersayat

Apakah yang aku tunggu akan menghampiriku?

 

Rinduku bahkan lebih kencang dari riak sungai

Pendirianku lebih keras dari batu

Tapi tetap saja hatiku lebih rapuh dari tisu

 

Ruang Tunggu, 1 Oktober 2021

***

 

Kenang

 

Semburat menerpa harapan

Tentang ingatan

Sedih dan senang

 

Nisanmu terasa hangat

Seperti dekapmu yang menyelimuti

Rinai jatuh berderai

Tentang hati yang rindu teramat 

 

Dahulu; sawala sering terjadi

Tapi kasihmu tak pernah luput

Puspas hati ini

Tentang cinta teramat

 

Ruang Kenangan, 15 Desember 2021

***

 

Lentera

 

Atma tersayat sembilu

Halu menjalar tubuhku

Terisak sendu

 

Kala Ibu yang selalu di sampingku

Kini tak lagi mendukung

Perih tak terbendung 

Hanya bisa merenung; di atas nisanmu

 

Kau bagai lentera

Yang selalu menyalurkan dama

Menuntunku dalam segalanya 

 

Sanubari ini berdebar

Aku sangat merindukanmu

 

Ruang Rindu, 14 Desember 2021

***

 

Luka

 

Aku tahu kamu terluka

Entah olehnya atau keadaan

 

Sahabatku....

Tak perlu menjadi batang yang selalu menanggung daun

Kamu hanya perlu menjadi mentari yang bersinar

Jika bersedih; kamu bisa merenung di balik laut

 

Percayalah, senang selalu ada

Begitu juga gundah

Percayalah semua rasa akan berujung nirwana

 

Di saat kamu resah 

Aku akan menjelma menjadi nabastala 

Yang selalu ada

 

Ruang Getir, 24 Oktober 2021

 

Sefty Meidivia lahir pada tanggal 14 Mei 2004, merupakan seorang mahasiswi. Sangat menyukai puisi, ia tinggal di Tangerang. 


Nasionalisme Pancasila

Itulah nasionalisme autentik yang berpijak di bumi Indonesia milik bersama.

SELENGKAPNYA

Menemukan Kilau

Sekalipun terpendam dalam lumpur kotor, berlian tak pernah kehilangan kilau.

SELENGKAPNYA
×