Sejumlah bayi yang baru dilahirkan pada 2 Februari 2022 berada di ruang observasi di RSUD Indramayu, Jawa Barat, Rabu (2/2/2022). Penyebab tingginya angka kematian ibu melahirkan adalah rendahnya kesadaran kesehatan. | ANTARA FOTO/Dedhez Anggara

Uswah

26 May 2022, 06:12 WIB

Tumbuhkan Kesadaran Kesehatan Ibu dan Anak

Penyebab tingginya angka kematian ibu melahirkan adalah rendahnya kesadaran kesehatan

OLEH IMAS DAMAYANTI

 

Kematian kaum ibu di daerah saat melahirkan terbilang tinggi. Berdasarkan data Sistem Kesehatan Nasional yang dikeluarkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pada Maret 2022 disebutkan, angka kematian ibu Indonesia adalah 305 jiwa dari 100 ribu kelahiran (sebagai base line pada 2019). Sedangkan target yang harus dicapai pemerintah pada 2024 adalah 183 jiwa per 100 ribu kelahiran.

Salah satu penyebab tingginya angka kematian ibu melahirkan adalah rendahnya kesadaran kesehatan kaum ibu. Eki Riniati, bidan muda yang mengabdi di Desa Lubuk Bangkar, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi, mengungkapkan, tiga tahun lalu masih banyak kaum ibu yang enggan melakukan persalinan di bidan atau tenaga kesehatan.

“Pada awal 2019, itu masyarakat di Desa Lubuk Bangkar sangat enggan untuk melakukan persalinan di bidan atau tenaga kesehatan. Mereka lebih nyaman pergi ke dukun dan sama sekali tidak percaya imunisasi,” kata Eki saat dihubungi Republika, Rabu (18/5).

 
Pada awal 2019, itu masyarakat di Desa Lubuk Bangkar sangat enggan melakukan persalinan di bidan atau tenaga kesehatan. Mereka lebih nyaman pergi ke dukun.
 
 

Saat mengabdi sebagai relawan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Eki mencoba untuk meyakinkan masyarakat di desa tersebut untuk lebih sadar akan kesehatan ibu dan anak. Dia meyakinkan masyarakat setempat mengenai pentingnya imunisasi, mengukur kesehatan bayi dan balita, hingga melakukan pemeriksaan rutin kehamilan di posyandu ataupun puskesmas.

Sayangnya, usaha Eki kerap mendapatkan tantangan. Eki bercerita bagaimana ketika ada satu ibu yang bersedia anaknya untuk diimunisasi, tapi berselang setelahnya jatuh sakit.

Stigma terhadap imunisasi dan intervensi kesehatan medis pun mulai dipertanyakan kembali oleh masyarakat. “Ketika stigma terhadap imunisasi itu mulai merebak kembali, saya mulai melakukan pendekatan-pendekatan ke masyarakat dengan door to door,” ujar dia.

Eki mengetuk satu demi satu rumah para ibu. Dia mencoba untuk mensosialisasikan dan juga mengajak kembali kaum ibu untuk kembali memanfaatkan fasilitas medis melalui tenaga kesehatan. Hal yang coba ditawarkan kepada Eki adalah bagaimana menjabarkan bahaya stunting.

Melalui program pengentasan stunting dan kesehatan ibu serta anak, Eki mulai diterima oleh masyarakat di Desa Lubuk Bangkar. Akses transportasi dan minimnya infrastruktur pedesaan tak memadamkan semangat Eki untuk terjun langsung menyambangi warga.

 
Sekarang alhamdulillah, mereka kalau lahiran itu sudah mau ke bidan dan juga tenaga kesehatan meski dengan syarat. Syaratnya, mereka harus ditemani dukun (beranak).
 
 

Dia tetap mendatangi warga dari rumah ke rumah. Eki mengajak warga untuk kembali kepada fasilitas kesehatan dan meyakinkan mengenai stigma imunisasi yang buruk bukanlah hal yang benar. Hari demi hari, perjuangan Eki kian membuahkan hasil. Satu demi satu kaum ibu mulai mau memanfaatkan fasilitas kesehatan medis di wilayah tersebut.

“Sekarang alhamdulillah, mereka kalau lahiran itu sudah mau ke bidan dan juga tenaga kesehatan meski dengan syarat. Syaratnya, mereka harus ditemani dukun (beranak). Saya bilang, ya nggak apa-apa. Saya berpikir, secara psikologis mungkin mereka lebih merasa aman dan nyaman kalau ditemani dukun, tapi secara medis mereka telah percayakan ke bidan dan tenaga kesehatan,” kata dia.

Pengabdian Eki untuk menumbuhkan kesadaran kesehatan ibu dan anak kini membuahkan hasil.  Sejak pertama kali melakukan pengabdian di Desa Lubuk Bangkar pada 2019 silam,  tingkat partisipasi masyarakat desa setempat untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan medis ibu dan anak telah meningkat sebanyak 90 persen.

photo
Eki Riniati, bidan muda yang mengabdi di Desa Lubuk Bangkar, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi - (Istimewa)

PROFIL

Nama lengkap: Eki Riniati Amd.Keb

Tempat, tanggal, lahir: Lubuk Bangkar 16 Juni 1996

Riwayat pendidikan: MA Pondok Pesantren Al-Munawwaroh Bangko Kabupaten Merangin, Jambi. STIKes Mitra Husada Medan, Sumatra Utara.

Riwayat aktivitas: Anggota Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Bendahara KTH Bukit Tempurung Agro Forestri 2019-2021, Staff ADM lingkungan kecamatan Batang Asai 2022, Sahabat ZCD lubuk Bangkar, Jambi 2019-2022


Mengenali Sifat Dengki

Orang yang mendengki tak akan mendapatkan apa-apa kecuali cela dan hina

SELENGKAPNYA

135 Tahun Sherloc Holmes

Publikasi tahun 1949 menyatakan warga London begitu putus asa setelah mendengar berita kematian Holmes.

SELENGKAPNYA
×