Petugas medis menunjukkan vaksin Sinovac Biofarma sebelum disuntikkan pada seorang tenaga pengajar di Rumah Sakit Persada, Malang, Jawa Timur, Jumat (5/3/2021). | ARI BOWO SUCIPTO/ANTARA FOTO

Ekonomi

24 May 2022, 18:31 WIB

BUMN Farmasi Susun Road Map Bisnis

Bio Farma berencana menjadikan sebagai Zimbabwe manufacturing hub di Afrika.

 

JAKARTA — PT Bio Farma (Persero) sebagai induk Holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Farmasi menyatakan road map atau peta jalan Holding Farmasi ke depannya akan masuk ke produk-produk bernilai ekspor. Bio Farma berencana menjadikan Zimbabwe manufacturing hub bagi Afrika.

“Peta jalan atau road map ke depan kami memang akan masuk kepada produk-produk yang sifatnya lebih kepada memperbaiki marjin. Kita akan masuk kepada produk-produk yang tentunya lebih dibutuhkan tidak hanya di Indonesia, tetapi juga untuk nilai-nilai ekspor,” kata Direktur Bio Farma Honesti Basyir dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (23/5).

Honesti mencontohkan, Bio Farma akan masuk ke produk-produk baru dengan standar Food and Drug Administration Amerika Serikat (AS) atau US FDA. Ia mengatakan, jika produk Bio Farma hanya standardisasi BPOM atau WHO, tidak akan bisa masuk ke negara-negara dengan standardisasi yang tinggi, seperti AS ataupun Eropa.

Honesti menyatakan, Bio Farma akan segera investasi dan bermitra dengan rekan-rekan lembaga riset yang sudah siap produknya dan kita tinggal melakukan uji klinis. Kimia Farma dan Indofarma juga akan seperti ini mengingat selama ini fokus di produk generik.

“Kita harus bisa bermain dua fungsi ini, satu sebagai agen pembangunan, dan di sisi lain sebagai //creating value//. Investasi strategis //road map// ke depan kita akan geser bagaimana //Holding// BUMN Farmasi dan semua anak perusahaannya ini nantinya bisa menciptakan perusahaan yang lebih berkelanjutan ke depannya,” kata Honesti.

Sebagai informasi, tahun ini Holding BUMN Farmasi mengalokasikan total investasi atau belanja modal (capital expenditure) sebesar Rp 3,10 triliun. Adapun total belanja modal tersebut terdiri atas Bio Farma sebesar Rp 1,87 triliun, Kimia Farma Rp 1,15 triliun, dan Indofarma Rp 72,68 miliar.

“Total investasi Rp 3,10 triliun ini termasuk sebesar Rp 591,5 miliar investasi yang sumber dananya  kita dapatkan dari Penyertaan Modal Negara atau PMN yang pernah diberikan kepada holding pada 2020. Ini karena sifatnya sudah multiyears sehingga memang kita melakukan secara bertahap dan juga program-program yang telah kami sampaikan kepada Kementerian BUMN,” ujar Honesti.

Honesti mengatakan, Bio Farma juga berencana menjadikan Zimbabwe sebagai manufacturing hub di Afrika. Ia menyampaikan, strategic partnership untuk pasar, seperti dengan negara-negara Timur Tengah dan Afrika untuk pengembangan pasar serta juga efisiensi dari sisi produksi.

“Kalau kita produksi sendiri di sini, biaya distribusinya lebih mahal daripada biaya produksinya. Kemarin yang penjajakan kerja sama dengan Zimbabwe itu merupakan salah satu strategi kita untuk menjadikan Zimbabwe sebagai manufacturing hub bagi kawasan Afrika dan sekitarnya,” ujar Honesti.

Honesti menyampaikan, nantinya juga ada dengan Afrika Selatan bersama WHO untuk yang teknologi vaksin mRNA dan juga rencananya dengan Nigeria. “Jadi, memang kita melihat masing-masing kemitraan tersebut apa keuntungannya bagi kita yang bisa kita eksplorasi lebih lanjut untuk peningkatan performa perusahaan,” kata Honesti.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by PT Bio Farma (Persero) (biofarmaid)

Wapres Zimbabwe Constantino Chiwenga, yang sekaligus merangkap Menteri Kesehatan dan Perlindungan Anak Zimbabwe mengatakan, tujuan kedatangannya ke Bio Farma adalah untuk mencari potensi kerja sama memproduksi vaksin di Zimbabwe. Dan, Zimbabwe ingin mempelajari keberhasilan Indonesia dalam pembangunan bidang kesehatan.

Wapres Zimbabwe tersebut berharap, ke depannya akan ada kesepakatan untuk bertukar informasi dan teknologi antara Bio Farma dan Zimbabwe dalam produksi dan pendistribusian vaksin. Hal ini mengingat bahwa posisi Zimbabwe yang strategis yang terletak di pusat bagian selatan benua Afrika, bisa menjadi hub untuk negara-negara yang berada di sekitarnya.

Sejak 2007, Bio Farma yang sudah mengirimkan produk vaksinnya ke Zimbabwe berupa vaksin polio, campak, difteri, tetanus, pertusis melalui United Nations Children Fund (Unicef), hingga saat sudah sekitar 1,6 juta vial terkirim ke 16,9 juta dosis.

photo
Petugas kesehatan bersiap menyuntikkan vaksin Sinovac dari Biofarma kepada seorang siswa di SDN 01 di Depok, Jawa Barat, 14 Desember 2021. - (EPA-EFE/Bagus Indahono)

Sementara itu, Dubes Indonesia untuk Zimbabwe Dewa Made Juniarta Sastrawan mengatakan, Pemerintah Indonesia melalui Kedutaan Besar Zimbabwe di Harare siap untuk menindaklanjuti rencana kerja sama ini. “Kami siap untuk membantu mengidentifikasi apa saja yang dibutuhkan dalam rencana kerja sama ini dan tentunya hasil dari kerja sama ini akan memberikan win-win solution dan Indonesia siap mengidentifikasi kebutuhan dari kedua belah pihak,” kata Juniarta.

Direktur Operasi Bio Farma Rahman Roestan mengatakan, transfer teknologi bisa dilakukan dengan membagi peran antara Bio Farma dengan, pihak Zimbabwe. Ia menjelaskan, Bio Farma memerlukan mitra lokal di Zimbwabe yang bisa memproduksi vaksin, dengan fasilitas yang memadai, regulator (BPOM), distribusi, dan marketing.

“Dari pihak Bio Farma akan menyediakan teknologi transfer downstream, metode pengawasan mutu, dan Bio Farma bisa memberikan supply bulk vaksin untuk Zimbabwe,” kata Rahman.

Sumber : Antara


Muhammadiyah Harus Siap Hadapi Tantangan Abad Kedua

Para pengamat luar negeri memberi pujian bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi Islam tersukses di dunia.

SELENGKAPNYA

Zakat Ramadhan Anggota Foz Meningkat

Gerakan zakat berkontribusi memulihkan ekonomi nasional pascapandemi.

SELENGKAPNYA
×