Seorang ulama yang berkhidmat di Ponpes Tebuireng Jombang, yakni KH Syansuri Badawi. | DOK TEBUIRENG

Mujadid

22 May 2022, 09:00 WIB

KH Syansuri Badawi, Teladan Pendidik Sejati

Kiai Syansuri kesayangan Mbah Hasyim Asy’ari ini berkiprah untuk kemajuan pendidikan Islam.

OLEH MUYIDDIN

Tebuireng merupakan sebuah dukuh di Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Bagaimanapun, nama yang konon berasal dari hikayat kebo ireng (kerbau hitam) itu akhirnya lebih lekat di ingatan publik sebagai pesantren legendaris.

Pondok Pesantren Tebuireng dirintis Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari pada 26 Rabiul Awal 1317 H atau 3 Agustus 1899 M. Sejak saat itu, lembaga tersebut menghasilkan banyak alim ulama besar. Di antara para murid Mbah Hasyim adalah KH Syansuri Badawi.

Di mata sang pendiri jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU), Kiai Syansuri Badawi merupakan seorang santri kesayangan (kinasih). Sebab, lelaki kelahiran Majalengka, Jawa Barat, tersebut selalu menunjukkan semangat belajar yang tinggi.

Pada akhirnya, tokoh kelahiran tahun 1918 M itu mengikuti jejak guru tercinta. Ia pun memiliki banyak murid yang di kemudian hari menjadi figur nasional. Di antaranya adalah, Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin dan pakar hadis yang juga imam besar Masjid Istiqlal, almarhum KH Ali Mustafa Yaqub (1952-2016).

 
Ia memiliki banyak murid yang di kemudian hari menjadi figur nasional. Di antaranya adalah Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin.
 
 

KH Syansuri Badawi merupakan putra pasangan KH Badawi dan Nyai Hamidah. Dirinya tumbuh dalam lingkungan yang selalu mengutamakan pendidikan agama. Dari kedua orang tuanya, ia mendapatkan pelajaran tentang dasar keislaman.

Sejak kecil, pola kehidupan santri telah dijalaninya dengan penuh disiplin. Tidak hanya ibadah wajib, amalan-amalan sunah pun gemar dilakukannya. Sebut saja, tadarus Alquran, puasa sunah, dan shalat tahajud. Kegemarannya beribadah tidak terlepas dari contoh yang ditunjukkan ayah dan ibunya.

Beranjak dewasa, ia mulai melakukan rihlah intelektual ke sejumlah pondok pesantren di Tanah Jawa. Yang pertama dikunjunginya adalah Pondok Pesantren Babakan Ciwiringin, Cirebon, Jawa Barat. Di bawah bimbingan pengasuhnya, Kiai Amin alias Kiai Madamin, Syansuri Badawi menuntut ilmu-ilmu agama dengan tekun.

Sewaktu belajar di Cirebon, ia mulai mendapatkan kabar tentang ketokohan Mbah Hasyim Asy’ari. Karena itu, pemuda ini bercita-cita menimba ilmu di Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Ingin rasanya mengambil hikmah dan pengetahuan dari pendiri NU itu, khususnya dalam bidang fikih dan hadis.

Yang luar biasa adalah caranya mewujudkan impian itu. Syansuri Badawi muda menempuh perjalanan jauh dari Cirebon ke Jombang dengan berjalan kaki. Jangan samakan kondisi masa itu sekitar tahun 1930-an dengan situasi masa kini, yang mudah mendapati transportasi publik.

Di tengah kesukaran yang dihadapinya, pemuda ini tidak gentar. Rasa lelah fisik tidak sebanding dengan tekadnya yang kuat untuk dapat nyantri di Tebuireng.

 
Sewaktu belajar di Cirebon, ia mulai mendapatkan kabar tentang ketokohan Mbah Hasyim Asy’ari. Karena itu, pemuda ini bercita-cita menimba ilmu di Tebuireng.
 
 

Sesampainya di Jombang, Syansuri diterima dengan baik. Ia pun menjadi santri Ponpes Tebuireng. Dididik langsung oleh Mbah Hasyim, dirinya tidak menyia-nyiakan kesempatan belajar. Dengan serius, berbagai macam kitab keislaman atau turats dipelajarinya. Termasuk di antaranya, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Tafsir Baidlowi, Al Muhdzab, Fathul Wahhab, serta Ihya Ulum ad-Din.

Sebelum mondok di Tebuireng, Syansuri telah memiliki bekal ilmu yang cukup banyak. Itu semua diperolehnya dari beberapa pesantren yang didatanginya kala masih di Cirebon. Karena itu, di bawah asuhan Mbah Hasyim dirinya “hanya” perlu mengembangkan beberapa aspek keilmuan.

Pengalaman lain yang didapatnya di Jombang ialah berdagang. Di sela-sela waktu belajarnya, Syansuri menyempatkan diri untuk berjualan. Walaupun barang-barang yang dijualnya tidaklah banyak, penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tentu saja, fokusnya tetap pada mendalami ilmu-ilmu Islam sehingga pekerjaannya itu tidaklah menimbulkan distraksi baginya.

Dalam pandangan Mbah Hasyim, Syansuri termasuk murid yang sangat rajin. Alhasil, pendiri Ponpes Tebuireng itu memercayakannya untuk ikut mengajar beberapa santri setempat. Secara tidak langsung, kebijakan tersebut menunjukkan, sang pemuda telah diakui kealimannya oleh sang syekh.

Hal itu menebalkan tekad Syansuri untuk terus mengabdikan usia dan ilmunya dalam dunia pendidikan, khususnya di Tebuireng. Bahkan, hingga akhir hayatnya ulama ini terus mengajar para santri, dari satu generasi ke generasi. Jejak pengabdiannya juga diikuti sanak familinya, termasuk saudara kandungnya yang bernama Kiai Fathur Rahman.

Dalam hidupnya, Kiai Syansuri pernah menikah sebanyak tiga kali. Pernikahan pertamanya adalah dengan seorang perempuan yang bernama Hajjah Hannah. Istri pertamanya itu beberapa tahun kemudian wafat.

Kiai Syansuri kemudian menikah lagi dengan Hajjah Safinatun. Keduanya hidup bersama hingga ajal memisahkan. Sepeninggalan istri keduanya itu, sang kiai menikah dengan Hajjah Khosyiyah. Rumah tangga ini bertahan hingga tokoh tersebut berpulang ke rahmatullah. Dari semua pernikahan yang pernah dijalaninya, hanya dari istri pertama dirinya mendapatkan keturunan.

Teruskan tradisi

Sebagai seorang santri kinasih, sosok Kiai Syansuri dikenal dengan baik oleh seluruh warga Tebuireng. Dalam mengajar, ia selalu hadir dan membimbing para murid dengan sepenuh hati. Mereka pun menerima nasihat-nasihatnya dengan patuh.

Selama mengabdi di sana, Kiai Syansuri pernah menduduki jabatan kepala sekolah dan rektor Universitas Hasyim Asy’ari. Setelah Mbah Hasyim wafat, ia tetap meneruskan tradisi sang pendiri Ponpes Tebuireng. Misalnya, mengadakan kajian dan khataman kitab Shahihain, khususnya setiap bulan suci Ramadhan.

 
Sebagai seorang santri kinasih, sosok Kiai Syansuri dikenal dengan baik oleh seluruh warga Tebuireng.
 
 

Setelah Kiai Syansuri mencapai usia sepuh, tradisi itu sempat diteruskan selama setahun oleh Gus Ishom Hadzik sekitar 1998-an. Selanjutnya, penerusnya adalah beberapa santri, semisal KH Habib Ahmad dan KH Kamuli Khudari.

Kiai Syansuri juga mengajarkan berbagai kitab lainnya, seperti Ihya Ulum ad-Din, Fathul Wahab, Al-Muhadzab, Al-Qulyubi, dan Tafsir Baidlowi. Biasanya, ia menggelar pengajian kitab-kitab itu usai memimpin shalat maghrib atau subuh.

Dalam buku Mengais Keteladanan dari Kiai Syansuri Badawi, seorang santri Cholidi Ibrar menuturkan kesaksiannya. Menurut dia, Kiai Syansuri selalu menasihati para santri untuk memiliki kepercayaan diri yang kuat. Tidak boleh minder dalam menatap masa depan. Ilmu adalah kunci, terutama yang dipelajari dari alim ulama di pesantren.

Anak-anakku,” ujar Cholidi menirukan sebuah nasihat dari gurunya tersebut, “coba perhatikan santri-santri terdahulu yang kini banyak menjadi orang berguna. Kehadirannya bermanfaat di tengah masyarakat dan menempati kedudukan terhormat. Termasuk banyak yang menjadi kiai. Mereka memiliki himmah saat di pesantren. Yang jauh lebih penting, semangat thalab al-‘ilm. Fokus dan sungguh sungguh dijalankan. Perkara kelak bakal menjadi apa pun—semua itu mengikuti ketekunan dan riyadhah di pesantren.”

Selain harus memiliki kepercayaan diri, seorang santri juga harus memiliki ketekunan. “Jangan lupa, ketekunan itu tidak bisa dibeli dan memang tidak ada yang menjualnya. Ketekunan itu melekat dan tumbuh dari dalam diri kalian semua,” demikian petuah Kiai Syansuri.

Ketika menjadi pengajar di Tebuireng, sang kiai selalu memberikan motivasi kepada para santri agar mereka selalu semangat dalam belajar. Cholidi mengatakan, stimulus spirit itu dilakukan antara lain dengan menuturkan cerita-cerita teladan dari sesepuh pesantren masa lalu.

Tidak hanya dari Indonesia, melainkan juga luar negeri. Ambil contoh, kisah-kisah teladan Imam Syafii dan Imam Ghazali. Sering kali, cerita Kiai Syansuri begitu menarik sehingga para santri terpacu untuk terus giat belajar, meniru keteladanan para alim ulama legendaris.

Di antara tokoh yang pernah menjadi santri Kiai Syansuri adalah KH Ma’ruf Amin dan Prof KH Ali Mustafa Ya’qub. Santri lainnya yang menjadi seorang kiai adalah KH Lukman Hakim, KH Musta’in Syafi’i, KH Farid Zaini, KH Habib Ahmad, KH Kamuli Khudhari, dan masih banyak lagi.

Kiai Syansuri menghabiskan nyaris seluruh hidupnya untuk kemajuan pendidikan Islam, khususnya pesantren. Karena itu, Kiai Syansuri sangat layak untuk disebut sebagai pendidik sejati.

Adapun di luar dunia pendidikan, Kiai Syansuri sempat berkiprah di ranah politik. Tokoh Nahdliyin ini tercatat pernah menjadi anggota DPR. Dalam menjalankan tugasnya selaku legislator, dirinya selalu mengutamakan kepentingan rakyat dan persatuan bangsa. Masa tuanya dihabiskan di rumahnya, Desa Ampel Gajah, Ngoro, Jombang.

 

photo
ILUSTRASI KH Syansuri Badawi merupakan salah seorang perintis persatuan pencak silat di lingkungan Nahdlatul Ulama. - (DOK ANTARA YUDHI MAHATMA)

Dari Kampus, Silat, Hingga Politik

Kiprah KH Syansuri Badawi dalam dunia pendidikan tidak perlu diragukan lagi. Kepala madrasah Salafiyah Syafi'iyah Tebuireng itu juga pernah menjadi wakil pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Dialah yang menjalankan roda kepemimpinan di sana saat pengasuh utama, KH Yusuf Hasyim, memiliki kesibukan di Jakarta.

Selain itu, Kiai Syansuri Badawi juga pernah menduduki jabatan pimpinan tertinggi Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy), yakni antara tahun 1985 dan 1997. Saat menjadi rektor, ia menerapkan syariat Islam dengan teguh. Misalnya, saat ada mahasiswa atau mahasiswi Unhasy yang ketahuan berbincang-bincang dengan lawan jenis, maka tidak segan-segan ia langsung melemparkan bakiaknya, dan kemudian menasihati mereka.

Kiai Syansuri juga menjadi salah satu penggagas berdirinya organisasi pencak silat Nahdlatul Ulama (NU), yaitu Pagar Nusa. Waktu itu, tradisi bela diri tersebut dirasakan kian luntur di lingkungan pesantren-pesantren. Padahal, pencak silat merupakan warisan Wali Songo.

Akhirnya, KH Suharbillah dari Surabaya menemui Kiai Syansuri. Keduanya kemudian bersepakat untuk menemui KH Abdullah Maksum Jauhari di Lirboyo, Kediri, guna berdiskusi mengenai keberlanjutan persilatan di kalangan warga Nahdliyin.

 
Kiai Syansuri juga menjadi salah satu penggagas berdirinya organisasi pencak silat Nahdlatul Ulama (NU), yaitu Pagar Nusa.
 
 

Pada 27 September 1985, para ulama sepuh dan para pendekar kemudian bertemu di pesantren Tebuireng untuk menggodok konsep wadah pencak silat NU. Menurut Kiai Syansuri, mempelajari pencak silat hukumnya mubah dengan tujuan perjuangan. Dari fatwa itulah, maka muncul kesepakatan untuk membentuk suatu ikatan bersama yang mempersatukan berbagai aliran silat di kalangan Nahdliyin.

Di ranah politik, keaktifan Kiai Syansuri Badawi tampak pada masa Orde Baru. Ia bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Pada 1987, dirinya maju sebagai calon anggota DPR/MPR. Usai pemilu, sang kiai berhasil terpilih. Selama dua periode, ia menjadi wakil rakyat di Senayan, Jakarta.

Sebagai seorang legislator, dirinya jauh dari kesan eksklusif. Sifatnya merakyat dan tidak gentar berjuang menyuarakan kepentingan publik. Di Gedung DPR/MPR, barangkali dialah satu-satunya anggota parlemen yang memakai sarung dan peci saat sedang bersidang. Adapun yang lainnya memakai setelan jas, lengkap dengan dasi.

Setiap yang hidup pasti akan menjumpai kematian. Begitu pula dengan kaum alim ulama, golongan yang disebut sebagai pewaris para nabi. Wafatnya seorang dai merupakan sebuah musibah bagi umat Islam.

Rasulullah SAW bersabda, “Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam” (HR al-Thabrani).

Kiai Syansuri wafat di rumahnya, Desa Ampel Gajah, Ngoro, Jombang, pada 15 Februari 2000. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, dirinya telah menjalani perawatan lantaran mengidap sakit diabetes.

Jenazah Kiai Syansuri dimakamkan di kompleks makam Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an, Tebuireng, Jombang. Kuburannya berdekatan dengan pusara KH Yusuf Mashar, pendiri pondok tersebut.


Tabrani, Komunitas Cina, dan Menteri Tahu-Tempe

Tabrani yang dari Madura dianggap lebih layak menjadi menteri karena ia telah banyak berbuat untuk warga Cina peranakan.

SELENGKAPNYA

Jangan Lupa Bahagia

Kebahagiaan sesungguhnya datang dari kemampuan memaknai hidup dan nilai-nilai yang dijunjung.

SELENGKAPNYA

Batavia Kolonial dan Jakarta Soekarno

Setelah kemerdekaan, Jakarta berubah total. Sejumlah patung dan tempat yang menggambarkan masa kejayaan kolonail dihancurkan.

SELENGKAPNYA
×