Alwi Shahab | Daan Yahya/Republika

Jakarta

22 May 2022, 08:00 WIB

Batavia Kolonial dan Jakarta Soekarno

Setelah kemerdekaan, Jakarta berubah total. Sejumlah patung dan tempat yang menggambarkan masa kejayaan kolonail dihancurkan.

OLEH ALWI SHAHAB

Pada masa kolonial, untuk menarik para wisatawan, Belanda membanggakan Harmoni, Noordwijk (Jalan Juanda), Risjwijk (Jalan Veteran) , Molenvliet (Jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk) sebagai tempat wisata di Batavia. Berbagai tempat hiburan seperti klub malam, bioskop, hotel, pertokoan,  dan gedung kesenian berdiri di kawasan elite ini.

Pada sore hari, lebih-lebih pada malam Ahad, warga Belanda yang pada awal abad ke-20 jumlahnya makin banyak, menghabiskan waktu bersenang-senang bersama keluarga untuk makan-makan atau berbelanja di pertokoan dan mencari hiburan dengan mengenakan pakaian gaya Barat. Atau, menonton parade militer yang memainkan musik-musik gaya Eropa di Waterlooplein (kini Lapangan Banteng). Nama ini untuk memperingati kekalahan Napoleen di Waterloo (Belgia) pada 1815.

Di pagi dan siang hari, mereka menikmati udara segar di bawah pepohonan rindang di Wilhelmina Park yang kini menjadi Masjid Istiqlal masjid termegah di Asia Tenggara. Wilhelmina nenek Ratu Beatrix sekarang ini.

Setelah kemerdekaan, Jakarta berubah total. Sejumlah patung dan tempat yang menggambarkan masa kejayaan kolonail dihancurkan. Bung Karno mengganti Lapangan Singa menjadi Lapangan Banteng. Monumen Jenderal van Heutz di Menteng Raya depan Gedung Juang. Patung yang oleh pemerintah kolonial dianggap tokoh yang menaklukkan Aceh dihancurkan.

Di Wilhelmina Park 'Patung Dewi Kebenaran' mengalami nasib yang sama. Patung JP Coen di halaman depan Kementerian Keuangan dihancurkan pada masa Jepang.

 
Setelah kemerdekaan, Jakarta berubah total. Sejumlah patung dan tempat yang menggambarkan masa kejayaan kolonail dihancurkan.
 
 

Sejak 1960-an bersamaan dengan Asian Games II di Jakarta, Bung Karno mengubah wajah lama Batavia dengan Jakartanya Soekarno. Dia membangun Stadion Utama Gelora Bung Karno yang dapat menampung lebih 100 ribu orang yang kala itu merupakan stadion terbesar di dunia. Belum lagi belasan stadion dari berbagai cabang olahraga lainnya. Di stadion utama, Presiden Soekarno dengan karismanya yang memukau, setiap kali ia berpidato, selalu dipenuhi massa rakyat yang mengelu-elukannya.

Sejak AG II itulah wajah Jakarta berubah total. Dibangunnya Jalan Thamrin dan Jalan Sudirman hingga Kebayoran Baru merupakan usaha Bung Karno untuk menciptakan pusat kota yang baru.

Dua jalan ini dan dua titik utama yang mengakhirinya merupakan akses baru Kota Jakarta yang sepenuhnya akan berusaha melupakan masa Batavianya Belanda. Semangat nasionalisme masih menggebu-gebu ketika itu. Presiden Soekarno melarang nama-nama asing di bioskop-bioskop dan tempat hiburan.

Itje Samsudin, wartawan Istana LKBN Antara, diganti menjadi Ita Sansudin. Artis Lince Tambayong menjadi Rima Melati. Demikian juga dengan nama toko dan perusahaan, termasuk ekspor impor. Di sepanjang Jalan Thamrin terdapat setidaknya tiga gedung yang menjadi proyek Soekarno. Hotgel Indonesia, Wisma Nusantara gedung tertinggi di Asia kala itu (29 tingkat).

 
Ketika keluarnya Surat Perintah 11 Maret 1966 pembubaran PKI dan ormas-ormasnya, Bundaran HI juga menjadi tempat ratusan ribu massa yang mendukungnya.
 
 

Menurut Gubernur DKI, Soemarno, Jalan Thamrin penuh dengan gedung yang paling sedikit lima lantai. HI dengan tugu 'selamat datang' (Bundaran HI)  dianggap sebagai pintu gerbang Kota Jakarta. Kalau saat ini Bundaran HI hampir tiap hari didatangi masyarakat untuk berunjuk rasa atau mengeluarkan pendapat, bukan saja terjadi saat ini.

Ketika keluarnya Surat Perintah 11 Maret 1966 pembubaran PKI dan ormas-ormasnya, Bundaran HI juga menjadi tempat ratusan ribu massa yang mendukungnya. Meskipun awalnya banyak protes dan didemo sebagai proyek mercusuar, Monas yang menjulang dengan emas bagian puncaknya merupakan proyek Soekarno meski diselesaikan penggantinya Soeharto. Yang jelas, beralihlah kebesaran Batavia masa kolonial yang berpusat di Molenvliet ke arah selatan.

Tulisan ini disadur dari Harian Republika edisi Jumat, 14 Mei 2011. Alwi Shahab adalah wartawan Republika sepanjang zaman yang wafat pada 2020.


Jangan Lupa Bahagia

Kebahagiaan sesungguhnya datang dari kemampuan memaknai hidup dan nilai-nilai yang dijunjung.

SELENGKAPNYA

Uang Eidi

Ayyan sangat bergembira menyambut Idul Fitri karena dia sangat mengharapkan hadiah puasa sebulan penuh dari kedua orang tuanya dan uang eidi (amplop Lebaran).

SELENGKAPNYA

Zainab binti Abu Salamah Tumbuh di Bawah Asuhan Rasulullah

Zainab meriwayatkan hadis tentang ketentuan masa berkabung untuk seorang perempuan.

SELENGKAPNYA
×