Asma Nadia | Daan Yahya | Republika

Resonansi

21 May 2022, 03:45 WIB

Pakai atau Lepas Masker?

Kebijakan juga harus dibuat secara bertahap serta tidak tergesa.

OLEH ASMA NADIA

Seharusnya apa yang baru saja disampaikan Presiden menjelma kabar gembira. Ya, sejatinya jika masker adalah kewajiban yang diatur secara hukum, maka ketika presiden memperbolehkan masyarakat membuka masker di tempat terbuka, harusnya semua pihak akan menyambut suka cita.

Namun kenyataannya beragam reaksi muncul. Cukup banyak yang memilih tetap mengenakan masker walau di luar ruangan dengan dalih serius sampai bernada bercanda seperti berikut. 

“Tetap istiqomah pakai masker, karena membuat saya percaya diri. Alias gue jelek. Let me be ugly in peace.”

 
Cukup banyak yang memilih tetap mengenakan masker walau di luar ruangan dengan dalih serius sampai bernada bercanda seperti berikut. 
 
 

“Pakai masker membuat mataku terlihat cantik, aku suka mataku jadi perhatian.” 

“Aku siap kelas off line, ujian offline, tapi buka masker aku gak siap. Jujur aku suka senyum-senyum sendiri.”

Sebagian lagi- memilih tetap memakai masker karena ragu, “Rasanya ada yang kurang tepat dengan kebijakan itu (buka masker).”

Bahkan ada yang menentang  dan meminta masyarakat tidak mendengarkan kebijakan Presiden. Pendapat ini justru datang dari akademisi kompeten.

Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono berkomentar, "Kalau presiden memperbolehkan, tapi menurut saya enggak usah diikutin, tetap pakai masker. Ya kan kita enggak tahu pandemi kan belum selesai." 

 
Bahkan ada yang menentang dan meminta masyarakat tidak mendengarkan kebijakan Presiden. Pendapat ini justru datang dari akademisi kompeten.
 
 

Senada dengan ungkapan di atas, epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman mengingatkan untuk tidak euforia. Jumlah kasus Covid-19 memang melandai, tapi risiko penularan dan munculnya varian baru tidak boleh diabaikan.

Menurutnya, sekalipun di ruang terbuka, jika terjadi kerumunan dan sirkulasi udara kurang bagus maka tetap dianjurkan mengenakan masker.

Dr Erlang Samoedro, SpP dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) juga menyarankan agar tetap waspada hingga dua pekan ke depan untuk mengantisipasi risiko lonjakan kasus selepas lebaran.

Bagaimana dengan mereka yang menyambut gembira kebijakan pelonggaran pemakaian masker?

“Sudah boleh lepas masker, thanks God I hate wearing masker!

“Wah, sudah bisa pakai lipstick lagi, nih!”

 
Sama seperti yang menentang, komentar dari serius sampai canda mewarnai ranah netizen dari sisi mereka yang menyambut baik. 
 
 

Sama seperti yang menentang, komentar dari serius sampai canda mewarnai ranah netizen dari sisi mereka yang menyambut baik. 

Bagaimana pun sedikitnya dua hal penting menjadi catatan atas berbedanya respons masyarakat terkait kebijakan itu.

Pertama, walau berlainan arus dengan pemangku kebijakan namun ini menunjukkan hal positif, yaitu banyak yang memakai masker dengan kesadaran pribadi.

Artinya selama ini, mengenakan masker tidak dilakukan sebab masyarakat takut dengan konsekuensi hukum - melainkan demi kesehatan  dan keselamatan diri serta keluarga.

Atas dasar itu pula meski tidak lagi diwajibkan, masyarakat tetap memilih waspada dan selalu mengenakannya baik di dalam maupun luar ruangan. 

 
Sebelum dipublikasikan, akan lebih elegan jika didahului kordinasi cermat dan rapi dengan berbagai pihak terkait
 
 

Kedua, pentingnya persiapan matang ketika membuat kebijakan. 

Sebelum dipublikasikan, akan lebih elegan jika didahului kordinasi cermat dan rapi dengan berbagai pihak terkait, sehingga ketika diumumkan semua sudah satu suara dan mendukung. Kalaupun terdapat pendapat berbeda mereka sudah menyuarakan sebelumnya, sehingga tidak lagi terkejut dan akhirnya memberi respons sesuai harapan.

Kebijakan juga harus dibuat secara bertahap serta tidak tergesa. 

Akan bijak bila sebelum pelonggaran masker diberlakukan lebih dahulu pemerintah menggagas pengurangan pembatasan, mengembalikan kegiatan normal di sekolah, kampus, perkantoran, dll serta mencermati pengaruh atau perkembangan setelahnya. Jika semua aman, keputusan pelonggaran masker barulah disampaikan.

 
Selain itu, tidak kalah penting untuk memastikan kebijakan dibuat bukan sebagai langkah coba-coba karena ini menyangkut kesehatan, keselamatan, dan nyawa rakyat. 
 
 

Selain itu, tidak kalah penting untuk memastikan kebijakan dibuat bukan sebagai langkah coba-coba karena ini menyangkut kesehatan, keselamatan, dan nyawa rakyat. 

Pembuat kebijakan sekalipun tentu tidak ingin menemukan kasus terinfeksi memuncak usai pelonggaran hingga harus ditarik dan direvisi kembali.  

Selain, rasanya tak elegan jika pada tampuk pemegang kekuasaan tertinggi negara --tindakan trial dan error dilakukan-- meski semoga tidak. Sebab setelah timbul korban jatuh tidak ada yang sanggup melakukan undo

Meskipun sungguh dari hati paling dalam saya berharap keputusan ini di masa depan terbukti tepat.

Semoga benar sebuah pertanda baik- bahwa pandemi memang akan segera usai.


Siswa Masih Wajib Bermasker

Masker masih menjadi bagian dari protokol kesehatan di sekolah.

SELENGKAPNYA

Bijak Sikapi Pelonggaran Penggunaan Masker

Mobilitas masyarakat yang tinggi tidak diikuti dengan kenaikan kasus Covid-19.

SELENGKAPNYA

Wajib Masker Dilonggarkan

Pelonggaran wajib masker menjadi bagian program transisi dari pandemi menuju endemi Covid-19.

SELENGKAPNYA
×