Anak-anak santri Masjid At Taufiq pawai obor menyambut Idul Fitri di Seyegan, Sleman, Yogyakarta, Ahad (1/5/2022) malam. | Wihdan Hidayat / Republika

Islamia

20 May 2022, 08:00 WIB

Kesucian Jiwa

Setelah jiwa kita bersih dari kotoran, kita harus mengisinya dengan kebaikan.

OLEH PROF HAMID FAHMY ZARKASYI

Akhir-akhir ini marak terjadi tindak korupsi, pencurian, pembegalan hingga pelecehan seksual, seks bebas, seks terlarang, bahkan seks menyimpang. Bagi masyarakat umum, itu semua adalah kejahatan yang bertentangan dengan hukum positif ataupun kemanusiaan.

Bagi Muslim, itu semua bertentangan dengan syariat Islam. Berarti syariat Islam itu sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan. 

Banyak yang alergi mendengar kata syariat Islam. Banyak pula yang memahami syariat Islam dari hukuman kejahatannya. Tidak banyak yang mengerti bagaimana Islam mengajarkan umatnya agar tidak terjerumus pada kejahatan.

Ajaran Islam yang disebut syariah itu sebenarnya merupakan amalan untuk pembersihan jiwa. Jiwa yang bersih tidak mungkin melakukan perbuatan jahat. Ibarat seorang yang berpakaian bersih, berkemeja, berdasi, dengan jas dan minyak wangi, tidak mungkin dia akan bermain kotoran lumpur. 

Bagaimana Islam mengajarkan kita membersihkan jiwa. Sebenarnya, tidak mencari-cari teorinya. Syariah Islam yang dalam arti sempit dimulai dari syahadat kemudian diikuti oleh shalat, puasa, zakat, dan haji adalah pembersih jiwa. Yang paling dahsyat adalah syahadat yang mampu membersihkan dosa kekufuran atau dosa sebesar apa pun sebelumnya. 

Ritual shalat yang merupakan tiang dari keberagamaan dalam Islam juga penghapus dosa dan pembersih jiwa. Jika dikerjakan dengan penuh kesadaran (khusyuk) akan menjadi pembersih jiwa, dan jiwa yang bersih akan enggan melakukan kejahatan (QS al-Ankabut 45).

Kalau Nabi mengibaratkan shalat itu seperti mandi di sungai lima kali sehari, kini kita bisa memahami mengapa kita perlu cuci tangan agar terhindar dari virus korona. Itulah makna penyucian. 

 
Syariah Islam yang dalam arti sempit dimulai dari syahadat kemudian diikuti oleh shalat, puasa, zakat, dan haji adalah pembersih jiwa. 
 
 

Apa yang dibersihkan oleh shalat lima waktu? Banyak perbuatan yang merupakan dosa-dosa kecil yang dilakukan Muslim dalam kehidupan sehari-hari. Ada dosa-dosa kecil yang berasal dari mata, dari telinga, dari lidah atau mulut, dan ada pula yang dari kaki dan tangan.

Semua itu mungkin tidak terhindarkan oleh kita dan akan memberi titik hitam dalam hati kita. Namun, semua itu bisa dihapuskan oleh shalat lima kali sehari.  

Selain shalat lima waktu, syariat Islam masih memberi alat penghapus dosa lainnya, yaitu shalat Jumat seminggu sekali. Itu adalah untuk menghapus dosa-dosa yang tidak terhapus dalam sehari semalam. Maka itu, shalat bagi-laki-laki tidak boleh ditinggalkan walaupun sekali. 

Selain shalat Jumat, Nabi menambah dua alat penghapus dosa dan pembersih jiwa, yaitu puasa Ramadhan dan ibadah umrah. 

Jadi, jiwa yang bersih adalah jiwa yang tidak memiliki dosa sekecil apa pun. Tapi bagaimana mungkin manusia bisa bersih dari segala dosa? Ternyata perbuatan baik itu juga penghapus dosa-dosa. Nabi bersabda: ”…ikutilah perbuatan dosa dengan perbuatan baik, (niscaya perbuatan baikmu itu) akan menghapus dosa-dosa itu (al-Hadith).  

Masalahnya mengapa manusia perlu membersihkan jiwanya. Apakah dalam diri manusia ada potensi untuk berbuat jahat. Memang, Islam mengajarkan bahwa jiwa itu diciptakan dengan sebaik-baiknya ciptaan (QS al-Tin 4; al-Syams 7). Ruhnya telah mengenal Tuhannya sebelum kelahirannya (fitrah). Karena jiwa manusia diciptakan sedemikian itu, manusia harus menjaga jiwanya dari kerusakan,  kotoran, dan kecenderungan yang negatif.  

 
Akan tetapi, (untuk menguji manusia) Allah memberi ilham untuk berbuat jahat (fujur) dan berbuat baik (takwa).
 
 

Akan tetapi, (untuk menguji manusia) Allah memberi ilham untuk berbuat jahat (fujur) dan berbuat baik (takwa).  Ibn Taymiyyah kemudian menjabarkan bahwa manusia itu mempunyai dua bisikan (lammah): bisikan syaitan (lammat al-syaitan) dan bisikan malaikat (lammat al-malak). Al-Ghazzali menggunakan istilah al-Nafs al-Ammarah bi al-Ssu’ dan al-Nafs al-Mutma’innah.

Ujiannya jelas. Manusia yang memperkuat dirinya dengan perbuatan baik (takwa) akan dapat mencegah bisikan syaitan. Mudahnya begini. Jika jiwa seseorang itu penuh dengan energi positif, dia akan hidup sehat, bersih, dan selalu berbuat baik. Tapi jika jiwa seseorang itu berenergi negatif, hatinya tidak bersih, selalu berpikir negatif, dan akan berbuat jahat pada orang lain.

Maka dari itu, Nabi mengajarkan doa: ”Aku berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa kami dan keburukan perbuatan kami”; "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan pendengaranku, kejahatan penglihatanku, keburukan lidahku, keburukan hatiku, dan keburukan air maniku." (HR Abu Dawud no.1551, at-Tirmidzi no.3492).

"Ya Allah, jauhkanlah aku dari berbagai kemungkaran akhlak, hawa nafsu, amal perbuatan, dan segala macam penyakit." (HR Al-Hakim). 

Setelah jiwa kita bersih dari kotoran, kita harus mengisinya dengan kebaikan atau dalam istilah sufi, ber-tahalli. Jika jiwa manusia dipenuhi oleh amalan-amalan positif, jiwa itu menjadi baik.

Buktinya dengan berzikir jiwa kita menjadi tenang; dengan bersedekah jiwa menjadi sehat; dengan berbuat baik (birr) kita akan panjang umur; dengan memberi akan mendapat kemudahan, dan banyak lagi. Bahkan, Nabi menegaskan, barang siapa berpuasa dan shalat malam dengan mengharap pahala (keridhaan) Allah, dia keluar dari dosanya seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya. (HR Ahmad).

 
Setelah jiwa kita bersih dari kotoran, kita harus mengisinya dengan kebaikan atau dalam istilah sufi, ber-tahalli.
 
 

Sebenarnya, perbuatan baik itu adalah bagian dari pengamalan Akidah. Jika akidah seseorang itu kuat, perbuatannya akan mengikuti akidahnya. Apa yang diyakini itulah yang diperbuatnya. 

Jadi, Islam itu adalah agama yang teologinya mengatur pikiran dan perasaan pemeluknya; syariatnya bertujuan untuk menjaga akidah, akal pikiran, jiwa, nasab, dan harta kekayaan. Hukum-hukumnya untuk menjaga manusia dan kemanusiaan. Semakin dekat pada Tuhannya, semakin baik pada sesama. Berbuat baik pada sesama berarti berbuat baik pada diri sendiri.    

Tampaknya bangsa yang berideologi Pancasila yang berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa ini belum mempunyai alat atau program untuk membangun jiwa yang bersih. Slogan-slogan politisi atau parpol pada musim pilpres atau pilleg hanya basa-basi belaka, bahkan tidak ada yang menyinggung kebersihan jiwa, kesejahteraan lahir batin, dan sebagainya.

Jika individu bangsa ini telah suci jiwa dan raganya, ia akan segera berdampak pada kualitas masyarakatnya. Dari individu menjadi keluarga, dari keluarga menjadi kelompok, dan dari kelompok menjadi bangsa. Jika setiap individu itu menggalakkan kebaikan dan mencegah kejahatan, yang dihasilkan adalah bangsa sehat lahir dan batin. Wallahu A’lam. 


Korut Kerahkan 10 Ribu Petugas untuk Lacak Covid-19

Korut melaporkan kenaikan kasus secara melejit yang diyakini adalah kasus Covid-19.

SELENGKAPNYA

Wakaf dan Inflasi Energi

Peran wakaf sebagai instrumen keuangan berbasis ekuitas untuk mengurangi beban pembiyaan.

SELENGKAPNYA

The Great Replacement Kaitkan Buffalo dan Christchurch

Pakar mengatakan semakin banyak anak muda kulit putih yang terinspirasi penembakan massal bermotif rasial.

SELENGKAPNYA
×