Warga mengisi bahan bakar minyak (BBM) di Pertashop, Yogyakarta, Selasa (10/5/2022). Daerah Istimewa Yogyakarta mencatatkan inflasi tertinggi pada April 2022, sejak terdampak pandemi Covid-19 pada 2020. | Wihdan Hidayat / Republika

Opini

18 May 2022, 03:45 WIB

Wakaf dan Inflasi Energi

Peran wakaf sebagai instrumen keuangan berbasis ekuitas untuk mengurangi beban pembiyaan.

IRVAN MAULANA, Anggota Masyarakat Ekonomi Syariah DKI Jakarta

Saat ini, dunia sedang berkutat menghadapi rezim baru inflasi energi. Perjuangan melawan perubahan iklim membuat harga bahan bakar fosil semakin mahal.

Lonjakan harga komoditas, konflik geopolitik, hambatan politik, dan ketidakseimbangan rantai pasokan menyebabkan harga energi tergerek naik dan semakin tak terkendali. Tak pelak, kondisi ini menyebabkan tekanan inflasi yang berkepanjangan dan mengganggu proses transisi energi.

Bank Sentral Eropa menyebutkan, kita sedang menghadapi tiga determinan utama inflasi energi. Pertama, climateflation yaitu biaya perubahan iklim yang semakin mahal. Hal ini disebabkan karena jumlah bencana alam dan cuaca buruk kian meningkat, seperti kekeringan ekstrim yang menyebabkan kenaikan tajam pada harga pangan.

Kedua, fossilflation atau kenaikan tajam harga minyak dan gas yang merupakan warisan ketergantungan pada sumber energi fosil, yang belum berhasil dikurangi selama beberapa dekade terakhir. Ketiga, greenflation, meningkatnya biaya energi terbarukan (EBT), sebab sebagian besar teknologi hijau membutuhkan lebih banyak logam dan mineral, seperti tembaga, litium, dan kobalt, terutama selama masa transisi.

 
Bank Sentral Eropa menyebutkan, kita sedang menghadapi tiga determinan utama inflasi energi.
 
 

Kendaraan listrik, misalnya, menggunakan logam dan mineral enam kali lebih banyak dibanding kendaraan konvensional. Pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai membutuhkan tembaga tujuh kali lebih banyak dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga gas. Ketika permintaan dan preferensi pada energi terbarukan meningkat, sementara pasokan terbatas, maka akan terjadi anomali rantai pasok energi.

Inilah paradoks transisi energi, semakin mendesak peralihan ke ekonomi hijau, semakin mahal harganya dalam jangka pendek. Maka itu, sangat penting memilih jenis EBT dengan biaya termurah untuk dikembangkan dalam waktu dekat.

Energi terbarukan memiliki potensi besar untuk menurunkan biaya dan harga bahan bakar fosil dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Meskipun demikian, harga komponen logam pembangkit listrik tenaga surya dan pembangkit listrik tenaga angin mengalami tren peningkatan. Harga aluminium spot melonjak di atas 3.300 dolar AS per metrik ton pada tahun 2021 tingkat tertinggi sejak 1988.

Tembaga, yang dibutuhkan di setiap bagian kabel listrik, mendekati 10 ribu dolar AS US per metrik ton, naik dari sekitar 6.000 dolar AS pada tahun 2015.

Namun, di saat yang sama harga gas, minyak dan batu bara juga meningkat jauh lebih cepat, sehingga EBT masih menjadi pilihan terbaik untuk menyediakan energi yang terjangkau. 

Berdasarkan laporan Bank Indonesia, potensi pengembangan panel surya atau solar photovoltaic (PV) sebagai sumber EBT terjangkau cukup besar. Hal tersebut lantaran harga solar PV menjadi yang termurah dibanding EBT lainnya. Pada 2010, harga solar PV sebesar 4.731  dolar  AS per kilowatt (KW). Harganya kemudian turun menjadi hanya 883/KW dolar AS pada 2020.

EBT yang juga memiliki biaya murah berasal dari tenaga angin darat. Tercatat biaya yang perlu dikeluarkan untuk setiap satu KW dari sumber EBT tersebut senilai 1.355 dolar AS pada 2020. Sementara itu, geothermal menjadi energi terbarukan termahal saat ini. Pada 2010, harganya hanya 2.620 dolar AS dan meningkat menjadi 4.468/KW dolar AS pada 2020.

 
Namun, di saat yang sama harga gas, minyak dan batu bara juga meningkat jauh lebih cepat, sehingga EBT masih menjadi pilihan terbaik untuk menyediakan energi yang terjangkau. 
 
 

International Renewable Energy Agency (IRENA) menyebutkan hambatan utama membangun sumber energi terbarukan terletak pada pembiayaan yang terjangkau. Sayangnya, sekitar 90 persen proyek energi terbarukan didanai melalui model pembiayaan berbasis utang.

Utang yang besar menyebabkan proyek EBT semakin mahal dan tidak akan berkelanjutan. Mahalnya pembiayaan akan menambah beban keuangan pada proyek EBT, sehingga inflasi energi pun sulit ditekan. Paradoksnya, ini mendorong negara-negara ke jatuh dalam jurang defisit yang lebih besar.

Pinjaman pemerintah melalui pembiayaan defisit pada dasarnya dapat dicegah dengan komitmen aktif masyarakat untuk terlibat dalam pembiayaan publik. Pembiayaan deficit biasanya memiliki implikasi keuangan yang negatif bagi pemerintah. Dalam kondisi ekonomi dunia yang bergejolak, keterlibatan publik seharusnya ikut mengurangi utang publik.

Dengan demikian, sistem wakaf diharapkan secara signifikan dapat berkontribusi pada pengurangan defisit anggaran untuk proyek EBT, sehingga bisa menekan crowding-out effect akibat ketergantungan yang berlebihan pada pembiyaan berbasis utang. Di sinilah urgensi peran wakaf sebagai instrumen keuangan berbasis ekuitas untuk mengurangi beban pembiyaan berbasis utang untuk menekan tingginya biaya energi. 

 
Pinjaman pemerintah melalui pembiayaan defisit pada dasarnya dapat dicegah dengan komitmen aktif masyarakat untuk terlibat dalam pembiayaan publik.
 
 

Revitalisasi dan modernisasi lembaga wakaf untuk pengadaan proyek energi terbarukan mengurangi pengeluaran publik tanpa terlalu bergantung pada APBN dan APBD. Berkurangnya pembiayaan EBT berbasis utang bakal menurunkan beban bunga tinggi yang selama ini menjadi hambatan bagi pertumbuhan dan investasi hijau. Manajemen dan operasinal sistem wakaf perlu direstrukturisasi secara inovatif agar secara efektif dan efisien mengejar target transisi energi.

Sejauh ini, Indonesia hanya memiliki PLTS dengan kapasitas 181 MW. Jumlah itu masih jauh dibandingkan kapasitas PLTS di Thailand dan Malaysia masing-masing telah mencapai 2,9 GW dan 881 MW. Tanah wakaf berpotensi besar menyediakan ketersediaan lahan, khususnya untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Sementara wakaf tunai berpotensi besar menjadi sumber pendanaan komponen pembangkit lainnya. Kendalanya selama ini, asset wakaf sering diperlakukan sebatas dana atau aset titipan. Hal ini akan berdampak pada depresiasi nilai aset wakaf. Jika aset wakaf tunai hanya diperlakukan sebagai dana titipan dan tidak dikembangkan secara inovatif, maka akan rentan terhadap dampak penurunan nilai.

Sedangkan aset atau uang yang disimpan tetap dengan nominal yang sama, namun nilai rillnya akan tergerus akibat inflasi.

 
Sedangkan aset atau uang yang disimpan tetap dengan nominal yang sama, namun nilai rillnya akan tergerus akibat inflasi.
 
 

Untuk itu, perlu langkah reformatif menarik minat masyarakat agar masyarakat bersedia menyumbangkan hartanya untuk berbagai kepentingan publik. Pertama, meningkatkan kapasitas lembaga wakaf dalam merancang proyek EBT berbasis wakaf yang holistik dengan saling mendukung antara proyek komersial dan sosial.

Kedua, membangun ekosistem wakaf hijau nasional yang akan membangun kepercayaan masyarakat, meningkatkan kapasitas dan kompetensi nazhir mengelola wakaf untuk energi terbarukan, meningkatkan literasi dan pendidikan wakaf, serta menciptakan harmonisasi regulasi antar otoritas terkait. 

Jika lembaga wakaf dikelola dengan baik dan diorganisir secara efektif. Kepercayaanmasyarakat luas terhadap lembaga wakaf dapat menjadi titik awal bagi partisipasi umat Islam yang lebih besar dalam menyumbangkan hartanya untuk pembangunan masyarakat.

 
Integrasi antara sistem wakaf dan sistem energi nasional dapat berkontribusi secara signifikan pada tujuan akhir transisi energi agar dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.
 
 

Ketiga, membangun kesadaran kolektif transaksi wakaf lintas strata sosial dan meningkatkan penggunaan teknologi hijau dalam pengelolaan wakaf. Hal ini akan meningkatkan prevalensi tata kelola wakaf yang baik dalam mengelola aset wakaf untuk kepentingan transisi energi.

Keempat, mendorong diversifikasi objek wakaf EBT dengan skema yang sederhana, fleksibel, dan terjangkau agar dapat menciptakan untuk proyek-proyek EBT skala mikro yang bisa digunakan oleh masyarakat kelas menengah bawah.

Integrasi antara sistem wakaf dan sistem energi nasional dapat berkontribusi secara signifikan pada tujuan akhir transisi energi agar dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Mempercepat transisi menuju energi terbarukan yang terjangkau merupakan jawaban memperlambat laju inflasi energi.

Setiap wakaf panel surya yang dipasang, setiap wakaf pembangkit listrik tenaga air yang dibangun dan setiap wakaf turbin angin yang berputar membawa kita selangkah lebih dekat menuju kemandirian dan keadilan energi bagi masyarakat Indonesia.


Wajib Masker Dilonggarkan

Pelonggaran wajib masker menjadi bagian program transisi dari pandemi menuju endemi Covid-19.

SELENGKAPNYA

Warung Pangan BUMN Sediakan Minyak Goreng Rakyat 

Lutfi berharap program itu dapat memperbanyak ketersediaan minyak goreng curah.

SELENGKAPNYA

Gereja Kutuk Arogansi Polisi Israel 

Rekaman kamera menunjukkan pasukan Israel menyerbu gedung tempat jenazah Abu Akleh disemayamkan.

SELENGKAPNYA
×