KH Musikan, pendiri Ponpes Miftahul Ulum yang juga tokoh Nahdliyin dari Madura. | DOK NU

Mujadid

16 May 2022, 21:57 WIB

KH Musikan, Ulama Karismatik dari Madura

Menurut riwayat, beberapa kali Kiai Musikan selamat dari terjangan peluru musuh.

OLEH MUHYIDDIN

 

Islam menjadi bagian dari identitas Madura. Keislaman kelompok etnis itu tecermin, antara lain, melalui interaksi sosial, khususnya dengan kalangan alim ulama. Bagi masyarakat lokal, para kiai haruslah dicintai dan dihormati sepenuh hati.

Karena itu, ada cukup banyak ulama dari Pulau Garam—demikian julukannya—yang namanya legendaris dalam sejarah syiar Islam. Salah seorang di antaranya adalah KH Musikan. Mubaligh kelahiran Desa Bragung, Guluk-guluk, Sumenep, Madura, itu merupakan pendiri Pondok Pesantren Miftahul Ulum Glagahwero.

Lembaga pendidikan yang dirintisnya itu berlokasi di salah satu daerah Tapal Kuda, yakni Kabupaten Jember. Tapal Kuda merujuk pada kawasan luas yang terletak di ujung timur Pulau Jawa. Di sana, penduduknya begitu kental akan budaya Madura.

Seperti umumnya ulama besar Madura, Kiai Musikan berasal dari keluarga santri. Ayahnya adalah Abdul Hamid atau yang lebih dikenal dengan Kiai Judhi. Sementara itu, ibunya bernama Mulani atau Nyai Judhi.

Pada 1968, Kiai Musikan tuntas menunaikan ibadah haji. Sepulang dari Tanah Suci, dirinya berganti nama menjadi KH Ahmad Baihaqi. Bagaimanapun, kaum Muslimin Jember maupun Madura lebih sering memanggilnya dengan nama lama.

Belum banyak literatur yang mengulas tentang sosok Kiai Musikan. Bahkan, tanggal dan tahun lahirnya sampai sekarang belum berhasil dipastikan oleh para peneliti. Maklum, warga desa tempo dulu tidak terbiasa mencatat tanggal kelahiran anak-anak.

Salah satu akademisi yang meneliti sosok Kiai Musikan adalah Ahmad Badrus Solihin. Kepada Republika, dosen Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember itu bersedia membagi beberapa hasil penelitiannya. Menurut Cak Badrus—sapaan akrabnya—tokoh tersebut lahir sekitar tahun 1914 atau 1915.

Keterangan tarikh itu diperoleh berdasarkan kesaksian Mbah Duha. Salah seorang saudara sepupu Kiai Musikan itu diketahui menyatakan, sang pendiri Ponpes Miftahul Ulum Glagahwero lebih tua sekira enam atau tujuh tahun darinya. Adapun Mbah Duha mengaku dirinya seumuran dengan presiden kedua RI, Soeharto, yang lahir pada 1921.

 
Kiai Musikan sejak kecil sudah menunjukkan tanda-tanda kecerdasan. Wataknya memang keras, tetapi hatinya mudah tersentuh oleh kemalangan orang lain.
 
 

Cak Badrus menuturkan, Kiai Musikan sejak kecil sudah menunjukkan tanda-tanda kecerdasan. Wataknya memang keras, tetapi hatinya mudah tersentuh oleh kemalangan orang lain. Tidak mengherankan bila dirinya mudah menolong sesama.

“Pemberani, tetapi penuh kasih sayang. Cerdas, tetapi sulit diatur,” ujar peneliti UIN KHAS itu kepada Republika beberapa waktu lalu.

Ada sebuah kejadian unik yang dialami sang tokoh. Waktu itu, Musikan yang masih berusia balita sedang tidur bersama dua saudaranya, Sayuti dan Misbah. Sementara itu, Nyai Judhi sedang melaksanakan shalat tahajud.

Tiba-tiba, ibunda Kiai Musikan itu merasa ada sebuah benda yang bersinar terang jatuh di atas lencak atau amben di dekatnya. Meskipun demikian, Nyai Judhi tetap meneruskan shalatnya hingga selesai.

Setelah itu, terkejutlah sang ibu ketika menyaksikan, di atas pembaringan itu telah duduk sesosok makhluk berwarna hitam dan bertubuh besar. Yang lebih mengejutkannya, makhluk tersebut tampak menjilati sekujur tubuh Musikan kecil yang sedang berbaring.

Perempuan itu kemudian berpaling menuju suaminya. Kiai Judhi pun tidak mengerti makna pertanda aneh tersebut. Keduanya lantas memutuskan untuk berkunjung atau sowan ke tokoh setempat, Kiai Abdul Hamid bin Itsbat, di Banyuanyar, Pamekasan.

Singkat cerita, setelah mendengar kisah tersebut, Kiai Abdul Hamid menyampaikan nasihat. Kedua orang tua itu disarankannya untuk memasukkan Musikan ke pondok pesantren. Kalau tidak menjadi santri sejak dini, menurut ulama ini, besar kemungkinan Musikan akan tumbuh menjadi seorang yang jahat. Apabila mondok, insya Allah sang anak kelak menjadi alim yang membawa manfaat bagi umat.

Maka sesudah putra mereka mencapai usia remaja, keduanya menjalankan amanah dari Kiai Abdul Hamid. Mulanya, Musikan muda mondok sekitar tiga tahun di Pesantren Banyuajuh, Pamekasan, yang diasuh Kiai Manshur. Setelah itu, pemuda ini pindah ke Pondok Pesantren Banyuanyar yang dipimpin KH Abdul Hamid sendiri.

Di pesantren itulah, kemampuan Musikan dalam menyerap ilmu-ilmu agama kian terasah. Di sana, dirinya merupakan junior dari KH Zaini Mun’im, sosok yang di kemudian hari mendirikan Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Pada 1933, Kiai Abdul Hamid wafat di Makkah al-Mukarramah pada musim haji. Tidak lama kemudian, Musikan meneruskan perjalanan intelektualnya ke Pesantren Bata-Bata. Lembaga itu masih “saudara” dengan Pesantren Banyuanyar karena didirikan oleh seorang putra Kiai A Hamid, yaitu KH Abdul Majid.

Dalam periode ini, Musikan kian tekun dalam menimba ilmu-ilmu keislaman. Tempatnya belajar bukan hanya di Bata-Bata. Khususnya setiap bulan Ramadhan, dirinya mengadakan rihlah ke Pondok Pesantren Guluk-guluk, Sumenep, untuk berguru kepada KH Ilyas bin Syarqawi.

Langkah kakinya juga tiba ke Tattanguh, Sampang. Di daerah Madura tengah tersebut, dia mulai mempelajari tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah dari Kiai Jazuli. Atas saran gurunya itu, Musikan melanjutkan belajar kepada seorang mursyid dari Paterongan, Jombang, Jawa Timur, yakni Kiai Romli Tamim.

Menjelang tahun 1940-an, Musikan yang saat itu masih lajang hijrah ke Desa Glagahwero, Kalisat, Jember. Hal itu dilakukan untuk mengikuti pamannya, Kiai Basyiran. Di daerah Tapal Kuda itu, dirinya menemukan jodoh. Tak lama berselang, pernikahan pun berlangsung antara santri yang saleh itu dan Nafisah binti Zainuddin.

Pada tahun-tahun awal di Jember, Kiai Musikan aktif sebagai pengajar Alquran bagi masyarakat setempat. Di sela-sela kesibukannya, ia masih menyempatkan diri untuk tabaruk sebagai santri kalong ke Pondok Pesantren Sumber Wringin. Lembaga tersebut diasuh Kiai Syukri.

Beberapa lama kemudian, Kiai Musikan diajak bicara oleh paman sepupunya yang bernama Haji Idris. Dari pembicaraan itu, disepakatilah bahwa Haji Idris mewakafkan sebidang tanah yang dahulu pada zaman Kompeni adalah bekas pemandian umum. Area wakaf itu lantas diikhtiarkannya menjadi sebuah institusi pendidikan Islam tradisional. Itulah cikal bakal Pondok Pesantren Miftahul Ulum Glagahwero Kalisat Jember.

Ponpes itu berdiri dua tahun sejak kemerdekaan Republik Indonesia atau pada 1947. Masyarakat setempat juga menyebutnya sebagai Pondhuk Taman. Inilah salah satu pesantren yang masyhur khususnya di tengah komunitas Muslim Madura.

Turut berjuang

Sebelum mendirikan pesantren, Kiai Musikan turut berkontribusi dalam melawan kolonialisme Belanda maupun Jepang di Indonesia. Pada masa revolusi, dia bergabung dalam Laskar Sabilillah di bawah komando KH R As’ad Syamsul Arifin. Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafiiyah Sukorejo itu juga sangat berpengaruh di Laskar Hizbullah dan Barisan Pelopor.

Bersama Kiai As’ad dan para pejuang lainnya, Kiai Musikan turut ambil bagian dalam penumpasan serdadu Jepang di Desa Garahan, Kecamatan Silo, Jember. Dia ikut bergerilya di front-front terdepan. Daerah juangnya luas, mulai dari Sumberwringin, Kalisat, Sempolan, hingga Silo, yang menjadi markas serdadu Dai Nippon untuk wilayah Jember timur.

Berkat militansi para patriot Indonesia, akhirnya serdadu Jepang lari tunggang langgang. Musuh memilih segera pergi dari markas setelah diluluhlantakkan oleh para pejuang. Perjuangan Kiai As’ad, Kiai Musikan, dan lain-lain diabadikan dalam bentuk monumen di Lapangan Garahan.

 
Dia merasa khawatir bahwa keikhlasan perjuangan akan luntur oleh pamrih yang disimbolkan tanda jasa atau uang pensiunan.
 
 

Ahmad Badrus Solihin mengungkapkan, modal Kiai Musikan memang bukanlah semacam ilmu strategi dan taktik militer modern. Yang dipraktikkan sang kiai adalah ilmu pesantren Nusantara.

Kiai Musikan mengamalkan hampir semua hizib, seperti Hizbun Nashar dan Hizbul Bahar. Semua pejuang yang berada di bawah komando atau serekanannya kerap diberinya ijazah mengenai beberapa amalan dan doa keselamatan.

Menurut riwayat, beberapa kali Kiai Musikan selamat dari terjangan peluru musuh. Di antara anggota pasukan sang kiai yang paling terkenal adalah Pura. Pemuda asal Pakusari, Jember, ini gugur sebagai bunga bangsa saat masa Agresi Militer Belanda II.

Pada 1949, Belanda akhirnya mengakui kedaulatan RI. Masa perang berlalu. Kiai Musikan lebih berfokus pada dunia pendidikan, khususnya di pondok pesantren yang didirikannya.

Ahmad Badrus menyebutkan salah satu keteladanan yang dilakukan sang kiai. Ulama tersebut tidak bersedia didaftarkan sebagai veteran perang. Sebab, dia merasa khawatir bahwa keikhlasan perjuangan akan luntur oleh pamrih yang disimbolkan tanda jasa atau uang pensiunan.

Di luar dunia pesantren, Kiai Musikan juga berkiprah melalui organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Dalam jam’iyyah tersebut, dia turut menggerakkan pemberdayaan dan kedaulatan umat, termasuk dalam bidang politik. Dalam masa Orde Lama, NU pernah membentuk sebuah partai politik. Partai NU menjadi salah satu basis kekuatan antikomunis yang sangat diperhitungkan.

 

photo
ILUSTRASI Para santri Ponpes Miftahul Ulum Kalisat Jember, lembaga yang didirikan Kiai Musikan, melakukan salam takzim. - (DOK FACEBOOK PONPES MIFTAHUL ULUM)

Peran di Dua Masa

KH Musikan merupakan seorang tokoh besar dalam sejarah syiar Islam di Jawa Timur, khususnya Madura. Di daerah Tapal Kuda, tepatnya Kabupaten Jember, sang alim mendirikan sebuah pondok pesantren, yakni Miftahul Ulum Glagahwero. Hingga kini, institusi tersebut masih tegak berdiri dan mencetak generasi Muslimin yang unggul.

Akademisi Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Ahmad Badrus Solihin, mengatakan, KH Musikan dikenang tidak hanya melalui kiprah di dunia pendidikan. Sebab, keaktifannya juga meliputi ranah organisasi dan bahkan politik.

Pada masa Orde Lama, Kiai Musikan terlibat langsung dalam pemenangan Partai NU. Hasilnya, kendaraan politik warga Nahdliyin itu masuk jajaran empat besar usai Pemilu 1955. Meskipun kurang fasih berbahasa Indonesia, ia selalu tampil penuh percaya diri dan energik di atas podium.

Dengan dialek Madura yang khas, tutur Ahmad Badrus, putra Kiai Judhi itu menyampaikan pidato dengan lugas, terkadang ceplas-ceplos tanpa tedeng aling-aling.

Sasaran utama retorikanya kala itu adalah Partai Komunis Indonesia (PKI). Waktu itu, Lekra menjadi perpanjangan tangan kaum komunis dalam menyebar propaganda kiri di kalangan akar rumput. Sebagai tandingan, NU mengandalkan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi).

Kiai Musikan ikut andil dalam menyemarakkan berbagai kesenian islami melalui Lesbumi, semisal Hadrah, Macopat, dan Kentrung. Ia juga menghimpun anak-anak muda dalam seni beladiri pencak silat.

Orla runtuh, berdirilah Orde Baru. Di kedua masa itu, Kiai Musikan terus berkiprah. Pada periode 1979-1984, ia merupakan rais syuriah Pengurus Cabang NU Jember. Berdasarkan kesaksian KH Muzanni, salah seorang putra Kiai Musikan, pada masa itu tokoh tersebut sempat menolak konsep Asas Tunggal Pancasila yang digagas Soeharto. Khawatirnya, masa depan umat Islam termasuk NU akan terancam dengan gagasan itu.

Dalam Munas NU 1983, Kiai Musikan tidak hadir karena sakit. Dia diwakili seorang putranya, Kiai Rosyidi, dan menantunya, Kiai Sanusi.

Sepulang dari Munas NU, Kiai Rosyidi dan Kiai Sanusi melapor. Setelah mengetahui berbagai macam pandangan ulama-ulama yang hadir, Kiai Musikan bisa menerima keputusan Munas dengan lapang dada.

Beberapa pekan setelah itu, Kiai Musikan berpulang ke rahmatullah. Jenazahnya dimakamkan di Desa Glagahwero.


Antara Etika dan Ilmu

Banyak ulama menyampaikan untaian nasihat perihal pentingnya adab sebelum ilmu.

SELENGKAPNYA

Panggilan Hati Claudia Theresia untuk Berislam

Air mata saya berlinang. Apakah ini petunjuk dari Allah untuk menguatkan tekad saya berhijrah?

SELENGKAPNYA

Sarinah, Revolusi Fisik, dan Lebaran 1966

Toserba Sarinah merupakan obsesi Sukarno dalam revolusi fisik seusai revolusi kemerdekaan.

SELENGKAPNYA
×