Santri membaca kitab kuning di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (13/4/2022). Banyak ulama menyampaikan untaian nasihat perihal pentingnya adab sebelum ilmu. | ANTARA FOTO/Patrik Cahyo Lumintu

Kitab

16 May 2022, 04:27 WIB

Antara Etika dan Ilmu

Banyak ulama menyampaikan untaian nasihat perihal pentingnya adab sebelum ilmu.

OLEH MUHYIDDIN

 

 

Dalam Alquran dan hadis, ada banyak dalil mengenai keutamaan ilmu. Maknanya, Islam sangat memotivasi setiap Muslim untuk terus belajar. Seperti diibaratkan dalam sebuah pepatah, tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat. Maka sepanjang hidup seorang Mukmin seyogianya diisi dengan semangat memperoleh pengetahuan.

Nabi Muhammad SAW memberikan petunjuk tentang pengamalan menuntut ilmu. Pada saat yang sama, beliau juga mengajarkan pentingnya etika dalam kehidupan. Bahkan, adab itu diposisikannya lebih tinggi daripada sekadar motivasi belajar.

Karena itu, Rasulullah SAW mengajarkan sebuah doa, “Allaahumma ahdinii li-ahsanil a’maal, wa ahsanil akhlaaq, laa yahdii li-ahsanihaa illaa anta, wa qinii sayyi-il a’maal, wa sayyi-il akhlaaq, laa yaqii sayyi-ahaa illaa anta.”

Artinya, “Ya Allah, berilah petunjuk kepadaku untuk berbuat sebaik-baik amalan, sebaik-baik akhlak. Tiada yang bisa menunjuki untuk berbuat sebaik-baiknya kecuali Engkau. Lindungi kami dari jeleknya amalan dan jeleknya akhlak. Tiada yang bisa melindungi dari kejelekannya kecuali Engkau.”

Banyak ulama menyampaikan untaian nasihat perihal pentingnya adab sebelum ilmu. Di antara mereka adalah Imam Nawawi. Ulama besar yang bermazhab fikih Syafii itu menulis sebuah kitab, yakni Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim wa Adab al-Mufti wa al-Mustafti. Oleh Penerbit Diva Press, karya itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Adab di atas Ilmu (2021).

Sang imam lahir dengan nama Yahya bin Syaraf bin Muriy. Tanggal kelahirannya adalah Muharram tahun 631 Hijriyah. Desa Nawa, Syam, yang berjarak sekira 90 km dari Kota Damaskus, menjadi tempatnya pertama kali menghirup udara dunia. Karena itu, julukannya di kemudian hari adalah an-Nawawi.

Saat tumbuh dewasa, Yahya bin Syaraf atau Imam Nawawi sangat giat dalam menuntut ilmu-ilmu keislaman. Pada akhirnya, ia menjadi tokoh ulama yang sangat disegani.

Orang-orang menggelarinya sebagai Muhyiddin atau “sang penghidup agama". Penghormatan mereka tidaklah berlebihan. Sebab, sang alim mendedikasikan seluruh hidupnya untuk belajar, berkarya, dan menyebarkan ilmu-ilmu agama.

 
Penghormatan mereka tidaklah berlebihan. Sebab, Imam Nawawi mendedikasikan seluruh hidupnya untuk belajar, berkarya, dan menyebarkan ilmu-ilmu agama.
 
 

Seperti mayoritas ulama Syafii, dalam secara akidah Imam Nawawi mengikuti pandangan al-Asy’ariyah, yang digagas Imam Abu Hasan al-Asy’ari. Baik Syafii maupun al-Asy’ari sama-sama diakui luas dalam konteks Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Imam Nawawi merupakan seorang penulis yang prolifik. Produktivitasnya telah menghasilkan banyak karya, khususnya dalam disiplin ilmu fikih dan hadis. Ada puluhan buku yang ditulisnya. Sebagian sampai hingga masa kini sehingga menjadi pencerah bagi Muslimin era modern.

Salah satu karya ulama yang wafat pada 676 H itu adalah Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim. Edisi bahasa Indonesianya terdiri atas enam pembahasan. Pada bab pertama, sang penulis terlebih dahulu mengulas tentang berbagai ayat Alquran dan hadis yang mengisyaratkan keutamaan ilmu. Selain itu, sang syekh juga menjelaskan atsar salafus shalih tentang pokok persoalan yang sama.

Ada sangat banyak atsar atau perkataan para sahabat dan ulama salaf tentang fadilat ilmu. Imam Nawawi merangkum sebagian besar di antaranya dalam bukunya. Misalnya, petuah Ali bin Abi Thalib yakni, “Ilmu akan mendatangkan kemuliaan, sementara kebodohan akan mengakibatkan kehinaan.”

 
Imam Nawawi merupakan seorang penulis yang prolifik. Produktivitasnya telah menghasilkan banyak karya, khususnya dalam disiplin ilmu fikih dan hadis.
 
 

Tentang keutamaan ilmu dan segala hal yang melingkupinya, Imam Nawawi juga menukil perkataan Mui’adz. Ada beberapa motivasi keilmuan.

Pertama, mempelajari ilmu adalah bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Kedua, mencarinya adalah bentuk peribadahan. Kedua, mengingat-ingat kembali pelajaran adalah bentuk penyucian.

Keempat, mengkajinya adalah bentuk perjuangan. Kelima, mengajarkannya kepada Muslimin adalah bentuk kepedulian. Terakhir, mendiskusikannya dengan para ahli merupakan bentuk kekerabatan.

Pada bab pertama buku ini, Imam Nawawi membahas perbedaan antara ilmu dan ibadah mahdhah. Menukil pernyataan Ibnu Umar, dijelaskannya bahwa, “Suatu majelis ilmu jauh lebih baik daripada ibadah 60 tahun.”

Hal senada juga diungkapkan oleh Abdurrahman bin Auf. Sang sahabat Nabi SAW mengutip sebuah hadis, “Memahami suatu ilmu yang sederhana jauh lebih baik daripada memperbanyak ibadah.”

Pada bab kedua buku ini, Imam Nawawi mengungkapkan macam-macam ilmu. Menurut dia, ilmu terbagi dalam dua kategori, yakni pengetahuan mengenai syariat dan nonsyariat. Masing-masing lantas diklasifikasi lagi ke dalam beberapa pemilahan.

Mulai dari bab ketiga, Imam Nawawi menyoroti persoalan adab atau etika dalam proses belajar-mengajar. Pembahasan tentang akhlak dibaginya menjadi dua, yakni dalam konteks seorang guru (mualim) dan murid (santri). Menurut dia, seorang mualim hendaknya memantapkan niat semata-mata mencari ridha Allah Ta’ala. Dengan begitu tujuan pengajarannya akan senantiasa luhur.

 
Seorang guru pun harus senantiasa berperilaku baik. Artinya, segala tindak-tanduknya sesuai dengan nilai-nilai agama yang diajarkannya
 
 

Seorang guru pun harus senantiasa berperilaku baik. Artinya, segala tindak-tanduknya sesuai dengan nilai-nilai agama yang diajarkannya. Imam Nawawi berkata, seorang guru juga seyogianya hidup sederhana sehingga bisa menguasai diri agar tidak teperdaya duniawi.

Dalam buku ini, setidaknya Imam Nawawi mengungkapkan tujuh adab yang harus dimiliki seorang mualim. Di antaranya adalah, seorang alim hendaknya tidak malu untuk berkata jujur ketika dirinya ditanya tentang hal-hal yang belum diketahuinya. Dengan demikian, orang-orang yang menyandarkan keterangan darinya tidak akan tersesat.

Adapun adab seorang murid, jelas Imam Nawawi, antara lain, seperti dinyatakan Imam Malik. Menurutnya, “Seseorang tidak akan benar-benar dapat menguasai suatu ilmu sampai ia merasakan hidup dalam kesusahan.” Tentunya, akhlak seorang santri kepada kiai merupakan hal yang teramat penting.

Pada bab kelima, Imam Nawawi mengupas persoalan sejumlah etika dalam merawat hubungan antara guru dan murid. Umpamanya, kedua belah pihak tidak boleh melupakan tugas dan kewajiban masing-masing. Mualim maupun santri juga tidak diperkenankan untuk menanyakan hal-hal yang menyusahkan atau membuat bingung dengan tujuan semata-mata egoisme.

Sebab, menurut Imam Nawawi, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan tujuan-tujuan tersebut tidak layak untuk dijawab. Dalam sebuah hadis disebutkan, Rasulullah SAW melarang menanyakan masalah-masalah yang tidak ada manfaatnya.

Melalui karyanya ini, Imam Nawawi ingin menegaskan tentang pentingnya adab. Ia banyak mengajarkan tentang akhlak yang harus dimiliki oleh seorang pendidik maupun peserta didik. Apabila dasar adab telah kukuh, seorang alim dapat menjadi rujukan umat. Sebaliknya, sepintar apa pun seseorang, pengetahuannya tidak dapat dijadikan acuan dan tidak pula menghasilkan kebajikan selama dirinya kurang berakhlak karimah.

 
Sepintar apa pun seseorang, pengetahuannya tidak dapat dijadikan acuan dan tidak pula menghasilkan kebajikan selama dirinya kurang berakhlak karimah.
 
 

Imam Nawawi terus mengingatkan, adab merupakan fondasi agama. Dalam sebuah hadis, Nabi SAW menegaskan alasan diri beliau diutus oleh Allah Ta’ala adalah untuk memperbaiki adab yang baik pada umat manusia.

Adab sangat penting dalam Islam. Seorang syekh, Abdurrahman bin al-Qasim mempelajari masalah-masalah akhlak tidak kurang dari 18 tahun lamanya. Padahal, sang alim mempelajari ilmu-ilmu lainnya “hanya” dua tahun.

Ibnu al-Mubarak juga merelakan waktunya 30 tahun untuk mendalami masalah etika. Begitu pula ulama-ulama terdahulu lainnya. Dengan demikian, jelaslah bahwa mereka mendahulukan adab daripada ilmu.

Pada bab terakhir, sang imam memaparkan secara detail kaitan antara etika dan peranan sebagai mufti. Orang yang berfatwa adalah pewaris para nabi, seperti diungkapkan dalam sebuah hadis sahih.

 
Karya Imam Nawawi ini menjadi rujukan utama tentang pentingnya mendahulukan adab.
 
 

Karena itu, alim yang sudah sampai pada taraf demikian harus mampu menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah. “Seorang mufti merupakan wakil Allah SWT untuk menentukan hukum dalam setiap peristiwa,” tulis an-Nawawi.

Pada bagian ini, penulis juga menjelaskan syarat-syarat pemberi fatwa. Di antaranya adalah, seseorang harus memiliki syarat-syarat seperti perawi hadis. Penilaiannya mesti objektif terhadap apa-apa yang akan difatwakan. Tidak terpengaruh ikatan kekeluargaan atau sebab permusuhan.

Karya Imam Nawawi ini menjadi rujukan utama tentang pentingnya mendahulukan adab. Tidak hanya bagi para murid atau guru, tetapi siapapun juga. Buku ini sangat penting untuk dibaca setiap Muslim.

Terlebih lagi, pada masa sekarang marak terjadi pergeseran metode belajar-mengajar, yakni dari tatap muka menjadi virtual. Proses tersebut tentu tidak mengandaikan hilangnya adab. Inilah salah satu relevansi karya sang ulama dari abad ke-13 M.

photo
Buku ini merupakan terjemahan Adab al-Alim wa al-Mutaallim karya Imam Nawawi. - (DOK IST)

DATA BUKU

Judul: Adab di Atas Ilmu (terjemahan atas Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim)

Penulis: Imam Nawawi

Penerjemah: Hijrian A Prihantoro

Penerbit: Diva Press

Tebal: 200 halaman


Bolehkah Shalat Gaib yang Lokasi Jenazahnya Dekat?

Di antara syarat menshalati jenazah secara hadir adalah adalah harus berada di dalam satu tempat.

SELENGKAPNYA

Ibnu Hajar Sang Ulama Pengembara, Penulis Prolifik

Ibnu Hajar al-Asqalani memiliki kecintaan yang tinggi pada ilmu-ilmu agama.

SELENGKAPNYA

Biografi Ibnu Hajar al-Asqalani

Ibnu Hajar dipandang luas sebagai syekh-nya para ulama hadis dan fikih.

SELENGKAPNYA
×