Pekerja melakukan perawatan menara Byte Transfer System (BTS) milik Tower Bersama di Jakarta, Senin (7\11). Ekonomi Indonesia tumbuh 5,02 persen di kuartal III 2016, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) salah satu pendorong pertumbuhan dari pembelian pulsa | Tahta Aidilla/Republika

Inovasi

11 May 2022, 14:13 WIB

Menuntaskan Misi Wujudkan FMC

Menghadirkan layanan FMC memiliki banyak tantangan.

Kebutuhan akan konektivitas internet saat ini, makin tak bisa ditawar. Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, konektivitas haruslah selalu hadir, dimana pun, kapan pun, dan jangan sampai ada blank spot di antaranya.

Industri telekomunikasi pun menyadari ke depan tuntutan akan konektivitas yang lancar akan menjadi sebuah pekerjaan rumah besar. Strategi untuk menghadirkan fixed mobile convergence (FMC), kini mulai dihadirkan.

Masih di tahap awal, tapi FMC adalah strategi bisnis jangka panjang bagi para operator di Tanah Air. Group Head Corporate Communication XL Axiata Tri Wahyuningsih mengungkapkan, konsep Fixed Mobile Convergence (FMC) menurut XL adalah memadukan atau mensinergikan antara layanan internet atau data broadband berbasis mobile seluler dengan fixed line.

Tujuannya, adalah untuk memberikan kemudahan para pelanggan untuk mengakses layanan data dan konten layanan hiburan di mana pun berada. Baik pada saat melakukan aktivitas mobile atau ketika sedang berada di rumah.

Layanan ini pun mengedepankan terciptanya ekosistem digital yang fokus pada pengalaman pelanggan. Namun tetap efisien dari sisi penggunaan sumber daya.

“Layanan FMC ini tentunya dihadirkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan layanan data dan konten-konten hiburan yang bisa diakses dimanapun pelanggan berada. Selama berada dalam jangkauan layanan XL Axiata,” ujar wanita yang biasa disapa Ayu ini.

Menurutnya, manfaat bagi pelanggan dengan hadirnya layanan FMC adalah, kemudahan dan juga tersedianya layanan yang ‘value for money”.

Saat ini, layanan FMC yang telah dihadirkan XL, yakni XL Satu. Layanan ini, memungkinkan pelanggan, cukup dengan berlangganan satu layanan saja untuk langsung mendapatkan internet rumah dengan teknologi fiber yang cepat dan stabil, sekaligus kuota seluler besar yang bisa digunakan sekeluarga.

Ayu mengungkapkan, menghadirkan layanan FMC bukan merupakan pekerjaan mudah bagi para operator. XL Axiata, misalnya, masih memiliki tantangan dalam menghadirkan FMC karena posisi geografis Indonesia yang terdiri dari belasan ribu pulau.

Hal ini, tentu menjadi tantangan utama dalam menghadirkan layanan FMC ke berbagai kota dan kabupaten. “Untuk menggelar jaringan //fixed broadband// di Indonesia, dibutuhkan cost of investment yang cukup besar untuk membangun jaringan. Termasuk backbone dan kabel laut,” kata Ayu.

Selain itu, kebutuhan masyarakat juga cenderung berbeda di masing-masing daerah. “Menjadi suatu tantangan tersendiri bagi korporasi untuk menyediakan layanan sesuai dengan profil pelanggan yang begitu beragam,” ujarnya.

Tren Global

Kebutuhan yang tinggi akan konektivitas internet, tentu tak hanya terjadi di Indonesia. Terjadinya pandemi Covid-19 di seluruh dunia, juga makin membuat ketergantungan masyarakat global akan internet menjadi seragam.

Menurut pengamat telekomunikasi, Teguh Prasetya, beberapa perusahaan telekomunikasi di berbagai belahan dunia, kini juga sudah mulai meluaskan sayap bisnisnya. Dari yang sebelumnya hanya fokus pada berjualan konektivitas mobile kini juga menambah fixed broadband dalam portofolio perusahaannya.

“Kalau melihat analisis dari banyak studi yang ada di Asia Pasifik, Amerika Serikat (AS), dan Eropa, market FMC paling besar saat ini masih berada di Eropa. Pertumbuhannya pun cukup menjanjikan. Yaitu, dengan compound annual growth rate (CAGR) di atas 14 persen setahun,” ia menyampaikan.

Pertumbuhan ini, pun diperkirakan akan terus stabil hingga 2030. “Di Asia Pasifik tentunya yang paling besar marketnya masih di Cina. Baik itu digunakan untuk industri maupun untuk komersial,” jelas Teguh.

Menurut dia, penyedia solusi teknologi saat ini memang banyak. Mulai dari, penyedia perangkat seluler, penyedia jaringan untuk operator seluler, atau hingga penyedia IT.

FMC pun kini hadir sebagai tren, sekaligus strategi baru dalam memberikan layanan broadband. Tetapi, menghadirkannya juga bukan perkara mudah karena akan butuh anggaran besar.

Belum lagi, operator juga akan perlu memilah-milah mana yang diberikan layanan mobile dan mana yang fixed. Hal senada pun disampaikan oleh Ayu.

Menurutnya, FMC kini telah menjadi pilihan utama di berbagai negara yang penduduknya lebih mengutamakan kemudahan mengakses layanan internet dari mana saja.

Pertumbuhan Menjanjikan

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Telkomsel Orbit (@myorbitid)

Di Indonesia, layanan FMC telah dikenal beberapa tahun terakhir. “Peminat layanan konvergensi semakin meningkat di tengah perubahan pola konsumsi layanan data masyarakat. XL Satu dari XL Axiata hadir menjawab kebutuhan masyarakat tersebut,” ujar Group Head Corporate Communication XL Axiata Tri Wahyuningsih.

Pertumbuhan yang signifikan di layanan yang mengarah ke FMC juga terjadi di Orbit milik Telkomsel. Sejak diluncurkan Juli 2020 lalu, solusi layanan internet rumah Telkomsel Orbit telah mencatatkan peningkatan jumlah pengguna yang cukup signifikan, yakni hingga 10 kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

Head of Home LTE Project Telkomsel Arief Pradetya mengungkapkan, pencapaian sepanjang 2021 menunjukan komitmen dan fokus dalam mengembangkan Telkomsel Orbit agar terus berinovasi dengan mengedepankan prinsip customer-centricity dalam menyediakan pengalaman digital yang bernilai tambah.

Menurutnya, Telkomsel Orbit hadir dengan konsep internet rumah yang berbeda, yakni melalui fitur aktivasi instan, skema prabayar tanpa biaya langganan bulanan, kemudahan pengaturan melalui aplikasi mobile, serta bisa digunakan dimana saja dengan dukungan jaringan kualitas prima 4G/LTE Telkomsel yang telah menjangkau 96 persen wilayah populasi Indonesia.

Di 2022, ia melanjutkan, Telkomsel Orbit akan menghadirkan berbagai inisiatif baru agar dapat terus meningkatkan pengalaman pelanggan. “Beberapa inisiatif tersebut antara lain meluncurkan varian modem dengan paket data yang semakin terjangkau, ragam promo menarik seperti bundling Telkomsel Orbit 5G dengan Android TV Box, pengembangan opsi skema pascabayar, hingga produk kolaborasi dengan Telkom Indihome,” ujar Arief, dalam keterangan pers yang diterima Republika.

Dari segi bisnis, Arief menyampaikan, Telkomsel Orbit, juga akan semakin menempatkan diri sebagai ‘//new engine of growth//’ bagi perusahaan. Sehingga, diharapkan akan membuka lebih banyak lagi potensi kemajuan secara lebih inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat. N ed: setyanavidita livikacansera

Penunjang Efisiensi

Industri teknologi, terus menghadirkan berbagai dinamika baru. Mulai dari lahirnya berbagai jenis teknologi baru, hingga strategi bisnis yang juga makin bervariasi.

XL Axiata melihat prospek industri telekomunikasi akan semakin sehat di tahun ini. Untuk itu, perusahaan juga telah menyiapkan agenda ekspansi di tahun ini.

Group Head Corporate Communication XL Axiata Tri Wahyuningsih mengungkapkan, pada tahun ini, perseroan masih akan terus melakukan pembangunan dan perluasan infrastruktur jaringan khususnya di luar Jawa. “XL Axiata berkomitmen mendukung pemerintah dalam menyediakan pemerataan ketersediaan jaringan dan layanan telekomunikasi untuk mendukung aktivitas digital masyarakat, termasuk dengan mengembangkan teknologi terbaru 5G,” ujar Ayu.

Perusahaan juga akan fokus mengembangkan bisnis layanan konvergensi, baik layanan fixed broadband maupun layanan mobile broadband guna mewujudkan visi sebagai operator konvergensi nomor satu di Indonesia. Sejauh ini perusahaan telah menyediakan layanan XL Satu dan berencana akan memperluas cakupan layanan home entertainment XL Home.

Tak ketinggalan, ada pula aksi korporasi yang dilakukan untuk mendukung pertumbuhan inovasi IoT hingga AI di berbagai sektor, salah satunya melalui XL Axiata Business Solutions. Hingga saat ini, total pelanggan XL Home mencapai lebih dari 100 ribu pelanggan dan tersebar di 19 kota di Indonesia.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by XL Satu Fiber (@xlsatufiber)

 “Ketersediaan layanan FMC juga akan menjadi kebutuhan industri, dan mendorong semakin meningkatnya penggunaan IoT juga AI agar pengalaman pelanggan bisa semakin baik,” kata Ayu, sapaan akrabnya.

Senada, Teguh berpendapat FMC akan akan makin mendukung industri, 5G, IoT dan AI. Menurutnya, apabila jaringan tersedia dengan mudah, sebuah layanan teknologi akan semakin mudah diadopsi.

FMC, dia melanjutkan, dapat menurunkan cost perusahaan operator. Selain itu, koneksinya juga akan bisa lebih diandalkan, karena tidak hanya dapat digunakan untuk layanan broadband, tapi juga layanan untuk terkoneksi dengan banyak perangkat.

Misalnya, kalau bicara tentang 5G Rilis 16, jaringan tersebut mampu menghadirkan latensi rendah, koneksi banyak, dan realtime. “Tentunya akan mendukung juga layer ketiga, yakni platform. Baik itu platform perangkat, security, analytik sampai dengan ke aplikasi dan solusi yang bisa diimplementasikan,” ujarnya.

Terkait FMC di Indonesia tahun ini, Teguh mengatakan belum akan masif dikembangkan. Hal ini karena satu persatu operator baru mengumumkan.

“Biasanya kalau orang Indonesia tahapannya perlu dua hingga tiga tahun dulu untuk sampai mature. Tapi, dengan sudah dimulai, tentunya kita mengikuti tren global yang sudah dimulai sejak 2019,” katanya. Selain itu, Teguh menyebutkan FMC ini akan lebih banyak ke korporasi, tepatnya adopsi akan dimulai dari tingkat small medium enterprise (SME) hingga enterprise.

 

 


Cegah ‘Lebar’ Usai Lebaran

Makanan bersantan pada menu Lebaran biasanya dipanaskan berulang sehingga lemaknya bersifat jenuh.

SELENGKAPNYA

Zakat Ramadhan 1443 H Lampaui Target

Sebanyak 60 persen donatur zakat di Baznas berusia muda, yakni di bawah 25 tahun.  

SELENGKAPNYA

Bulog Tunggu Penugasan Distribusi Minyak Goreng

Kementerian BUMN gelar operasi pasar di Lampung.

SELENGKAPNYA
×