ILUSTRASI Seorang Bani Israil pada masa dahulu mendapatkan hikmah akibat komitmennya merawat orang tua. | DOK PIXNIO

Kisah

08 May 2022, 08:56 WIB

Berkah Mengurus Orang Tua

Islam mengajarkan umatnya untuk berbakti kepada kedua orang tua.

OLEH HASANUL RIZQA

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik” (QS al-Isra: 23).

Ayat Alquran tersebut dengan gamblang menunjukkan tuntunan akhlak islami yang dapat dilakukan seorang anak kepada ayah dan ibunya. Islam mengajarkan umatnya untuk berbakti kepada kedua orang tua.

Ketika keduanya telah tua, itulah momen pembuktian bakti seorang anak. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.”

Kemudian, para sahabat yang mendengarnya bertanya, “Siapakah yang engkau maksud, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup atau salah satu dari keduanya telah tua, tetapi justru hal itu tidak membawanya masuk surga.” (HR Muslim).

Pada zaman Bani Israil, hiduplah satu keluarga yang miskin. Mereka terdiri atas seorang ayah dengan empat orang anak. Bapak tersebut sudah berusia renta dan kepayahan menjalani hari-hari. Hanya satu dari keempat putranya yang bersedia merawatnya. Sebut saja anak itu bernama Abdullah.

“Kalian tidak mau merawat ayah karena tidak akan mendapatkan warisan sepeninggalannya nanti. Biarlah aku yang merawatnya,” ujar Abdullah.

Maka setiap hari anak tersebut melayani bapaknya. Dengan lembut dan santun, ia mengurus segala keperluan sang ayah. Hingga akhirnya, ayahnya itu wafat tanpa meninggalkan warisan harta sedikit pun.

Abdullah kemudian memandikan, menshalatkan, serta menguburkan jenazah bapaknya. Sesudah itu, ia pun kembali ke rumahnya.

Pada malam hari, Abdullah bermimpi didatangi seseorang yang berpenampilan miskin, tetapi berlagak sombong. Orang aneh itu berkata kepadanya, “Datanglah ke tempat ini, lalu galilah tanah di sana. Niscaya akan engkau temukan uang 100 dinar. Ambil saja!”

 
Datanglah ke tempat ini, lalu galilah tanah di sana. Niscaya akan engkau temukan uang 100 dinar. Ambil saja!
 
 

“Apakah ada keberkahan dari uang tersebut?” tanya Abdullah.

“Tidak!” jawab si pria sebelum melesat pergi.

Keesokan paginya, Abdullah menuturkan mimpinya itu kepada istrinya. Perempuan tersebut menyarankannya untuk pergi ke tempat yang dimaksud. Kalau benar ada uang 100 dinar di sana, ambil lalu belanjakan untuk keperluan sehari-hari. Namun, Abdullah enggan melakukannya.

Ternyata, mimpi yang sama terus dialaminya selama beberapa malam. Setiap pagi pula, sang istri memintanya untuk pergi ke tempat yang ditunjukkan dalam mimpi, lalu mengambil uang yang ada di sana.

Abdullah tetap tak bergeming. Pada malam keempat, ia mengalami mimpi yang agak berbeda. Sebab, pria aneh yang mendatanginya kali ini berkata, “Ambil uang satu dinar dari sana!”

“Apakah ada keberkahan di dalamnya?” tanya Abdullah.

“Ya, ada!” seru si lelaki sebelum menghilang dari pandangan.

Pada pagi hari, Abdullah mendatangi lokasi yang dimaksud, sesuai petunjuk pria misterius dalam mimpinya semalam. Benar saja, ada tumpukan uang di dalam tanah. Namun, ia hanya mengambil satu dinar.

Dalam perjalanan pulang, Abdullah berpapasan dengan seorang nelayan penjual ikan. Ia pun membeli dua ikan seharga satu dinar darinya.

Begitu sampai ke rumah, sang istri menerima ikan-ikan yang dibeli Abdullah. Lantas, betapa terkejutnya! Sebab, di dalam perut kedua ikan itu terdapat intan yang sangat indah.

“Kalau raja tahu, intan ini pasti akan dibelinya dengan harga berapapun,” gumam Abdullah.

 
Tak menunggu waktu lama, orang-orang mengetahui berita tentang batu mulia yang ditemukan Abdullah dalam perut ikan.
 
 

Tak menunggu waktu lama, orang-orang mengetahui berita tentang batu mulia yang ditemukan Abdullah dalam perut ikan. Dari istana, raja datang ke rumahnya karena tertarik untuk melihat.

Raja berkata, “ Berapa harga intan ini?”

“Emas sebobot tidak kurang dari 30 angkutan kuda,” jawab Abdullah.

Tanpa tawar-menawar lagi, penguasa tersebut bersedia membayar. Tidak lama kemudian, datanglah rombongan pengawal dari istana. Sebanyak 30 angkutan kuda mengangkut emas untuk membayar intan milik Abdullah.

Keesokan hari, seorang prajurit mengetuk rumah Abdullah. Ternyata, sang raja merasa bahwa intan yang sudah dibelinya akan lebih indah kalau memiliki pasangan. Maka intan yang ada dalam perut ikan milik Abdullah kemudian dibeli raja tersebut.

“Apakah kamu mempunyai intan pasangannya? Kalau ada, intan itu akan kami beli dengan harga yang berlipat-lipat,” ujar si utusan istana.

Abdullah bersedia menjualnya. Maka kini, hartanya yang sudah banyak itu bertambah lagi. Demikianlah keberkahan yang dirasakannya setelah menunjukkan bakti kepada orang tua yang menjelang akhir usia.


Pekerja pada Era Metaverse

Digunakannya teknologi metaverse jika tidak dilembagakan dan diatur dalam peraturan perundangan, berpotensi menciptakan ketidakadilan bagi pekerja.

SELENGKAPNYA

Distopia atau Utopia

Sepertinya, ramalan masa depan pada dunia fiksi, lebih banyak menggambarkan kehancuran daripada kesejahteraan umat manusia.

SELENGKAPNYA

Puluhan Juta Ton Biji-bijian Tertahan di Ukraina

Menurut Guterres, perang di Ukraina memberi tekanan lebih besar kepada negara berkembang.

SELENGKAPNYA
×