Sejumlah ambulans terparkir di Gedung Instalasi Gawat Darurat RSCM, Jakarta, Jumat (4/2/2022). Tiga anak meninggal dengan dugaan penyakit hepatitis misterius di rumah sakit tersebut. | Republika/Putra M. Akbar

Kabar Utama

06 May 2022, 03:50 WIB

Tiga Pasien Meninggal tak Punya Riwayat Hepatitis

Didorong upaya masif pelacakan hepatitis akut bergejala berat di setiap daerah.

JAKARTA — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Dinas Kesehatan DKI Jakarta melakukan investigasi kontak untuk mengetahui faktor risiko atas tiga kasus pasien anak meninggal dunia yang diduga akibat hepatitis akut. Berdasarkan hasil investigasi, ketiga pasien itu datang ke rumah sakit dalam kondisi stadium lanjut dan tidak memiliki riwayat hepatitis.

Penelusuran atas kasus serupa juga terus dilakukan. Menurut Juru Bicara Kemenkes Siti Nadia Tarmizi, saat ini ada sekitar 3-4 anak yang sedang dirawat yang diduga juga mengidap penyakit hepatitis akut. “Tapi ini masih dalam verifikasi,” kata Nadia dalam pesan singkat kepada Republika, Kamis (5/5).

Adapun terkait tiga kasus meninggal dunia, Nadia dalam konferensi pers menjelaskan, ketiga pasien anak itu datang dalam kondisi stadium lanjut. Oleh karena itu, tenaga kesehatan hanya memiliki sedikit waktu untuk melakukan tindakan pertolongan. 

Pada ketiga kasus ini, kata Nadia, satu pasien meninggal dunia merupakan anak berusia dua tahun dan belum mendapatkan vaksinasi hepatitis. Kemudian, pasien berusia delapan tahun baru mendapatkan vaksinasi satu kali dan pasien meninggal ketiga yang berusia 11 tahun sudah mendapatkan vaksinasi. 

Nadia menegaskan, ketiga anak tersebut dipastikan negatif Covid-19 berdasarkan hasil pemeriksaan. Selain itu, hasil investigasi juga didapati bahwa satu kasus memiliki penyakit penyerta.

Sampai saat ini, ujar Nadia, ketiga kasus tersebut belum bisa digolongkan sebagai penyakit hepatitis akut dengan gejala berat. “Tetapi masuk pada kriteria pending klasifikasi karena masih ada pemeriksaan laboratorium, terutama pemeriksaan adenovirus dan pemeriksaan Hepatitis E yang membutuhkan waktu antara 10 sampai 14 hari,” kata Nadia dalam konferensi pers, Kamis (5/5).

Nadia menambahkan, dari ketiga pasien tidak ditemukan riwayat penyakit bawaan hepatitis dari keluarga.  Penyakit hepatitis akut ini juga bukan disebabkan hepatitis A, B, C, E dan banyak menyerang anak-anak di bawah 16 tahun dan lebih banyak lagi di bawah lima tahun. 

"Dari ketiga anak tersebut tidak ada yang memiliki riwayat dengan gejala penyakit yang sama," katanya.

Keluhan utama yang dialami pasien sebelum di bawa ke rumah sakit berasal dari saluran cerna, seperti mual, muntah dan diare yang hebat. Ketiga pasien anak itu dilaporkan meninggal di RSUPN Dr Ciptomangunkusumo Jakarta dalam kurun waktu yang berbeda dengan rentang dua pekan terakhir hingga 30 April 2022. Ketiga pasien ini merupakan rujukan dari rumah sakit yang berada di Jakarta Timur dan Jakarta Barat.

photo
Suasana Gedung Instalasi Gawat Darurat RSCM di Jakarta, Jumat (4/2/2022). Tiga anak meninggal dengan dugaan penyakit hepatitis misterius di rumah sakit tersebut. - (Republika/Putra M. Akbar)

Lead Scientist untuk kasus Hepatitis Akut yang Belum Diketahui Penyebabnya pada Anak, Hanifah Oswari, mengungkapkan, ada beberapa gejala awal Hepatitis Akut yang kini jadi sorotan dunia tersebut. Berdasarkan laporan, gejala awal dimulai dengan masalah saluran pencernaan seperti diare, mual, muntah, sakit perut, kadang disertai demam ringan.

Gejala selanjutnya akan mengarah ke Hepatitis, yakni mengeluarkan buang air kecil seperti teh. Serta, buang air besar yang berwarna kuning pucat, mata dan kulitnya pun menjadi berwarna kuning. 

"Gejala awal saluran cerna, harus waspada. Sudah harus memikirkan mengarah ke hepatitis berat. Bawa anak ke fasilitas agar tahu tindakan lebih lanjut," kata Hanifah dalam konferensi pers, kemarin.

Hanifah yang merupakan dokter spesialis anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan 

para orang tua untuk tidak menganggap remeh penyakit ini. Karena, banyak kasus kematian terjadi saat pasien terlambat dibawa ke rumah sakit atau sudah dalam keadaan mata kulit menguning maupun kondisi berat seperti kehilangan kesadaran. 

Ia juga menekankan perlu adanya kerja sama antara pelayanan kesehatan dokter puskesmas untuk bisa menemukan gejala dini dan lebih cepat lagi dalam memberikan pertolongan. 

“Jangan menunggu sampai muncul gejala kuning, jangan menunggu gejalanya lebih berat, karena kalau lebih berat kita kehilangan momentum untuk bisa menolong lebih cepat. Apalagi kalau sampai terjadi penurunan kesadaran ini akan membuat dokter hanya ada kesempatan menolongnya menjadi lebih sedikit lagi.“

Hanifah dalam kesempatan tersebut mengungkapkan adanya laporan dugaan penambahan kasus hepatitis akut misterius dari Jakarta serta daerah lain. Namun, hingga kini , laporan tersebut masih diselidiki lebih lanjut.

“Hal ini masih dalam investigasi apa masuk kriteria hepatitis akut atau bukan,” kata Hanifah.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah meningkatkan kewaspadaan dalam dua pekan terakhir setelah Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB) pada kasus hepatitis akut yang menyerang anak-anak di Eropa, Amerika dan Asia.

Kewaspadaan semakin ditingkatkan meningkat setelah tiga pasien anak yang dirawat di RSUPN Dr Ciptomangunkusumo Jakarta dengan dugaan hepatisis akut yang belum diketahui penyebabnya meninggal dunia. 

photo
Personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mendistribusikan air bersih di lokasi penyebaran Hepatitis A, Sumbersari, Jember, Jawa Timur, Sabtu (28/12/2019). Dinas Kesehatan Kabupaten Jember dan BPBD setempat melakukan sosialisasi atas penetapan kondisi Kejadian Luar Biasa (KLB) Hepatitis A saat itu. - (ANTARA FOTO)

Sebagai upaya peningkatan kewaspadaan, pencegahan, dan pengendalian infeksi hepatitis akut pada anak, Kemenkes telah menerapkan beberapa hal, di antaranya dengan mengeluarkan Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/2515/2022 tentang Kewaspadaan terhadap Penemuan Kasus Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya. 

Selain itu, Kemenkes telah menunjuk Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr Sulianti Saroso dan Laboratorium Fakultas Kedokteran UI sebagai laboratorium rujukan untuk pemeriksaan spesimen. Pemerintah juga meminta seluruh tenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan untuk menerapkan pencegahan dan pengendalian infeksi, khususnya untuk infeksi virus. Selain itu, diharapkan ada rumah sakit rujukan di setiap Kabupaten.

Sejak secara resmi dipublikasikan sebagai KLB oleh WHO, jumlah laporan atas kasus hepatitis akut pada anak terus bertambah, tercatat lebih dari 170 kasus dilaporkan oleh lebih dari 12 negara. WHO pertama kali menerima laporan pada 5 April 2022 dari Inggris Raya mengenai 10 kasus Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya pada anak-anak usia 11 bulan-5 tahun pada periode Januari hingga Maret 2022 di Skotlandia Tengah.

Kisaran kasus terjadi pada anak usia 1 bulan sampai dengan 16 tahun. Tujuh belas anak di antaranya (10 persen) memerlukan transplantasi hati, dan satu kasus dilaporkan meninggal.

Anggota Komisi IX DPR dari Fraksi PDIP Rahmad Handoyo meminta pemerintah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk mengantisipasi ancaman penyakit hepatitis misterius. Ia juga mendorong agar Litbangkes yang saat ini berada di bawah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk terus melakukan penelitian guna mengetahui proses pengobatannya, serta bagaimana proses pengendaliannya. 

Hal yang tak kalah penting adalah menggencarkan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. “Kalau edukasi, sosialisasi sudah menjadi bagian keseharian kita apapun penyakitnya kita bisa meminimalkan. Untuk  itu saya kira itu yang harus diperhatikan," ujarnya.

Ia menyarankan agar masyarakat tidak panik. Namun, masyarakat harus terus mematuhi imbauan pemerintah.

"Kita enggak perlu panik, enggak perlu ketakutan, meskipun WHO sudah mengklasifikasikan sebagai sebuah kejadian luar biasa, tidak perlu panik, namun demikian perlu kita lakukan dengan kewaspadaan, kehati-hatian," ucapnya.

Rumah sakit umum di sejumlah daerah sudah menyiapkan langkah untuk mengantisipasi penyakit hepatitis akut.  Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bandung Kiwari menyatakan, ada tim dokter yang telah ditunjuk untuk melakukan penanganan terhadap pasien hepatitis akut. 

Kendati demikian, ia menegaskan, hingga saat ini belum ada pasien dengan penyakit hepatitis akut. “Sampai saat ini belum ada (pasien)," ujar kata Direktur Utama RSUD Bandung Kiwari, Taat Tagore saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Kamis (5/5). 

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung mengimbau masyarakat untuk mewaspadai penyakit hepatitis akut yang ditemukan di Jakarta. Sejauh ini, belum ada kasus hepatitis akut di Kota Bandung.

 
Rumah sakit umum di sejumlah daerah sudah menyiapkan langkah untuk mengantisipasi penyakit hepatitis akut. 
 
 

Kepala Dinkes Kota Bandung Ahyani Raksanagara menjelaskan, hepatitis merupakan infeksi pada organ hati. Pihaknya telah mengimbau seluruh puskesmas dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan serta melakukan upaya pencegahan. "Kota Bandung belum ada (kasus)," ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (5/5).

Ia menuturkan, pencegahan dapat dilakukan oleh masyarakat agar terhindar dari penyakit tersebut. Beberapa langkah pencegahan, antara lain, dengan di antaranya memastikan makanan dalam keadaaan matang dan bersih, tidak memakai alat makan bersamaan, dan rajin mencuci tangan. Selain itu menghindari kontak dengan orang yang sedang sakit. 

"Bila ada gejala segera ke fasilitas kesehatan," katanya. Ia mengatakan pencegahan merupakan hal utama yang harus dilakukan masyarakat.  

Pelacakan

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy, mendorong upaya masif pelacakan hepatitis akut bergejala berat di setiap daerah. Hal ini penting dilakukan untuk memastikan seberapa jauh penyebaran kasus atas penyakit ini. 

"Kita tidak ada jeleknya kalau lebih ofensif. Jadi, tidak menunggu, tapi proaktif melakukan penyisiran agak besar-besaran di setiap daerah untuk memastikan bahwa hepatitis akut belum menyebar ke mana-mana," kata Muhadjir Effendy saat menyampaikan keterangan pers secara virtual, Kamis (5/5).

Muhadjir mengatakan, upaya pelacakan kasus di setiap daerah diharapkan, bisa memberi peluang bagi otoritas terkait ataupun tenaga medis dalam upaya pencegahan dini penyakit. Muhadjir mengatakan, informasi terkait penyakit misterius itu mulai ramai diperbincangkan masyarakat, bahkan tidak sedikit oknum yang memanfaatkan situasi itu dengan menyebarkan berita bohong melalui kanal media sosial.

"Saya menangkap di media sosial mulai seliweran berita-berita hoaks dikaitkan dengan vaksinasi untuk anak. Kalau tidak segera ditangani, bisa jadi kontra produktif," katanya.

Muhadjir percaya bahwa Kementerian Kesehatan telah sigap mengambil upaya preventif ataupun kuratif terhadap gejala hepatitis akut tersebut. Ia menegaskan, hepatitis akut bergejala berat ini sudah menjadi persoalan global karena sudah terjadi di beberapa negara.

Mantan menteri pendidikan dan kebudayaan itu mengatakan, temuan kasus hepatitis akut berat di Inggris, Amerika Serikat, Singapura, dan sejumlah negara lainnya karena didukung dengan instrumen yang sangat canggih dalam mendeteksi penyakit baru. “Artinya, bukan berarti kalau negara maju mengumumkan ada penyakit ini, melainkan kalau negara berkembang belum membuat pernyataan, berarti tidak ada di sana," katanya.

Dinas Kesehatan di daerah sudah bergerak untuk melakukan pelacakan kasus hepatitis akut. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Erwin Astha Triyono mengatakan, berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Jawa Timur, ada sebanyak 114 kasus suspek hepatitis akut usia umum dan tersebar di 18 daerah. Artinya, bukan hanya pasien di bawah 16 tahun yang terserang hepatitis.

"Pekan ke-14 hingga pekan ke-17 (tahun 2022) cenderung mengalami kenaikan," ujar Erwin dalam siaran tertulisnya, Kamis (5/5). 

Erwin menjelaskan, untuk menekan penyebaran hepatitis akut, Dinkes Jatim  melakukan koordinasi dengan kabupaten/kota dan jejaring Dinkes, rumah sakit, hingga puskesmas. Erwin juga mengaku, terus membangun dan memperkuat jejaring kerja surveilans dengan lintas program dan lintas sektor. 

"Dinkes Jatim juga terus melakukan promosi kesehatan melalui media, agar masyarakat dapat memahami gejala hepatitis akut tersebut," ujarnya. 

Dinkes Jatim juga diakuinya terus memantau dan melaporkan kasus suspek hepatitis akut di SKDR. Gejala hepatitis biasanya ditandai dengan kulit dan sklera berwarna ikterik atau kuning, dan urine berwarna gelap yang timbul secara mendadak. Erwin juga mengimbau kepada seluruh fasilitas pelayanan kesehatan di wilayahnya untuk siap dan sigap. 

 
Ia mengingatkan warga untuk segera ke fasilitas kesehatan bila menemukan gejala itu pada anak. 
 
 

"Segera melaporkan ke Dirjen P2P Kemenkes RI melalui Dinkes Jatim jika menemukan kasus sesuai dengan gejala hepatitis akut, yang tidak diketahui penyebabnya untuk dilakukan penyelidikan epidemiologi lebih lanjut," kata dia.

Erwin mengatakan, gejala klinis yang ditemukan pada pasien hepatitis akut yang tidak diketahui penyebabnya ini, antara lain peningkatan enzim hati, sindrom hepatitis akut, dan gejala gastrointestinal, seperti nyeri abdomen, diare, dan muntah-muntah. Sebagian besar kasus tidak ditemukan adanya gejala demam. 

"Jika masyarakat menemui gejala tersebut pada anak, segera periksakan ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat agar segera bisa dilakukan observasi dan tindakan," ujarnya.

Dinas Kesehatan Kota Batam, Kepulauan Riau, menyatakan telah menginstruksikan seluruh fasilitas kesehatan untuk segera melapor melalui SKDR apabila menemukan kasus hepatitis akut bergejala berat di masyarakat.

"Sampai hari ini belum ada (laporan yang masuk)," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi, kemarin. 

Didi mengatakan, penyebab hepatitis akut bergejala berat belum diketahui hingga kini. Dampak dari gejala hepatitis akut tersebut, seperti diare mendadak, kejang, penurunan kesadaran, hingga penyakit kuning dan muntah-muntah.

Ia mengingatkan warga untuk segera ke fasilitas kesehatan bila menemukan gejala itu pada anak. “Segera ke rumah sakit atau ke puskesmas bila menemukan gejala-gejala tersebut," ucap Didi.

Pihaknya juga sudah menyebarkan surat edaran (SE) apabila menemukan gejala ini, agar segera melaporkan kepada Dinkes. Selanjutnya, Dinkes akan melaporkan kepada Kementerian Kesehatan.

"Secepat kilat harus kita lanjutkan ke pemerintah provinsi dan pusat agar kita tahu langkah-langkahnya seperti apa," kata Didi. 

Sumber : antara


Pemudik Terbantu Pelabuhan Panjang

Banyak warga yang tidak tahu Pelabuhan Panjang sebagai alternatif penyeberangan.

SELENGKAPNYA

WHO: Ada Dua Subvarian Baru Omikron

Menteri Luar Negeri AS dinyatakan positif Covid-19 dengan gejala ringan.

SELENGKAPNYA
×